SEJARAH PENDIDIKAN ISLAM DI INDONESIA

Gambar
A. Sejarah Pendidikan Islam di Indonesia Masuknya Islam ke Indonesia membawa tradisi pendidikan yang erat kaitannya dengan dakwah. Pada awalnya, pendidikan dilakukan secara sederhana di surau, masjid, atau rumah para ulama. Materi pembelajaran berfokus pada dasar-dasar agama, seperti membaca Al-Qur’an, tata cara ibadah, serta pembinaan akhlak. Seiring perkembangan zaman, lahirlah lembaga pendidikan tradisional yaitu pesantren. Pesantren berfungsi sebagai pusat keilmuan Islam sekaligus benteng moral masyarakat. Para santri dididik dengan kitab kuning (turats), mencakup ilmu fiqih, akidah, tasawuf, dan ilmu alat seperti nahwu dan sharaf. Al-Zarnuji dalam Ta‘lim al-Muta‘allim menekankan pentingnya sanad dalam pendidikan: العِلْمُ دِينٌ يُدَانُ بِهِ، فَيَنْبَغِي لِطَالِبِ العِلْمِ أَنْ يَنْظُرَ عَمَّنْ يَأْخُذُ دِينَهُ “Ilmu adalah bagian dari agama yang dengannya manusia beragama. Maka seorang penuntut ilmu harus memperhatikan dari siapa ia mengambil ilmunya.” Tradisi pesantren membuktika...

Indikator Utama Profil Pelajar Pancasila dalam Desain Pembelajaran Berbasis STEAM

 

Indikator Utama Profil Pelajar Pancasila dalam Desain Pembelajaran Berbasis STEAM

Pembangunan nasional dalam bidang pendidikan merupakan salah satu upaya mencerdaskan kehidupan bangsa dan dapat meningkatkan kualitas manusia Indonesia yang beriman, bertakwa, berakhlak mulia dan menguasai ilmu pengetahuan dan teknologi sehingga mampu mewujudkan masyarakat adil, makmur, beradab berlandaskan nilai-nilai Pancasila dan Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia 1945(Deputi Menteri Sekretaris Negara Bidang Perundang-Undangan, 2005). Nilai-nilai Pancasila yang telah lama terpatri dalam negara dan bangsa Indonesia  merupakan sumber dasar hukum yang menjunjung tinggi ketentuan dan peraturan yang berlaku di Indonesia.Keterlibatan guru dan dosen dalam menerapkan nilai Pancasila sangat berperan penting.

         Guru dan dosen memiliki peran yang sama dalam membangun pendidikan di suatu negara. Tugas mulia yang harus diemban seorang dosen dan guru adalah menyampaikan ilmu pengetahuan, membimbing siswa dan membuat role play dalam menanamkan nilai moral dan norma agama ke pada siswa atau mahasiwa. Kewajiban mencerdaskan anak didik secara spiritual, social dan intelektual(Tristyarini and Maaerani, 2022)

         Salah satu tugas guru atau dosen yaitu mengajarkan, membimbing dan mendidik siswa atau mahasiswa membentuk Profil Pelajar Pancasila dengan indikator internal dan eksternal. Namun dalam proses pengajaran pasti memiliki hambatan atau kendala untuk mencapai tujuan. Hal terpenting dalam mengembangkan Profil Pelajar Pancasila yakni tidak mengabaikan karakter diri pribadi. Pada Peraturan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan (Kemendikbud) Nomor 22 Tahun 2020 menerangkan tentang Profil Pelajar Pancasila  sebagai perwujudan peserta didik di Indonesia, yang bertujuan agar mampu berkompetisi dalam dunia global dan menerapkan perilaku sesuai nilai Pancasila. Profil Pelajar Pancasila bercirikan: 1) beriman dan bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa dan berakhlak mulia, 2) berkebinekaan global, 3) bergotong royong, 4) mandiri, 5) bernalar kritis, 6) kreatif(Direktorat Sekolah Dasar and Direktorat Jendral PIAUD Dikdas dan Dikmen, 2022).

            Profil pelajar Pancasila yang akan dibahas penulis berikut ini adalah mengenai Kebinekaan Global. Gotong Royong dan Mandiri dengan cara menurunkan dalam bentuk beberapa indikator Dalam menurunkan elemen kunci dari profil pelajar Pancasila sehingga dapat terukur ketercapaiannya.
 

