SEJARAH PENDIDIKAN ISLAM DI INDONESIA
Dari mana
sebenarnya emosi itu muncul, apakah dari fikiran atau tubuh. Persepsi seseorang
tentang emosi berbeda-beda . ada yang mengatakan tindakan tubuh, baru muncul
emosi, ada pula yang berpendapat emosi dulu baru muncul tindakan. Mana yang
muncul lebih dulu tidaklah begitu penting sebab
tindakan dan emosi pada dasarnya sangat erat berkaitan. Karena keduanya
merupakan bagian dan keseluruhan. Meskipun begitu,emosi akan menjadi semakin kuat bila
diberi ekspresi fisik. Misalnya saja bila seorang marah, lantas mengepalkan
tinju, memaki-maki dan membentak-bentak, dia tidak mengurangi amarahnya, tetapi
justru kian menjadi marah. Sebaliknya, bila ia menghadapinya dengan cukup
santai dan berupaya mengendorkan otot-ototnya yang tegang, kemarahannya akan
segera reda. Dengan demikian, dapat dikatakan bahwa gangguan emosional tidak
akan timbul, apabila orang dalam keadaan sepenuhnya santai.
Pada
hakekatnya, setiap orang itu mempunyai emosi. Dari bangun tidur pagi hari
sampai waktu tidur malam hari, kita mengalami macam-macam pengalaman yang
menimbulkan berbagai emosi pula. Pada saat makan pagi bersama keluarga,
misalnya, kita merasa gembira atau dalam perjalanan menuju kantor, kampus, sekolah kita
merasa jengkel karena jalanan macet, sehingga setelah tiba ditempat tujuan ,
kita merasa malu karena datang
terlambat, semua itu merupakan emosi.
Semua orang
memiliki jenis perasaan yang sangat serupa, namun
intensitasnya berbeda-beda. Emosi-emosi ini dapat merupakan kecenderungan yang
membuat kita frustasi, tetapi juga bisa menjadi modal untuk meraih kebahagiaan
dan keberhasilan hidup.
Semua emosi pada dasarnya melibatkan berbagai perubahan tubuh yang tampak
tersembunyi, baik yang dapat diketahui ataupun tidak, seperti perubahan dalam
pencernaan, denyut jantung, tekanan darah, jumlah hemoglobin, malu, sesak
nafas, gemetar, pucat, pingsan, menangis dan rasa mual.
A. Apa itu EMOSI?
Kita baca sama-sama yuuuuk!
Emosi pada umumnya disifatkan sebagai keadaan (state) yang ada pada individu atau
organisme pada suatu waktu.Emosi berlangsung dalam waktu yang relatif singkat,
sehingga emosi berbeda dengan mood. Mood atau suasana hati pada umumnya berlangsung
dalam waktu yang relatif lebih lama dari pada emosi, tetapi intensitasnya
kurang apabila dibandingkan dengan emosi. Apabila seseorang mengalami marah
(emosi), maka kemarahan tersebut tidak segera hilang begitu saja tetapi masih
terus berlangsung dalam jiwa seseorang (ini yang dimaksud dengan mood) yang akan berperan dalam diri
orang yang bersangkutan.
Oleh karena itu sering dikemukakan bahwa emosi merupakan
keadaan yang ditimbulkan oleh situasi tertentu(khusus), dan emosi cendrunng
terjadi dalam kaitannya dengan perilaku yang mengarah (approach) atau menyingkiri (avoidance)
terhadap sesuatu, dan perilaku tersebut pada umumnya disertai adanya ekspresi
kejasmanian, sehingga orang lain dapat mengetahui bahwa seseorang sedang
mengalami emosi.
