SEJARAH PENDIDIKAN ISLAM DI INDONESIA

Gambar
A. Sejarah Pendidikan Islam di Indonesia Masuknya Islam ke Indonesia membawa tradisi pendidikan yang erat kaitannya dengan dakwah. Pada awalnya, pendidikan dilakukan secara sederhana di surau, masjid, atau rumah para ulama. Materi pembelajaran berfokus pada dasar-dasar agama, seperti membaca Al-Qur’an, tata cara ibadah, serta pembinaan akhlak. Seiring perkembangan zaman, lahirlah lembaga pendidikan tradisional yaitu pesantren. Pesantren berfungsi sebagai pusat keilmuan Islam sekaligus benteng moral masyarakat. Para santri dididik dengan kitab kuning (turats), mencakup ilmu fiqih, akidah, tasawuf, dan ilmu alat seperti nahwu dan sharaf. Al-Zarnuji dalam Ta‘lim al-Muta‘allim menekankan pentingnya sanad dalam pendidikan: العِلْمُ دِينٌ يُدَانُ بِهِ، فَيَنْبَغِي لِطَالِبِ العِلْمِ أَنْ يَنْظُرَ عَمَّنْ يَأْخُذُ دِينَهُ “Ilmu adalah bagian dari agama yang dengannya manusia beragama. Maka seorang penuntut ilmu harus memperhatikan dari siapa ia mengambil ilmunya.” Tradisi pesantren membuktika...

Memahami Makna Pendidik, Ustadz, Mudarris, Mursyid, Guru.


 

PENDIDIk

 Siapa itu Pendidik,,,yuk kita baca sama-sama dari beberapa pakar.....!!!!!


Salah satu komponen penting yang mendukung tercapainya sebuah tujuan pendidikan adalah adanya seorang pendidik yang berkualitas, profesional dan berpengetahuan. Memiliki kompetensi-kompetensi sebagai seorang pendidik, karena seorang pendidik bukan hanya mengajar, mendidik, mengarahkan, namun seorang pendidik adalah juga sebagai fasilitator, inspirator, sahabat, orang tua, inovator, maupun motivator.

Dari segi bahasa pendidik adalah orang yang mendidik (Poerwadarminta, 1976;250) dari segi pengertian ini timbul kesan bahwa pendidik ialah orang yang melakukan kegiatan dalam hal mendidik. Dalam bahasa Inggris ditemui beberapa kata yang mendekati maknanya dengan pendidik. Kata-kata tersebut seperti teacher yang berarti guru atau pengajar,dan tutor yang berarti guru pribadi atau guru yang mengajar dirumah (Echols dan Shadily,1980;560). Dalam bahasa Arab dijumpai kata Ustadz, Mudarrist, Mu’allim dan Muad’dib. Kata Ustadz jama’nya Asaatidz yang berarti teacher atau guru, professor (gelar akademik atau jenjang dibidang intelektual), pelatih, penulis, dan penyair (Wehr,1974:15). Sementara kata Mudarris berarti teacher (guru),instructur (pelatih), dan lecturer (dosen).

Selanjutnya kata Mual’llim yang berarti teacher (guru) trainer (pemandu). Kemudian, kata Muad’dib berarti Educator (pendidik) atau teacher in Quranic School(guru dalam lembaga pendidikan al-Quran). Didalam al-Quran ditemukan beberapa kata yang menunjukan kepada pengertian pendidik :

a.    Qs.Al-Ankabut ayat 43

وَتِلۡكَ ٱلۡأَمۡثَٰلُ نَضۡرِبُهَا لِلنَّاسِۖ وَمَا يَعۡقِلُهَآ إِلَّا ٱلۡعَٰلِمُونَ ٤٣

Artinya : “Dan perumpamaan-perumpamaan ini Kami buat untuk manusia; dan tiada yang memahaminya kecuali orang-orang yang berilmu”

b.    Qs. Fatir ayat 28

وَمِنَ ٱلنَّاسِ وَٱلدَّوَآبِّ وَٱلۡأَنۡعَٰمِ مُخۡتَلِفٌ أَلۡوَٰنُهُۥ كَذَٰلِكَۗ إِنَّمَا يَخۡشَى ٱللَّهَ مِنۡ عِبَادِهِ ٱلۡعُلَمَٰٓؤُاْۗ إِنَّ ٱللَّهَ عَزِيزٌ غَفُورٌ ٢٨