OK kita Bahas lebuh lanjuuuuuut!!!!!!!
Dunia pendidikan Indonesia selalu berupaya untuk memperbaiki kualitas pendidikan dengan cara mewujudkan berbagai ide dan gagasan yang penuh kreatifitas dan berinovasi tinggi. Pendidikan berkarakter merupakan salah satu usaha mendidik generasi penerus bangsa agar mampu mengambil keputusan yang tepat dan benar dalam kehidupan bermasyarakat dan bernegara. Dalam realitanya, dunia pendidikan mampu menelorkan lulusan dan alumni yang memiliki nilai indeks prestasi tinggi, cerdas, smart atau dalam IQ (Intellectual Quetient) yang sangat memuaskan, namun kurang memiliki kecerdasan mental atau EQ (Emotional Quetient)(Ismail, Suhana and Zakiah, 2021).

      Dalam mendukung dunia pendidikan berkualitas, Kemendikbud menetapkan tujuan yang dicapai di tahun 2020 sampai dengan 2024 yaitu 4 (empat) proses utama kementerian, terdiri dari pemerataan akses pendidikan, peningkatan mutu dan relevansi pendidikan, perlindungan, pengembangan, pembinaan bahsa dan sastra serta pelestarian dan kemajuan budaya. Pada setiap proses  utama memiliki penguatan karakter bagi peserta didik(Kemendikbud, 2020).

   Pendidikan bertujuan untuk mewujudkan manusia berkarakter, mulia dan manusiawi.Pelaksanaan dan pengembangan pendidikan berkarakter seharusnya dapat dilakukan dalam kegiatan belajar dan mengajar.Salah satu mendidik, mengasuh dan mengasah anak-anak yang merupakan kader bangsa dengan mengajarkan Pancasila dan Pendidikan Kewarganegaraan berikut menurunkan dalam bentuk berbagai indikator dan instrument secara riil di kelas dan di lapangan.Penerus bangsa ini tidak hanya mempelajari beragam teori dalam mata pelajaran tersebut, tetapi implementasi dan aplikasi dalam kehidupan sehari-hari sehingga tercapainya tujuan pendidikan sesungguhnya.Dalam bahasan materi berikut, penulis terfokus pada Kebinekaan Global, Gotong Royong dan Mandiri.

1.     Kebinekaan Global

      Bhinneka Tunggal Ika merupakan identitas negara dan bangsa Indonesia.Kalimat tersebut sebagai motto pemersatu nusantara dan diambil dari filsafat nusantara.Adanya kesepakatan mengenai trilogi kebangsaan yakni satu nusa, satu bangsa dan satu bahasa, yang kemudian dinamai dengan Sumpah pemuda pada tanggal 28 bulan Oktober tahun 1928. Beragam agama, suku, budaya dan bahasa tidak menjadikan perbedaan mencolok di antara bangsa Indonesia, namun mengikat ikrar yang tulus sehingga menumbuhkan  kesadaran kebangsaan dalam kemerdekaan Indonesia raya.Namun, sejatinya kemajemukan, keragaman dan perbedaan juga menimbulkan berbagai problem atau permasalahan dalam kehidupan masyarakat Indonesia(Naupal, 2014).

      Konsepsi bernegara tidak hanya membahas pada seputar bidang politik, pemerintahan, tetapi juga tentang identitas budaya bangsa.Semboyan “Bhinneka Tunggal Ika” yang berarti berbeda-beda tetap satu menjadi isu sentral dan selalu berkembang.Hal ini memacu bangsa Indonesia berdaulat untuk mengakui keragaman dalam satu frame. Pola interaksi bangsa dalam negara Indonesia bergandengan tangan menuju  keselarasan dan sinkronisasi  dengan segala keberagaman masyarakat. Kolaborasi unsur-unsur keberagaman dalam masyarakat Indonesia merupakan proses pembentukan kebinekaan(Sunandar, Tomi and Lamazi, 2021).

      Dalam pendidikan kewarnageraan memuat nilai-nilai kebaikan sehingga dapat mewujudkan warga negara yang baik sesuai Undang-Undang Dasar Republik Indonesia 1945. Penelitian Ihsan dan Ayuk Hidayah pada tahun 2019 menerangkan tentang pengaruh pendidikan kewarganegaraan yang cukup  besar terhadap negara-negara penganut paham demokrasi konstitusional. Penelitian ini menemukan data berkenaan dengan studi kompirasi pelajaran PKN dan PMP terhadap nilai kebinekaan. Pada pelajaran Pancasila dan pendidikan kewarganegaraan menunjukkan menurunnya moralitas remaja, tingginya  individualisme anak dan lebih mementingkan kelompok pergaaulan yang kontra dengan nilai serta norma berlaku di masyarakat dari pada pelajaran PMP(Aimas and Sorong, 2019).  Pada penelitian Galih dan Dwitya, tahun 2021, menjelaskan cara mengintegrasikan keteladanan karakter pangera Diponegoro ke dalam kurikulum di Sekolah Dasar. Hasil penelitian menemukan bahwa karakter pangeran Diponegoro berhubungan relevan dengan profil pelajar Pancasila, yakni kebinekaan global, gotong royong, mandiri, kreatif, bernalar kritis, berakhlak mulia, beriman dan bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa. Pelaksanaan integrase nilai karakter pangeran Diponegoro dalam kurikulum dapat dilakukan dengan cara perencanaan, pelaksanaan, evaluasi dan berimplikasi pada sekolah, guru, orang tua dan siswa(Nilai et al., 2021).