Namun demikian kadang-kadang orang masih dapat mengontrol
keadaan dirinya sehingga emosi yang dialami tidak tercetus keluar dengan
perubahan atau tanda-tanda kejasmanian tersebut. Hal ini berkaitan dengan
pendapat yang dikemukakan oleh Ekman dan Friesen. Menurut Ekman dan Friesen ada
tiga rules, yaitu masking, modulation, dan samulation. Masking adalah keadaan seseorang yang dapat menyambunyikan atau
dapat menutupi emosi yang dialaminya. Emosi yang dialaminya tidak tercetus
keluar melalui akspresi kejasmaniannya. Misalnya orang yang sangat sedih karena
kehilangan anggota keluarganya. Kesidihan tersebut dapat diredam atau dapat
ditutupi, dan tidak adanya gejala kejasmanian yang menyababkan tampaknya rasa
sedih tersebut. Pada modulasi (modulation)
orang tidak dapat meredam secara tuntas mengenai gejala kejasmaniannya, tetapi
hanya dapat mengurangi saja. Jadi misalnya karena sedih, ia menangis (gejala
kejasmanian) tetapi tangisannya tidak begitu mencuat-cuat. Pada simulasi(simulation) orang tidak mengalami emosi,
tetapi seolah-olah mengalami emosi dengan menampakan gejala-gejala kejasmanian.
[1][1]
B. Teori-teori Emosi
Dalam upaya menjelaskan timbulnya
gejala emosi, para ahli mengemukakan beberapa teori. Beberapa
teori emosi yang terkenal diajukan oleh Schachter dan singer dengan “ Teori
Emosi Dua Faktor”, James and Lange yang terkenal dengan “Teori Emosi James and
Lange”, serta Cannon dengan teori “Emergency”.
1. Teori Emosi Dua Faktor Schacter-Singer
“Teori Emosi Dua Faktor”
Schacter-Singer dikenal sebagai teori yang paling klasik yang berorientasi pada
rangsangan. Reaksi fisiologik dapat saja sama (hati berdebar, tekanan darah
naik, nafas bertambah cepat, adrenalin dilalirkan dalam darah, dan sebagainya),
namun jika rangsangannya menyenangkan seperti diterima diperguruan tinggi
idaman emosi yang timbul dinamakan senang. Sebaliknya,jika rangsangannya membahayakan
(misalnya, melihat ular berbisa), emosi yang timbul dinamakan takut. Para ahli
psikologi melihat teori ini lebih sesuai dengan teori kognisi.
Schachter dan singer memulai
analisis mereka dengan mempertanyakan pandangan yang dikemukakan oleh William
James dkk. Bahwa emosi tentu merupakan fungsi dari reaksi-reaksi tubuh
tertentu. Menurut Schachter dan Singer, seseorang tidak merasa marah karena
ketegangan otot, rahang yang berderak, denyut nadi menjadi cepat, dan
sebagainya, tetapi karena secara umum jengkel, dan masing-masing orang
mempunyai berbagai kognisi tertentu tentang sifat kejengkelannya.
Contohnya adalah ketika seseorang
menghadapi kejadian yang membangkitkan emosi, umumnya pertama-tama ia akan
mengalami gangguan fisiologis netral dan tidak jelas. Secara teoritis, yang
terjadi kemudian bergantung apakah ia mengetahui mengapa ia merasa jengkel dan
bagaimana perasaannya jika ia tidak yakin mengenai emosi apa yang dirasakannya.
Namun, jika sejak awal ia menyadari apa yang mengganggu pikiran dan perasaan
yang tengah dialaminya, ia tidak harus mencari informasi tentang apa yang
sedang terjadi ia sudah tahu. Bagaimanapun halnya, menurut Schachter dan
Singer, orang yang jengkel itu kemudian akan membentuk keyakinan tentang apa
yang dirasakannya, dan kognisi ini akan membentuk kejengkelan umum yang tidak
jelas menjadi suasana emosional tertentu.
2. Teori Emosi james Lange
Dalam teori
ini disebutkan bahwasannya emosi itu timbul setelah terjadinya reaksi
psikologik. Jadi kita senang maka reaksi kita adalah meloncat-loncat setelah
melihat pengumuman yang membuat kita bahagia dan kita akan lari merasa
ketakutan stelah melihat ular.