Artinya : “Dan demikian (pula) di antara manusia, binatang-binatang melata dan binatang-binatang ternak ada yang bermacam-macam warnanya (dan jenisnya). Sesungguhnya yang takut kepada Allah di antara hamba-hamba-Nya, hanyalah ulama. Sesungguhnya Allah Maha Perkasa lagi Maha Pengampun”.

Dalam ayat tersebut pendidik Adalah orang yang mengusai ilmu mampu mengembangkannya dan menjelsakan fungsinya dalam kehidupan, serta menjelaskan dimensi teoritis dan praktisnya sekaligus.

c.    Qs. Al-Isra ayat 24

وَٱخۡفِضۡ لَهُمَا جَنَاحَ ٱلذُّلِّ مِنَ ٱلرَّحۡمَةِ وَقُل رَّبِّ ٱرۡحَمۡهُمَا كَمَا رَبَّيَانِي صَغِيرٗا ٢٤

Artinya : “Dan rendahkanlah dirimu terhadap mereka berdua dengan penuh kesayangan dan ucapkanlah: "Wahai Tuhanku, kasihilah mereka keduanya, sebagaimana mereka berdua telah mendidik aku waktu kecil"

Dalam ayat tersebut pendidik Adalah pendidik yang mampu menyiapkan, mengatur, mengelola, membina, memimpin, membimbing, dan mengembangkan potensi kreatif serta mendidik yang dapat digunakan bagi pengolaan dan pemanfaat sumber daya alam yang berguna bagi dirinya, dan makhluk Allah disekelilingnya.

d.    Mudarris Adalah pendidik yang mampu menciptakan suasana pembelajaran yang dialogis dan dinamis, mampu yang membelajarkan peserta didik dengan belajar mandiri, atau memperlancar pengalaman belajar dan menghasilkan warga belajar.

e.  Mursyid Adalah pendidik yang menjadi sentral figure (al-uswat al-hasanat) bagi peserta didiknya, memiliki wibawa yang tinggi di depan peserta didiknya, mengamalkan ilmu secara konsisten, bertaqarrub kepada Allah, merasakan kelezatan dan manisnya iman terhadap Allah.. Pendidik yang didengarkan perkataannya, dikerjakan perintahnya, dan diamalkan nasehat-nasehatnya tempat mengadukan semua persoalan yang dialami umat, serta menjadi konsultan bagi peserta didiknya.

f.      Muzakki Adalah pendidik yang bersifat hati-hati terhadap apa yang akan diperbuat, senantiasa mensucikan hatinya dengan cara menjauhi semua bentuk sifat-sifat mazmumah dan mengamalkan sifat-sifat mahmudah. Oleh karena itu, pendidik bertugas untuk menjaga potensi suci peserta didik serta berusaha memberikan terapi dan metode kepada murid-muridnya melalui konsep-konsep tazkiyat al-naf, tazkiyat al-aql, dan tazkiyat al-jism.

g.    Mukhlis Adalah pendidik yang melaksanakan tugasnya dalam mendidik dan mengutamakan motivasi ibadah yang benar-benar ikhlas karena Allah[1].

Kata-kata tersebut secara keseluruhan terhimpun dalam pengertian pendidik, karena pada dasarnya kesemuanya mengacu pada seseorang yang memberikan pengetahuan, keterampilan, atau pengalaman kepada orang lain. Mungkin hanya ada perbedaan istilah dalam penggunaannya. Jika suatu pengetahuan diberiakan disekolah pengajarnya disebut teacher (guru), diperguruan tinggi disebut lecturer atau professor, dirumah-rumah secara peribadi disebut tutor, dipusat-pusat latihan disebut instructure atau trainer dan dilembaga pendidikan yang mengajarkan agama disebut Educator (Nata;1997:62)[2].