      Setiap pelajar Indonesia harus memelihara dan mempertahankan budaya luhur, lokalitas, identitas diri dan selalu berpikiran terbuka dalam berinteraksi antar budaya atau dengan budaya lain sehingga timbul rasa saling menghargai dan terciptanya budaya luhur yang positif serta tidak bertentangan dengan budaya luhur bangsa Indonesia. Pengenalan, saling menghargai budaya, mampu berkomunikasi satu sama lain dan bertanggung jawab terhadap pengalaman kebinekaan merupakan elemen dan kunci kebinekaan global(Stiawan, 2021).

      Berikut penulis memaparkan kompetensi dasar, indikator dan tujuan pembelajaran dari kebinekaan global:

 

 

Kompetensi Dasar

Indikator

Tujuan pembelajaran

1.    Menerapkan nilai-nilai kebersamaan dalam keberagaman

1.    Membuat kelompok antar teman yang berlainan agama dan suku.

 

2.    Berinteraksiantar teman yang berlainan agama, suku dan ras secara rutin

3.    Saling mengunjungi teman yang sakit dan sedang mendapat musibah.

 

4.    Saling membantu terutama  pada saat sulit atau kondisi kesusahan.

1.    Mahasiswa membuat 5 kelompok, dimana setiap kelompok terdiri dari teman-teman yang berlainan agama, suku dan ras.

2.    Mahasiswa selalu berinteraksi dan berkomunikasi intensif antar teman

 

3.    Mahasiswa melakukan kunjungan  setiap teman yang sakit atau sedang menghadapi musibah.

4.    Mahasiswa saling membantu teman yang sedang sulit atau kesusahan.

2.   Memberikan laporan atas sikap kebinekaan

1.   Menyajikan laporan kunjungan antar teman secara periodik dan berkala.

2.   Memberikan masukan dan tanggapan tentang isi dan materi laporan.

 

1.    Mahasiswa membuat laporan kunjungan antar teman secara berkala dan periodik.

 

2.    Mahasiswa memberikan masukan dan tanggapan mengenai isi dan materi laporan.

 

 

2.     Gotong Royong

      Kemampuan bergotong royong telah lama terasah dalam diri pelajar Indonesia.Gotong royong merupakan kegiatan yang dilakukan bersama-sama dan bersifat sukarela dengan tujuan untuk memperlancar, meringankan, mempermudah pekerjaan. Kepedulian, kolaborasi dan berbagi adalah elemen dan konsep dari gotong royong(Ismail, Suhana and Zakiah, 2021).

      Profil pelajar Pancasila memiliki elemen kunci dengan indikator gotong royong yaitu melakukan kolaborasi atau kerjasama antar pelajar, kerjasama dalam bidang-bidang positif dalam konteks saling membantu, saling menolong sesama manusia, memiliki kepedulian  yang merupakan sikap penting untuk menggerakkan perilaku gotong royong. Sikap mulia terakhir adalah saling berbagi untuk dapat mewujudkan indikator  gotong royong(Rusnaini et al., 2021).

            Budaya gotong royong telah berakar sebagai warisan budaya leluhur dan tumbuh serta berkembang di kehidupan sosial masyarakat Indonesia.Hasil positif yang dihasilkan dari bentuk kerja sama ini diharapkan mampu mencapai musyawarah dan mufakat secara bersama-sama. Timbulnya rasa dan sifat gotong royong karena dorongan kesadaran serta semangat dalam mengerjakan suatu karya nyata untuk kepentingan bersama.Didalam mengerjakan dan berbagi hasil karya seharusnya mendapatkan porsi atau bagian yang sesuai sumbangsih dalam gotong royong tersebut. Jiwa gotong royong harus mengesampingkan sifat egois atau mementingkan diri sendiri atau suatu kelompok(Effendi, 2016).