Menurut
teori James Lange emosi adalah hasil persepsi tentang seseorang terhadap
perubahan-perubahan yang terjadi pada tubuh sebagai respon terhadap berbagai
rangsangan yang datang dari luar. Jadi, jika seseorang melihat harimau,
reaksinya adalah peredaran darah semakin cepat karena denyut jantung semakin
cepat, paru-paru lebih cepat memompa udara, dan sebagainya. Respon-respon tubuh
ini kemudian dipersepsikan dan timbullah rasa takut. Rasa takut yang timbul itu
dikarenakan oleh hasil pengalaman dan proses belajar. Orang yang bersangkutan
telah mengetahui bahwa harimau adalah makhluk yang berbahaya, karena itu
debaran jantung dipersepsikan sebagai takut. Emosi
menurut kedua ahli ini, terjadi karena adanya perubahan pada system vasomotor.
Suatu peristiwa dipersepsikan menimbulkan perubahan fisiologis dan psikologis
yang dibuat emosi.
Dengan
demikian James melihat adanya empat Langkah dalam proses terjadinya suasana
emosional, yakni: (a) kejadian itu dipahami (b) implus bergerak dari system
saraf pusat ke otot, kulit, dan organ dalam (c) sensasi yang disebabkan
perubahan bagian-bagian tubuh tersebut yang disalurkan kembali ke otak (d)
implus yang balik itu kemudian dipahami oleh otak, dan setelah dikombinasikan
dengan persepsi stimulus pertama, menghasilkan ‘objek dirasakan secara
emosional’.
3. Teori Emergency Cannon
Cannon dalam
teorinya menyatakan bahwa karena gejolak emosi itu menyiapkan seseorang untuk
mengatasi keadaan yang genting, orang-orang primitif yang membuat responsemacam
itu bisa survive dalam hidupnya. Cannon menyalahkan teori james Lange karena beberapa
alasan, Cannon mengatakan, bahwa organ dalam umumnya terlalu insensitive dan
terlalu dalam responnya untuk bisa menjadi dasar berkembangnya dan berubahnya
suasana emosional yang sering kali berlangsung demikian cepat. Teori ini menyebutkan, emosi sebagai pengalaman subjektif
psikologik timbul bersama-sama dengan reaksi fisiologik ( hati berdebar,
tekanan darah naik, nafas bertambah cepat, adrenalin dialirkan dalam darah, dan
sebagainya. [2][2]
C. Gangguan
Emosional
Ada beberapa
teori yang menjelaskan tentang sebab-sebab gangguan emosional, yaitu teori
lingkungan, efektif dan kognitif.
1. Teori Lingkungan
Teori
lingkungan ini menganggap bahwa penyakit mental diakibatkan oleh berbagai
kejadian yang menyebabkan timbulnya stress. Pandangan tersebut beranggapan
bahwa kejadian ini sendiri adalah penyebab langsung dari ketegangan emosi.
Orang awam tidak ragu-ragu untuk menyatakan, bahwa seorang anak menangis karena
ia diperolok. Ia percaya secara harfiah bahwa olok-olok itu adalah penyebab
langsung tangisan tersebut. Dengan nada yang sama, orang awam tersebut percaya
bahwa tetangganya menjadi depresif karena kehilangan pekerjaannya, atau
keterlambatannya pulang ke rumah sebetulnya membuat istrinya naik pitam.
Menurut
pandangan ini emosi bisa hilang kalau masalah penyebab ketegangan tersebut
ditiadakan. Selama masalah itu masih ada, biasanya tidak banyak yang bisa
dilakukan untuk menghilangkan perasaan-perasaan yang menyertainya. Karena yang
disebut lebih dahulu diduga sebagai penyebab dari yang belakangan, secara logis
bisa dikatakan bahwa penghilangan masalah selalu dapat menghilangkan kesukaran.