Sama dengan teori Barat, pendidik dalam Islam ialah siapa saja yang bertanggung jawab terhadap perkembangan anak didik. Dalam Islam, orang yang paling bertanggungjawab adalah orang tua (ayah dan ibu) anak didik. Tanggung jawab itu disebabkan sekurang-kurangnya oleh dua hal: pertama karena kodrat, yaitu karena orang tua tersebut ditakdirkan menjadi orang tua anaknya, kedua karena kepentingan orang tua, yaitu orang tua berkepentingan terhadap kemajuan perkembangan anaknya, sukses anaknya adalah sukses orang tua juga. Tanggung jawab pertama dan utama terletak pada orang tua berdasarkan juga pada firman Allah, seperti yang tersebut dalam al-Quran : قُوٓا أَنفُسَكُمْ وَأَهْلِيكُمْ نَارًا (Peliharalah diri kalian dan keluarga kalian dari api neraka). “Diri kalian” yang disebut ayat tersebut adalah diri orang tua anak tersebut, yaitu ayah dan ibu ;“anggota keluarga” dalam ayat ini adalah terutama anak-anaknya. Sama dengan pendidikan teori Barat, tugas pendidik dalam pandangan Islam secara umum ialah mendidik, yaitu mengupayakan perkembangan seluruh potensi anak didik baik potensi psikomotorik, kognitif, maupun potensi afektif. Potensi itu harus dikembangkan secara seimbang sampai ketingkat setinggi mungkin, menutut ajaran Islam. Karena orang tua adalah pendidik pertama dan utama, maka inilah tugas orang tua tersebut[3].

Sebagai contoh Eksistensi dan posisi Rasulullah`sebagai sang educator (pendidik, pengajar, guru) bagi seluruh manusia telah bayak diungkapkan dalam al-Quran dibeberapa ayat, sebagaimana firman Allah Qs. Al-Jumuah ayat 2 berikut :

هُوَ ٱلَّذِي بَعَثَ فِي ٱلۡأُمِّيِّ‍ۧنَ رَسُولٗا مِّنۡهُمۡ يَتۡلُواْ عَلَيۡهِمۡ ءَايَٰتِهِۦ وَيُزَكِّيهِمۡ وَيُعَلِّمُهُمُ ٱلۡكِتَٰبَ وَٱلۡحِكۡمَةَ وَإِن كَانُواْ مِن قَبۡلُ لَفِي ضَلَٰلٖ مُّبِينٖ ٢

Artinya : “Dialah yang mengutus kepada kaum yang buta huruf seorang Rasul di antara mereka, yang membacakan ayat-ayat-Nya kepada mereka, mensucikan mereka dan mengajarkan mereka Kitab dan Hikmah (As Sunnah). Dan sesungguhnya mereka sebelumnya benar-benar dalam kesesatan yang nyata”

Sayyid Qutbv menjelaskan ayat وَيُعَلِّمُهُمُ ٱلْكِتَٰبَ وَٱلْحِكْمَةَ (mengajarkan kepada mereka Kitab dan Hikmah ) yaitu Rasulullah`mengajarkan kepada mereka tentang kitab al-Quran, maka merekapun menjadi ahli dalam perkara kitab itu. Rasulullah` pun mengajarkan kepada mereka sehingga merekapun mengetahui hakikat-hakikat segala sesuatu. Merekapun baik dalam menentukan dan mengatur segala sesuatu. Ruh-ruh mereka pun diilhami dengan kebenaran dalam berhukum dan beramal dan itu merupakan kebaikan yang melimpah[4].