            Dalam disertasi Agustinus Wisnu Dewantara (2016) menemukan secara analitis makna objektif dari nilai gotong royong Soekarno dalam perspektif Aksiologi Max Scheler dan merefleksikannya dalam penghayatan nasionalisme di Indonesia.Dalam penelitian ini menjelaskan gotong royong sebagai nilai khas Indonesia dan Soekarno merangkumPancasila dalam satu nilai gotong royong yang disebut Ekasila.Pembahasan tema penelitian ini sebagai acuan dalam menghadapi krisis gotong royong di setiap bidang. Pada kondiis saat ini, nilai gotong royong sebagai intisari Pancasila menemukan tantangan cukup besar(Dewantara, 2016). 

            Gagasan gotong royong di Indoensia telah menjadi dasar wacana politik tentang sifat otoritas, karakteristik masyarakat desa dan legitimasi tuntutan tenaga kerja oleh negara. Pada artikel John R. Bowen (2011)  menelusuri perubahan ideology politik dan hubungan negara-desa yang telah dimediasi oleh gotong royong dan menunjukkan makna gandanya telah menjadi pusat peran semantik, politik dan ekonomi(Bowen, 2011).

            Kompetensi dasar, indikator dan tujuan pembelajaran dari gotong royong disajikan sebagai berikut:

Kompetensi Dasar

Indikator

Tujuan pembelajaran

1.    Menerapkan nilai-nilai gotong royong.

1.   Mengelompokkan sasaran, tujuan dan kegiatan    gotong royong.

 

2.   Menentukan  jumlahkelompok gotong .

 

 

3.   Menentukan batas waktu dan target penyelesaian gotong royong.

 

4.   Membuat sketsa tempat atau daerah sasaran  gotong royong untuk setiap anggota grup.

5.   Membagi tugas antar anggota grup secara adil dan proporsional.

 

6.   Saling bahu membahu dalam menyelesaikan kegiatan gotong royong

 

1. Mahasiswa memetakan sasaran, tujuan dan kegiatan gotong royong berkala atau per periodik.

2. Mahasiswa menentukan jumlah grup gotong royong minimal 10 kelompok..

3. Mahasiswa menentukan batas waktu dan target penyelesaian gotong royong.

4.    Mahasiswa membuat sketsa tempat atau daerah sasaran dimulainya gotong royong untuk setiap anggota grup.

 

5.    Mahasiswa membagi tugas antar anggota grup secara adil dan proporsional.

 

6.    Mahasiswa saling bahu membahu menyelesaikan kegiatan gotong royong.

 

1.      Mandiri

      Salah satu ciri pelajar Pancasila adalah bersigfat mandiri. Pelajar mandiri adalah pelajar yang bertanggung jawab atas proses dan hasil belajarnya. Kesadaran diri terhadap situasi yang dihadapi dan regulasi diri merupakan elemen kunci dari karakter mandiri(Ismail, Suhana and Zakiah, 2021).                

      Peningkatan kualitas diri dengan bersikap dan berperilaku mandiri seharusnya dilakukan oleh setiap pelajar di Indonesia. Belajar mandiri bukan berarti belajar secara sendiri, tetapi berinisiatif dengan atau tanpa bantuan orang lain dalam belajar atau bertindak. Mahasiswa mandiri harus memiliki prinsip belajar mandiri dan harus mampu mengetahui serta menentukan waktu memerlukan bantuan atau dukungan phak lain. Jenis dukungan dapat berupa aktifitas memotivasi untuk belajar dan berkegiatan lainnya. Pelajar dan mahasiswa mandiri harus mampu mengidentifikasikan berbagai sumber informasi agar dapat memperlancar semua proses belajar(Mahasiswa UT, 2021).

      Gambaran umum agar pelajar dan mahasiswa dapat bersikap dan berperilaku  mandiri, penulis memaparkan beberapa kompetensi dasar, indikator dan tujuan pembelajaran sebagai berikut:

Kompetensi Dasar

Indikator

Tujuan Pembelajaran

1.   Menerapkan sikap dan perilaku mandiri.

.