Memang demikianlah yang sering terjadi, tetapi ini belum tentu dapat
menghilangkan reaksi emosional yang kuat sekali jika reaksi itu terjadi .
2. Teori Afektif
Pandangan professional yang paling
luas dianut mengenai gangguan mental adalah pandangan yang berusaha menemukan
pengalaman emosional bawah sadar yang dialami oleh seorang anak bermasalah dan
kemudian membawa ingatan yang dilupakan dan ditakuti ini kealam sadar,sehingga
dapat dilihat dari sudut yang realistic. Sebelum rasa takut dan rasa salah
tersebut disadari, anak-anak itu diperkirakan hidup dengan pikiran bawah
sadar yang dipenuhi dengan bahan-bahan
yang menghancurkan yang tidak bisa dilihat, tetapi masih sangat aktif dan
hidup. Ia bisa cemburu dan membenci ayahnya yang ditakutkan akan melukainya
karena pikiran-pikiran jahat tersebut. Anak itu mungkin merasa bersalah karena
rasa bencinya itu sehingga amat berharap mendapat hukuman atas kejahatannya.
Karena tidak menyadari kebenciannya itu, anak tidak menyadari bahwa banyak kejadian
tidak masuk akal untuk menghukum dirinya sendiri.
3. Teori
Kognitif
Menurut teori ini, penderita mental tidak disebabkan
langsung oleh masalah kita atau perasaan bawah
sadar kita akan masalah tersebut, melainkan dari pendapat yang salah dan
irasional, yang disadari maupun tidak disadari akan masalah-masalah yang kita
hadapi. Untuk mengembalikan keseimbangan emosi, kita hanya
perlu mengidentifikasi ide-ide yang ada pada si anak. Kemudian, melalui
penggunaan logika yang ketat, ia diperlihatkan dan diyakinkan betapa tidak
rasionalnya ide-ide tersebut, dan akhirnya didorong untuk berprilaku berlainan
melalui sudut pengetahuan yang baru. Hanya inilah yang diperlukan untuk
menenangkan gangguan emosional. Tidak menjadi soal, apakah si anak di sepelekan
atau membenci ayahnya. [3][3]
D. Macam-Macam
Emosi
Atas dasar
aktivitasnya, tingkah laku emosiaonal dapat dibagi menjadi beberapa bagian
yaitu: takut, cemburu, gembira, marah dan cinta.
1. Takut
Pada
dasarnya, rasa takut itu bermacam-macam. Ada yang timbul karena seorang anak
kecil memeang ditakut-takuti atau karena berlakunya berbagai pantangan dirumah.
Akan tetapi, ada juga rasa takut “naluriah” yang terpendam dalam hati sanubari
setiap insan. Misalnya saja, rasa takut akan tempat gelap, takut berada
ditempat sepi tanpa teman, atau takut menghadapi hal-hal asing yang tidak
dikenal. Kengerian-kengerian ini relative lebih banyak di derita oleh anak-anak
daripada orang dewasa. Karena, sebagai insan yang masih sangat muda, tentu saja
daya tahan anak-anak belum kuat. Jika
dilihat secara objektif, bisa dikatakan bahwa rasa takut selain mempunyai
segi-segi negative, yaitu bersifat menggelorakan dan menimbulkan
perasaan-perasaan dan gejala tubuh yang menegangkan, juga ada segi positifnya. Rasa takut
merupkan salah satu kekuatan utama yang mendorong dan menggerakannya. Reaksi
yang timbul di dalam individu, lalu menggerakan individu untuk melindungi diri
terhadap rangsangan atau bahaya dari luar, menjauhkan diri dari sesuatu yang
dapat menyakiti diri, melukai diri, atau menimbulkan bahaya lainnya.
Dengan
demikian, jelaslah bahwa rasa takut mempunyai nilai negative dan positif.
Positif karena rasa takut melindungi individu dalam keadaan yang berbahaya.
