SEJARAH PENDIDIKAN ISLAM DI INDONESIA
Indikator Utama Profil Pelajar Pancasila dalam Desain Pembelajaran Berbasis STEAM
Guru dan dosen memiliki peran yang sama dalam membangun
pendidikan di suatu negara. Tugas mulia yang harus diemban seorang dosen dan
guru adalah menyampaikan ilmu pengetahuan, membimbing siswa dan membuat role
play dalam menanamkan nilai moral dan norma agama ke pada siswa atau
mahasiwa. Kewajiban mencerdaskan anak didik secara spiritual, social dan
intelektual(Tristyarini and Maaerani, 2022)
Salah satu tugas guru atau dosen yaitu mengajarkan,
membimbing dan mendidik siswa atau mahasiswa membentuk Profil Pelajar Pancasila
dengan indikator internal dan eksternal. Namun dalam proses pengajaran pasti
memiliki hambatan atau kendala untuk mencapai tujuan. Hal terpenting dalam
mengembangkan Profil Pelajar Pancasila yakni tidak mengabaikan karakter diri
pribadi. Pada Peraturan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan (Kemendikbud) Nomor
22 Tahun 2020 menerangkan tentang Profil Pelajar Pancasila sebagai perwujudan peserta didik di
Indonesia, yang bertujuan agar mampu berkompetisi dalam dunia global dan
menerapkan perilaku sesuai nilai Pancasila. Profil Pelajar Pancasila
bercirikan: 1) beriman dan bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa dan berakhlak mulia,
2) berkebinekaan global, 3) bergotong royong, 4) mandiri, 5) bernalar kritis,
6) kreatif(Direktorat Sekolah Dasar and Direktorat Jendral PIAUD Dikdas dan Dikmen,
2022).
Dalam
mendukung dunia pendidikan berkualitas, Kemendikbud menetapkan tujuan yang
dicapai di tahun 2020 sampai dengan 2024 yaitu 4 (empat) proses utama
kementerian, terdiri dari pemerataan akses pendidikan, peningkatan mutu dan
relevansi pendidikan, perlindungan, pengembangan, pembinaan bahsa dan sastra
serta pelestarian dan kemajuan budaya. Pada setiap proses utama memiliki penguatan karakter bagi
peserta didik(Kemendikbud, 2020).
Pendidikan
bertujuan untuk mewujudkan manusia berkarakter, mulia dan manusiawi.Pelaksanaan
dan pengembangan pendidikan berkarakter seharusnya dapat dilakukan dalam
kegiatan belajar dan mengajar.Salah satu mendidik, mengasuh dan mengasah
anak-anak yang merupakan kader bangsa dengan mengajarkan Pancasila dan
Pendidikan Kewarganegaraan berikut menurunkan dalam bentuk berbagai indikator
dan instrument secara riil di kelas dan di lapangan.Penerus bangsa ini tidak
hanya mempelajari beragam teori dalam mata pelajaran tersebut, tetapi
implementasi dan aplikasi dalam kehidupan sehari-hari sehingga tercapainya
tujuan pendidikan sesungguhnya.Dalam bahasan materi berikut, penulis terfokus
pada Kebinekaan Global, Gotong Royong dan Mandiri.
1. Kebinekaan Global
Bhinneka Tunggal Ika merupakan identitas negara dan
bangsa Indonesia.Kalimat tersebut sebagai motto pemersatu nusantara dan diambil
dari filsafat nusantara.Adanya kesepakatan mengenai trilogi kebangsaan yakni
satu nusa, satu bangsa dan satu bahasa, yang kemudian dinamai dengan Sumpah
pemuda pada tanggal 28 bulan Oktober tahun 1928. Beragam agama, suku, budaya
dan bahasa tidak menjadikan perbedaan mencolok di antara bangsa Indonesia,
namun mengikat ikrar yang tulus sehingga menumbuhkan kesadaran kebangsaan dalam kemerdekaan
Indonesia raya.Namun, sejatinya kemajemukan, keragaman dan perbedaan juga menimbulkan
berbagai problem atau permasalahan dalam kehidupan masyarakat Indonesia(Naupal, 2014).
Konsepsi
bernegara tidak hanya membahas pada seputar bidang politik, pemerintahan,
tetapi juga tentang identitas budaya bangsa.Semboyan “Bhinneka Tunggal Ika”
yang berarti berbeda-beda tetap satu menjadi isu sentral dan selalu berkembang.Hal
ini memacu bangsa Indonesia berdaulat untuk mengakui keragaman dalam satu frame.
Pola interaksi bangsa dalam negara Indonesia bergandengan tangan menuju keselarasan dan sinkronisasi dengan segala keberagaman masyarakat. Kolaborasi
unsur-unsur keberagaman dalam masyarakat Indonesia merupakan proses pembentukan
kebinekaan(Sunandar, Tomi and
Lamazi, 2021).