1.   Membuat kelompok aktifitas mandiri.

 

2.   Menentukan waktu dan bahasan aktifitas mandiri.

 

 

3.   Menetapkan tempat kegiatan mandiri.

 

1.   Mahasiswa membuat aktifitas mandiri rutin berkala minimal 1 bulan sekali.

2.   Mahasiswa menentukan waktu dan bahasan aktifitas mandirii minimal 2 jam per setiap pertemuan.

 

3.   Mahasiswa menetapkan tempatkegiatan mandiri secara bergiliran per bulan

            Pancasila merupakan gagasan yang tidak lekang oleh waktu.Setiap gagasan harus diiringi dengan action dan implementasi riil.Secara keseluruhan bahwa pelajar Pancasila harus memiliki karakter kuat dan dapat mengimplementasikan profil pelajar Pancasila, antara lain berkebinekaan global, gotong royong dan mandiri sehingga mampu meningkatkan kualitas diri dan mewujudkan manusia Indonesia yang ideal. Manusia Indonesia yang ideal dan berkarakter kuat harus mampu mempraktekkan profil Pancasila dalam kehidupan sehari-hari dan menghadapi perkembangan zaman.Negara Indonesia membutuhkan berbagai gagasan dan ide cemerlang untuk menjawab tantangan zaman yang selalu mengalami perubahan setiap waktu.

            Berikut penulis memaparkan  instrument dengan beberapa variable , turunan indikator dan kategori penilaian.

a.    Kebinekaan Global

Variabel

Turunan Indikator

Kategori

Manfaat Adanya Kebinekaan Global.

.

Membuat kelompok :

1.    Arisan

2.    Pos Ronda

3.    Pos Yandu

4.    Kelompok PKK

5.    Kelompok Sosial Keagamaan

5 = Sangat Setuju

 

4 = Setuju

 

3 = Netral

 

2 =  Tidak Setuju

 

1 = Sangat Tidak Setuju

Meningkatkan Kebinekaan  Global

Kebersamaan dalam kegiatan:

1.    Saling menghormati ritual ibadah agama lain.

2.    Saling membantu  dalam kegiatan dan kehidupan sehari-hari

3.    Saling menghargai kehidupan bertetangga dan bermasyarakat

4.    Saling mendukung kegiatan bersama untuk kepentingan banyak orang.

5.    Saling berpegang prinsip keagamaan.

5 = Sangat Setuju

 

4 = Setuju

 

3 = Netral

 

2 =  Tidak Setuju

 

1 = Sangat Tidak Setuju

 

 

 

b.   Gotong Royong

Variabel

Turunan Indikator

Kategori

Manfaat Adanya Gotong Royong.

.

Mengelompokkan warga:

1.   Membersihkan parit lingkungan

2.   Membersihkan dan merapikan rumah peribadatan

3.   Membersihkan lingkungan rumah masing-masing

4.   Membantu warga atau teman yang mendapat musibah kematian

5.   Memenuhi undangan dan acara hajatan teman dan tetangga

 

5 = Sangat Setuju

 

4 = Setuju

 

3 = Netral

 

2 =  Tidak Setuju

 

1 = Sangat Tidak Setuju

Meningkatkan  Rasa   Gotong Royong

Kebersamaan dalam kegiatan:

1.    Menghadiri tepat waktu undangan kegiatan gotong royong.

2.    Saling membantu dalam kegiatan gotong royong.

3.    Menuntaskan pekerjaan yang menjadi bagian kegiatan gotong royong.

 

5 = Sangat Setuju

 

4 = Setuju

 

3 = Netral

 

2 =  Tidak Setuju

 

1 = Sangat Tidak Setuju

  c.    Mandiri

Variabel

Turunan Indikator

Kategori

Manfaat Sikap dan perilaku Mandiri.

.

Membuat kegiatan mandiri di kelas:

1.   Kelompok belajar mandiri

2.   Kelompok sosial keagamaan

3.   Kelompok keamanan dan ketertiban.

5 = Sangat Setuju

 

4 = Setuju

 

3 = Netral

 

2 =  Tidak Setuju

 

1 = Sangat Tidak Setuju

Meningkatkan  Sikap dan Perilaku Mandiri.

Tanpa bantuan orang lain dalam kegiatan:

1.      1. Mengerjakan dan tugas dan pekerjaan dengan penuh ikhtiar.

2.      2. Berkreatifitas di lingkungan

3.      3. Berinovasi setiap ada kegiatan

4.      4. Tidak banyak mengeluh

5.      5.  Menuntaskan tugas dan pekerjaan tepat waktu, disiplin  dan  bertanggung jawab.

5 = Sangat Setuju

 

4 = Setuju

 

3 = Netral

 

2 =  Tidak Setuju

 

1   = Sangat Tidak Setuju

Komentar

Posting Komentar

Postingan populer dari blog ini

Contoh makalah Malcolm Baldrige National Quality Award

RENCANA PELAKSANAAN PEMBELAJARAN TPA

Contoh makalah Daulah Abbasiyah