2. Cemburu
Kecemburuan
adalah bentuk khusus dari kekhawatiran yang didasari oleh kurang adanya
keyakinan terhadap diri sendiri dan ketakutan akan kehilangan kasih sayang dari
seseorang. Seseorang yang cemburu selalu mempunyai sikap benci terhadap
saingannya.
3. Gembira
Gembira adalah ekspresi dari kelegaan, yaitu perasaan
terbebas dari ketegangan biasanya kegembiraan disebabkan oleh hal-hal yang
bersifat tiba-toba (surprise) dan kegembiraan biasanya bersifat social, yaitu
melibatkan orang-orang lain di sekitar orang yang sedang genbira tersebut.
4. Marah
Sumber utama kemarahan adalah
hal-hal yang mengganggu aktivitas untuk sampai pada tujuannya. Dengan
demikian,ketegangan (stress) yang terjadi dalam aktivitas itu tidak mereda,
bahkan bertambah. Untuk menyalurkan ketegangan-ketegangan itu individu yang
bersangkutan menjadi marah.
5. Cinta
Apakah
cinta? Sesungguhnya betapa sulitnya kita untuk menjelaskan kata yang stau ini.
Sama halnya ketika kita harus mendefeniisikan ihwal kebahagiaan. Penyair mesir,
Syauqi Bey, melukiskan “cinta” dalam sebuah sajaknya:
Apakah cinta
Mulanya berpandangan mata
Lantas saling senyum
Kata berbalas kata
Dan memadu janji
Akhirnya
bertemu
Namun yang digambarkan di atas adalah cinta romantic, yaitu
cinta waktu pacaran yang kadang-kadang berakhir putus setelah puas bertemu
dalam memadu cinta, tidak sampai meningkat kejenjang pernikahan. Adapun cinta
yang tumbuh dalam pernikahan adalah lebih kuat dan lebih agung, karena tuhan
yang menciptakannya untuk menjalin pernikahan itu menjadi kekal, tidak gampang
diputuskan.
Setiap orang, anak-anak maupun orang dewasa, pada hakikatnya
menginginkan untuk diterima sebagaimana adanya, dirinya, fisiknya, juga
pribadinya secara keseluruhan dalam keluarga, termasuk diantaranya dapat
menerima kelemahan dan kekurangan mereka.
Tuhan telah menciptakan makhluknya sedemikian rupa, sehingga
sudah merupakan hukum alam bahwa anak-anak membutuhkan dan selalu mendambakan
cinta kasih orang tua. Kebutuhan emosi seorang anak
terhadap cinta dan kasih sayang, sama besarnya dengan kebutuhan fisik akan
makanan. [4][4]
E. Emosi Dan
Kesehatan
Faktor pikiran (emosi) merupakan
sesuatu yang perlu diwaspadai, orang yang berpikiran positif biasanya punya
tingkat kesehatan yang lebih baik. Karna itu, mengendalikan perasaan
seperti marah dan sedih adalah untuk menjaga jiwa dan raga tetap sehat. Emosi
bisa mengganggu kesehatan yang berasa dari emosi (perasaan) penderita. Ada
tujuh jenis emosi yang bias mengganggu kesehatan antara lain: gembira (senang),
marah, khawatir, melamun, berpikir sedih, takut dan terkejut.
Berikut ini
adalah pengaruh tujuh emosi terhadap organ dalam kita.
1.
Gembira
Gembira adalah pertanda jantung berfungsi normal.
Berarti darah, kelenjar limpa, dan chi (listrik tubuh) berjalan normal.
Manifestasinya badan sehat. Namun, bila perasaan itu berlebihan, jalannya chi
yang perlahan itu akan bergolak dan tersebar, sehingga semangat yang tersimpan
dalam jantung menjadi berantakan. Pada saat sangat gembira, aliran chi akan
melambat.
2.