Dalam
pendidikan kewarnageraan memuat nilai-nilai kebaikan sehingga dapat mewujudkan
warga negara yang baik sesuai Undang-Undang Dasar Republik Indonesia 1945.
Penelitian Ihsan dan Ayuk Hidayah pada tahun 2019 menerangkan tentang pengaruh
pendidikan kewarganegaraan yang cukup
besar terhadap negara-negara penganut paham demokrasi konstitusional.
Penelitian ini menemukan data berkenaan dengan studi kompirasi pelajaran PKN
dan PMP terhadap nilai kebinekaan. Pada pelajaran Pancasila dan pendidikan
kewarganegaraan menunjukkan menurunnya moralitas remaja, tingginya individualisme anak dan lebih mementingkan
kelompok pergaaulan yang kontra dengan nilai serta norma berlaku di masyarakat
dari pada pelajaran PMP(Aimas and Sorong,
2019). Pada
penelitian Galih dan Dwitya, tahun 2021, menjelaskan cara mengintegrasikan
keteladanan karakter pangera Diponegoro ke dalam kurikulum di Sekolah Dasar.
Hasil penelitian menemukan bahwa karakter pangeran Diponegoro berhubungan
relevan dengan profil pelajar Pancasila, yakni kebinekaan global, gotong
royong, mandiri, kreatif, bernalar kritis, berakhlak mulia, beriman dan
bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa. Pelaksanaan integrase nilai karakter
pangeran Diponegoro dalam kurikulum dapat dilakukan dengan cara perencanaan,
pelaksanaan, evaluasi dan berimplikasi pada sekolah, guru, orang tua dan siswa(Nilai et al., 2021).
Setiap
pelajar Indonesia harus memelihara dan mempertahankan budaya luhur, lokalitas,
identitas diri dan selalu berpikiran terbuka dalam berinteraksi antar budaya
atau dengan budaya lain sehingga timbul rasa saling menghargai dan terciptanya
budaya luhur yang positif serta tidak bertentangan dengan budaya luhur bangsa
Indonesia. Pengenalan, saling menghargai budaya, mampu berkomunikasi satu sama
lain dan bertanggung jawab terhadap pengalaman kebinekaan merupakan elemen dan
kunci kebinekaan global(Stiawan, 2021).
Berikut
penulis memaparkan kompetensi dasar, indikator dan tujuan pembelajaran dari
kebinekaan global:
|
Kompetensi Dasar |
Indikator |
Tujuan pembelajaran |
|
1. Menerapkan nilai-nilai kebersamaan dalam keberagaman
|
1. Membuat kelompok antar teman yang berlainan agama
dan suku. 2. Berinteraksiantar teman yang berlainan agama, suku
dan ras secara rutin 3. Saling mengunjungi teman yang sakit dan sedang
mendapat musibah. 4. Saling membantu terutama pada saat sulit atau kondisi kesusahan. |
1. Mahasiswa membuat 5
kelompok, dimana setiap
kelompok terdiri dari teman-teman yang berlainan agama, suku dan ras. 2. Mahasiswa selalu berinteraksi dan berkomunikasi
intensif antar teman 3. Mahasiswa melakukan kunjungan setiap teman yang sakit atau sedang
menghadapi musibah. 4. Mahasiswa saling membantu teman yang sedang sulit
atau kesusahan. |
|
2. Memberikan laporan atas sikap kebinekaan |
1. Menyajikan laporan kunjungan antar teman secara periodik
dan berkala. 2. Memberikan masukan dan tanggapan tentang isi dan
materi laporan. |
1. Mahasiswa membuat
laporan kunjungan antar teman secara berkala dan periodik. 2. Mahasiswa memberikan masukan dan tanggapan mengenai
isi dan materi laporan. |
2.
Gotong Royong
Kemampuan
bergotong royong telah lama terasah dalam diri pelajar Indonesia.Gotong royong
merupakan kegiatan yang dilakukan bersama-sama dan bersifat sukarela dengan
tujuan untuk memperlancar, meringankan, mempermudah pekerjaan. Kepedulian,
kolaborasi dan berbagi adalah elemen dan konsep dari gotong royong(Ismail, Suhana and
Zakiah, 2021).
Profil
pelajar Pancasila memiliki elemen kunci dengan indikator gotong royong yaitu
melakukan kolaborasi atau kerjasama antar pelajar, kerjasama dalam
bidang-bidang positif dalam konteks saling membantu, saling menolong sesama
manusia, memiliki kepedulian yang
merupakan sikap penting untuk menggerakkan perilaku gotong royong. Sikap mulia
terakhir adalah saling berbagi untuk dapat mewujudkan indikator gotong royong(Rusnaini et al., 2021).
Budaya gotong royong telah berakar sebagai warisan budaya
leluhur dan tumbuh serta berkembang di kehidupan sosial masyarakat
Indonesia.Hasil positif yang dihasilkan dari bentuk kerja sama ini diharapkan
mampu mencapai musyawarah dan mufakat secara bersama-sama. Timbulnya rasa dan
sifat gotong royong karena dorongan kesadaran serta semangat dalam mengerjakan
suatu karya nyata untuk kepentingan bersama.Didalam mengerjakan dan berbagi hasil
karya seharusnya mendapatkan porsi atau bagian yang sesuai sumbangsih dalam
gotong royong tersebut. Jiwa gotong royong harus mengesampingkan sifat egois
atau mementingkan diri sendiri atau suatu kelompok(Effendi, 2016).
Dalam disertasi Agustinus Wisnu Dewantara (2016)
menemukan secara analitis makna objektif dari nilai gotong royong Soekarno dalam
perspektif Aksiologi Max Scheler dan merefleksikannya dalam penghayatan
nasionalisme di Indonesia.Dalam penelitian ini menjelaskan gotong royong
sebagai nilai khas Indonesia dan Soekarno merangkumPancasila dalam satu nilai
gotong royong yang disebut Ekasila.Pembahasan tema penelitian ini sebagai acuan
dalam menghadapi krisis gotong royong di setiap bidang. Pada kondiis saat ini,
nilai gotong royong sebagai intisari Pancasila menemukan tantangan cukup besar(Dewantara, 2016).
Gagasan gotong royong di Indoensia telah menjadi dasar
wacana politik tentang sifat otoritas, karakteristik masyarakat desa dan
legitimasi tuntutan tenaga kerja oleh negara. Pada artikel John R. Bowen
(2011) menelusuri perubahan ideology
politik dan hubungan negara-desa yang telah dimediasi oleh gotong royong dan
menunjukkan makna gandanya telah menjadi pusat peran semantik, politik dan
ekonomi(Bowen, 2011).
Kompetensi dasar, indikator dan tujuan pembelajaran dari
gotong royong disajikan sebagai berikut:
|
Kompetensi Dasar |
Indikator |
Tujuan pembelajaran |
|
1. Menerapkan nilai-nilai gotong royong. |
1. Mengelompokkan sasaran, tujuan dan kegiatan gotong royong. 2. Menentukan
jumlahkelompok gotong . 3. Menentukan batas waktu dan target penyelesaian
gotong royong. 4. Membuat sketsa tempat atau daerah sasaran gotong royong untuk setiap anggota grup. 5. Membagi tugas antar anggota grup secara adil dan
proporsional. 6. Saling bahu membahu dalam menyelesaikan kegiatan
gotong royong |
1. Mahasiswa memetakan sasaran,
tujuan dan kegiatan gotong royong berkala atau per periodik. 2. Mahasiswa menentukan jumlah grup gotong royong
minimal 10 kelompok.. 3. Mahasiswa menentukan batas waktu dan target
penyelesaian gotong royong. 4. Mahasiswa membuat sketsa tempat atau daerah sasaran
dimulainya gotong royong untuk setiap anggota grup. 5. Mahasiswa membagi tugas antar anggota grup secara
adil dan proporsional. 6. Mahasiswa saling bahu membahu menyelesaikan kegiatan
gotong royong. |
1. Mandiri
Salah satu
ciri pelajar Pancasila adalah bersigfat mandiri. Pelajar mandiri adalah pelajar
yang bertanggung jawab atas proses dan hasil belajarnya. Kesadaran diri
terhadap situasi yang dihadapi dan regulasi diri merupakan elemen kunci dari
karakter mandiri(Ismail, Suhana and
Zakiah, 2021).
Peningkatan
kualitas diri dengan bersikap dan berperilaku mandiri seharusnya dilakukan oleh
setiap pelajar di Indonesia. Belajar mandiri bukan berarti belajar secara
sendiri, tetapi berinisiatif dengan atau tanpa bantuan orang lain dalam belajar
atau bertindak. Mahasiswa mandiri harus memiliki prinsip belajar mandiri dan
harus mampu mengetahui serta menentukan waktu memerlukan bantuan atau dukungan
phak lain. Jenis dukungan dapat berupa aktifitas memotivasi untuk belajar dan
berkegiatan lainnya. Pelajar dan mahasiswa mandiri harus mampu mengidentifikasikan
berbagai sumber informasi agar dapat memperlancar semua proses belajar(Mahasiswa UT, 2021).