Marah
Pada kondisi normal, hati bekerja dengan baik. Namun,
begitu ada emosi negatif berupa kemarahan, hati akan terangsang. Bila marah
bregolak, chi hati berbalik naik ke atas, aliran darah naik ke atas serta
bergolak. Kemarahan ditandai dengan muka merah dan badan bergetar. Ada pepatah
yang mengatakan bahwa sakit hati (sebagai organ) disebabkan oleh sakit hati
(sebagai perasaan). Karena hati berhubungan dengan kandung empedu, kemarahan
berakibat juga pada rusaknya fungsi kandung empedu ini. Akibatnya, kemarahan
selalu mengarah pada diri sendiri.
3.
Khawatir
Kekhawatiran
yang berlebihan bias menyebabkan aliran chi bisa terhenti untuk
sementara atau tersumbat. Kekhawatiran yang berlebihan akan mengganggu kerja
paru-paru yang hubungannya sangat dekat dengan usus besar. Tidak
mengherankan, orang yang merasa khawatir biasanya akan menekan dada tempat
paru-parunya berada. Paru-paru dilambangkan dengan warna putih. Karena itu,
orang yang khawatir biasanya ditandai dengan muka pucat. Itu berarti chi
paru-parunya tidak normal.
4.
Berpikir
Berpikir
di sini juga meliputi penggunaan akal, berpikir terlalu banyak akan mengganggu
fungsi atau kerja limpa. Karena limpa berhubungan sangat erat
dengan lambung, berpikir yang keterlaluan akan mengganggu aktivitas lambung
pula, tidak mengherankan orang yang banyak berpikir sering menderita radang
lambung atau gastritis dan terganggu alat geraknya.
5.
Sedih
Emosi
sedih bisa timbul karena seseorang dihadapkan pada keadaan yang mengecewakan,
menggelisahkan atau muncul sebagai akibat penderitaan karena luka, sakit,
derita atau nyeri. Seperti rasa khawatir, emosi sedih mempengaruhi kerja
paru-paru, selain paru-paru, jantung juga mudah terpengaruh emosi negatif ini.
Karena organ dalam saling berhubungan, emosi sedih dapat mempengaruhi hati dan
organ lainnya. Sedih dapat juga mengakibatkan terputusnya hubungan antara
jantung dan pericardium (selaput jantung). Akibatnya, timbul pendarahan lewat
dubur dan uretra.
6.
Takut
Rasa takut muncul sebagai manifestasi dari munculnya
ketegangan mental. Ketakutan seseorang seringkali berbeda dengan ketakutan orang
lain. Ada orang yang takut melihat anjing, ular, berjalan di ketinggian,
berbicara di depan umum, bertemu orang lain, dan sebagainya. Takut bisa
dipengaruhi dan mempengaruhi ginjal. Ketakutan yang berlebihan akan mengacaukan
fungsi ginjal dan limpa.
7.
Terkejut
Terkejut
adalah akibat dari ketegangan jiwa, terkerjut dapat mempengaruhi dan
dipengaruhi oleh fungsi ginjal, terkejut yang berlebihan akan melukai ginjal
dan jantung. Dapat disimpulkan, orang yang mudah terkejut biasanya
mempunyai fungsi jantung yang lemah.
F.
CARA MENGATASI EMOSI
Ketika
emosi dan amarah memuncak maka segala macam sifat buruk yang ada dalam diri
kita akan sulit
dikendalikan dan rasa malu pun kadang akan hilang berganti dengan segala sifat
buruk demi melampiaskan kemarahannya pada benda, binatang, orang lain, dan
lain-lain di sekitarnya.
Ada
beberapa cara untuk mengatasi emosi: diantaranya adalah
1. Merasakan apa yang orang lain rasakan
2. Tenangkan hati di tempat yang nyaman
3. Mencari kesibukan yang disukai
4. Curahan hati
5. Mencari penyebab dan mencari solusi
6. Ingin menjadi orang baik
7. Cuek dan melupakan masalah yang ada
8. Berfikir rasional sebelum bertindak
9. Diversifikasi tujuan, cita-cita dan impian hidup
10. Jangan mudah terbawa emosi
G. AGRESI
SEBAGAI REAKSI EMOSIONAL
1.
Apakah agresi itu
Sikap
agresi adalah penggunaan hak sendiri dengan cara melanggar hak orang lain, pada
dasranya, emosi bukan sekedar suatu reaksi umum, namun merupakan reaksi
spesifik pula. Kita mungkin tertawa saat gembira, menjadi agresif
saat marah, menarik diri sewaktu takut, dan sebagainya. Perilaku agresif banyak
ragamnya, diantaranya terkadang membuat rumit adalah bahwa suatu perilaku yang
sama misanya, menginjak kaki dapat dianggap tidak agresif jika terdapat di
dalam bus yang sesak, tetapi juga dapat dianggap agresif jika kejadian ini
terjadi dalam bus yang lenggang. Dengan demikian, peran kognisi sangat besar
dalam menentukan apakah suatu perbuatan dianggap agresif jika diberi atribusi
internal atau tidak agresif dalam hal atribusi eksternal. Dengan atribusi
internal, yang dimaksud adalah niat, intensi, motif atau kesengajaan untuk
menyakiti atau merugikan orang lain. Dalam atribusi eksternal, perbuatan
dilakukan karena desakan situasi, tidak ada pilihan lain, atau tidak sengaja.
2.
Agresi pada Anak
Pada umumnya, setiap anak mempunyai
dorongan agresif. Dorongan agresif ini timbul sejak kecil dan muncul pada
perbuatan-perbuatan, seperti mendorong teman sampai jatuh, mencakar kalau tidak
diberi kue yang dimintanya, dan sebagainya. Sementara itu, pada orang tua, atau
orang dewasa, agresi ini timbul dalam bentuk perbuatan berkelahi, berdebat,
berperang.
Agresi yang berlebihan banyak
didapatkan pada anak yang orang tuanya bersikap terlalu memanjakan, terlalu
melindungi, atau terlalu bersifat kuasa serta penolakan orang tua. Misalnya,
hukuman badani seperti memukul dan kurang berhasilnya memberikan pengertian
pada anak mengenai tingkah laku yang tidak dapat dibenarkan. Ada dua
macam sebab yang mendasari tingkah laku agresif pada anak. Pertama, tingkah laku agresif yang dilakukan untuk menyerang atau
melawan orang lain. Jenis tingkah laku agresif ini biasanya ditandai dengan
kemarahan atau keinginan untuk menyakiti. Kedua,
tingkah laku agresif yang dilakukan sebagai sikap yang mempertahankan diri
terhadap kesenangan diluar. [5][5]
H. EMOSI DALAM
PERSPEKTIF AL-QUR’AN
Hikmah Allah
Swt menuntut agar
manusia, demikian pula hewan, membekali dirinya dengan emosi yang juga akan
membantunya dalam kelangsungan hidupnya. Emosi takut, misalnya, akan mendorong
kita untuk menjauhi bahaya yang mengancam hidup kita. Emosi marah akan
mendorong kita untuk mempertahankan diri dan berjuang demi kelangsungan hidup.
Emosi cinta merupakan dasar keharmonisan antara dua jenis kelamin dan daya
tarik dua jenis kelamin itu adalah untuk menjaga kelangsungan keturunan.
Emosi akan
mengarahkan prilaku seperti halnya motif. Emosi takut akan mendorong manusia
untuk lari dari bahaya. Emosi marah akan mendorong manusia untuk mempertahankan
diri dan terkadang juga mendorongnya pada permusuhan. Emosi cinta akan
mendorong manusia untuk mendekatkan diri kepada objek yang dicintainya.