Gambaran
umum agar pelajar dan mahasiswa dapat bersikap dan berperilaku mandiri, penulis memaparkan beberapa
kompetensi dasar, indikator dan tujuan pembelajaran sebagai berikut:
|
Kompetensi Dasar |
Indikator |
Tujuan Pembelajaran |
|
1. Menerapkan sikap dan perilaku mandiri. . |
1. Membuat kelompok aktifitas mandiri. 2. Menentukan waktu dan bahasan aktifitas mandiri. 3. Menetapkan tempat kegiatan mandiri. |
1. Mahasiswa membuat aktifitas mandiri rutin berkala
minimal 1 bulan sekali. 2. Mahasiswa menentukan waktu dan bahasan aktifitas
mandirii minimal 2 jam per setiap pertemuan. 3. Mahasiswa menetapkan tempatkegiatan mandiri secara
bergiliran per bulan |
Pancasila merupakan gagasan yang tidak lekang oleh
waktu.Setiap gagasan harus diiringi dengan action dan implementasi riil.Secara
keseluruhan bahwa pelajar Pancasila harus memiliki karakter kuat dan dapat mengimplementasikan
profil pelajar Pancasila, antara lain berkebinekaan global, gotong royong dan
mandiri sehingga mampu meningkatkan kualitas diri dan mewujudkan manusia Indonesia
yang ideal. Manusia Indonesia yang ideal dan berkarakter kuat harus mampu
mempraktekkan profil Pancasila dalam kehidupan sehari-hari dan menghadapi
perkembangan zaman.Negara Indonesia membutuhkan berbagai gagasan dan ide
cemerlang untuk menjawab tantangan zaman yang selalu mengalami perubahan setiap
waktu.
Berikut penulis memaparkan instrument dengan beberapa variable , turunan
indikator dan kategori penilaian.
a. Kebinekaan
Global
|
Variabel |
Turunan Indikator |
Kategori |
|
Manfaat
Adanya Kebinekaan Global. . |
Membuat kelompok : 1. Arisan 2. Pos Ronda 3. Pos Yandu 4. Kelompok PKK 5. Kelompok Sosial Keagamaan |
5 = Sangat Setuju 4 = Setuju 3 = Netral 2 = Tidak Setuju 1 = Sangat Tidak Setuju |
|
Meningkatkan
Kebinekaan Global |
Kebersamaan dalam
kegiatan: 1. Saling menghormati ritual ibadah agama lain. 2. Saling membantu
dalam kegiatan dan kehidupan sehari-hari 3. Saling menghargai kehidupan bertetangga dan
bermasyarakat 4. Saling mendukung kegiatan bersama untuk kepentingan
banyak orang. 5. Saling berpegang prinsip keagamaan. |
5 = Sangat Setuju 4 = Setuju 3 = Netral 2 = Tidak Setuju 1 = Sangat Tidak Setuju |
b. Gotong Royong
|
Variabel |
Turunan Indikator |
Kategori |
|
Manfaat
Adanya Gotong Royong. . |
Mengelompokkan warga: 1. Membersihkan parit lingkungan 2. Membersihkan dan merapikan rumah peribadatan 3. Membersihkan lingkungan rumah masing-masing 4. Membantu warga atau teman yang mendapat musibah
kematian 5. Memenuhi undangan dan acara hajatan teman dan
tetangga |
5 = Sangat Setuju 4 = Setuju 3 = Netral 2 = Tidak Setuju 1 = Sangat Tidak Setuju |
|
Meningkatkan Rasa Gotong Royong |
Kebersamaan dalam
kegiatan: 1. Menghadiri tepat waktu undangan kegiatan gotong
royong. 2. Saling membantu dalam kegiatan gotong royong. 3. Menuntaskan pekerjaan yang menjadi bagian kegiatan
gotong royong. |
5 = Sangat Setuju 4 = Setuju 3 = Netral 2 = Tidak Setuju 1 = Sangat Tidak Setuju |
|
Variabel |
Turunan Indikator |
Kategori |
|
Manfaat
Sikap dan perilaku Mandiri. . |
Membuat kegiatan mandiri
di kelas: 1. Kelompok belajar mandiri 2. Kelompok sosial keagamaan 3. Kelompok keamanan dan ketertiban. |
5 = Sangat Setuju 4 = Setuju 3 = Netral 2 = Tidak Setuju 1 = Sangat Tidak Setuju |
|
Meningkatkan Sikap dan Perilaku Mandiri. |
Tanpa bantuan orang lain
dalam kegiatan: 1. 1. Mengerjakan dan tugas dan pekerjaan dengan penuh
ikhtiar. 2. 2. Berkreatifitas di lingkungan 3. 3. Berinovasi setiap ada kegiatan 4. 4. Tidak banyak mengeluh 5. 5.
Menuntaskan tugas dan pekerjaan tepat waktu, disiplin dan
bertanggung jawab. |
5 = Sangat Setuju 4 = Setuju 3 = Netral 2 = Tidak Setuju 1 = Sangat Tidak Setuju |
Nice
BalasHapus