Dalam
Al-Qur’an dikemukakan gambaran yang cermat tentang berbagai emosi yang
dirasakan manusia, seperti takut, marah, cinta, senang, antipasti, benci
cemburu, hasud, sesal, malu, dan benci. Kemudian kita akan membahas keterangan yang ada dalam
Al-Qur’an tentang emosi.
Emosi takut
termasuk emosi yang penting dalam kehidupan manusia. Seperti rasa takut,
manfaat takut tidak hanya terbatas pada menjaga manusia dari bahaya yang
mengancam pada kehidupan duniawi, tetapi juga manfaat paling penting adalah
mendorong orang mukmin agar menjaga diri dari azab Allah SWT, pada kehidupan
akhirat. Dengan demikian, takut kepada siksaan Allah SWT. Akan mendorong orang
mukmin agar tidak terjerumus ke dalam kemaksiatan, berpegangan pada ketakwaan,
teratur dalam beribadah kepada Allah SWT. Dan mengerjakan amal-amal yang
diridhai-Nya.
(Q.S. Al-Anfal [8] : 2)
Artinya :
“sesungguhnya orang-orang yang beriman
itu adalah orang-orang yang apabila disebut Allah, gemetar hati mereka, dan
apabila dibcakan ayat-ayat-Nya kepada mereka, bertambahlah keimanan mereka, dan
hanya kepada Rabb merekalah, mereka bertawakal.”
Emosi takut adalah suatu kondisi berupa gangguan yang
tajam yang dapat menimpa semua individu. Al-Qur’an menggambarkan gangguan
tersebut dengan keguncangan hebat yang mengguncang manusia dengan hebat
sehingga menghilangkan kemampuan berpikir dan pengendalian diri. Al-Qur’an
juga menjelaskan tentang cinta kepada Allah SWT. Adalah tujuan setiap mukmin.
Cinta kepada Allah SWT merupakan kekuatan pendorong untuk takut kepada Allah
SWT dan Rasulullah SAW.
Cinta seorang mukmin kepada Allah SWT akan melampaui
cintanya kepada dirinya, anak-anak, istri, ibu, bapak, keluarga, dan hartanya. (Q.S. At-Taubah [9] : 24)
Artinya; “Katakanlah, ‘jika bapak-bapak, anak-anak,
saudara-saudara, istri-istri, keluarga kalian, harta kekayaan yang kalian
usahakan, perdagngan yang kalian khawatirkan kerugiannya, dan rumah-rumah yang
kalian sukai, lebih kalian cintai daripada Allah dan Rasul-Nya serta berjidad
di jalannya, maka tunggulah oleh kalian hingga Allah mendatangkan
keputusan-Nya.’ Dan Allah
tidak memberikan petunjuk kepada orang-orang fasik.”
Cinta dan
ibadah seorang mukmin kepada Allah SWT. Merupakan kebutuhan yang paling luhur
dan tujuan yang paling puncak. Dengan cinta dan ibadah itu, seorang mukmin
dapat mewujudkan sebesar-besarnya kebahagiaan, kegembiraan , kesenangan,
keamanan, dan ketentraman, baik di dunia ataupun di akhirat.[6][6]
[1][1] Prof. Dr.Bimo Wagito,Pengantar Psikologi,(penerbit ANDI Yogyakarta),
hal. 229
[2][2] Drs.Alex Sobur,M.Si,Psikologi
Umum,(Bandung,Pusaka Setia,2003),hal.401-404
[3][3] Drs.Alex Sobur,M.Si,Psikolog Umum,Bandung,Pusaka
Setia,2003),hal.407-409
[4][4] Prof.Dr.Bimo Wagito,Pengantar
Psikologi,(penerbit ANDI Yogyakarta),hal.133
[5][5] Drs.Alex Sobur,M.Si,Psikologi
Umum,(Bandung,Pusaka Setia,2003),hal.432
[6][6] Usman Najati,Psikologi Dalam
Al-quran,(Bandung,Pusaka Setia,2005),hal.99
Komentar
Posting Komentar