وَأَرْسَلْنَٰكَ لِلنَّاسِ رَسُولًا وَكَفَىٰ بِٱللَّهِ شَهِيدًا “Kami mengutusmu menjadi Rasul kepada segenap manusia. Dan cukuplah AllahQ menjadi saksi.” Sayyid Qutbv juga menjelaskan tentang ayat ini bahwa seseungguhnya tugas Rasulullah`adalah meyampaikan risalah, bukan mengadakan kebaikan dan keburukan,karena ini termasuk urusan Allah, sebagaimana telah dikemukakan diatas. Sedangkan Allah menjadi saksi bahwa dia telah mengurus Rasulullah`untuk menunaikan tugas ini.” Dan cukuplah Allah menjadi saksi” sedangkan urusan manusia kepada Rasulullah`ialah bahwa orang yang ta’at kepada Rasul berarti ta’at kepada Allah. Maka, ia tidak memisah misahkan antara Allah dan Rasul-nya. Bagi orang yang berpaling dan mendustakan, maka urusan hisab dan pembalasannya terserah kepada Allah. Rasulullah` tidak diutus untuk memaksakan petunjuk dan agama kepadanya,serta tidak ditugaskan untuk menjaga mereka dari kemaksiatan dan kesesatan. Karena hal ini tidak termasuk tugas Rasul dan tidak termasuk dalam kekuasaan rasul[5].

Selain itu, Eksistensi dan posisi Rasulullah sebagai Educator (guru, pengajar) yang bijak dalam memberikan petunjuk juga terdokumentasikan dalam Hadist berikut yang diriwayatkan Imam Muslim dari Muawwiyah ibn al-Hakam as-Sulami : “Ketika aku sedang shalat ada seorang laki-laki bersin dan aku menjawabnya dengan “yarhamukallah” kemudian mereka memandang kewajahku sehingga aku-pun berkata dalam hati alangkah celakanya aku ; mengapa mereka memandangiku seperti itu ?mereka kemudian menepukan tangan mereka kepada paha mereka sebagai isyarat agar aku diam, maka akupun diam.ketika Rasulullah` selesai shalat beliau memanggilku untuk menasihatiku dan aku pun berkata :“Dan demi ayah dan ibuku, belum pernah sekalipun aku menemui seorang pengajar yang lebih baik pengajarannya daripada beliau, baik sebelum atau sesudah beliau. Demi Allah beliau tidak membentak atau menghardikku,tidak pula beliau memukul dan mencelaku. Bahkan (dengan santun) Rasulullah` menasihatiku : ‘sesungguhnya dalam shalat tidaklah dibenarkan seseorang mengucapkan sesuatu kecuali tasbih,takbir, dan bacaan al-Quran[6].

Menurut Abuddin Nata, di dalam al-Qur’an akan menjumpai empat pendidik secara garis besar (1997;65)[7].

1)   Allah

Allah sebagai pendidik utama menginginkan umat manusia menjadi baik dan hidup dengan bahagia baik di dunia maupun di akhirat. Oleh karena itu mahluknya harus memiliki bekal berupa etika dan pengetahuan. Untuk mencapai tujuan tersebut, Allah mengutus para Nabi-Nya sebagai perantara hidayah untuk patuh dan tunduk kepada-Nya, dan menyapaikan ajarannya kepada semua mahluk manusia. Firman Allah Qs. Al-Imran ayat 164:

لَقَدْ مَنَّ ٱللَّهُ عَلَى ٱلْمُؤْمِنِينَ إِذْ بَعَثَ فِيهِمْ رَسُولًا مِّنْ أَنفُسِهِمْ يَتْلُوا عَلَيْهِمْ ءَايَٰتِهِۦ وَيُزَكِّيهِمْ وَيُعَلِّمُهُمُ ٱلْكِتَٰبَ وَٱلْحِكْمَةَ وَإِن كَانُوا مِن قَبْلُ لَفِى ضَلَٰلٍ مُّبِينٍ

Artinya : “Sungguh Allah telah memberi karunia kepada orang-orang yang beriman ketika Allah mengutus di antara mereka seorang rasul dari golongan mereka sendiri, yang membacakan kepada mereka ayat-ayat Allah, membersihkan (jiwa) mereka, dan mengajarkan kepada mereka Al Kitab dan Al Hikmah. Dan sesungguhnya sebelum (kedatangan Nabi) itu, mereka adalah benar-benar dalam kesesatan yang nyata”.

Dari berbagai ayat al-Qur’an yang menerangkan tentang kedudukan Allah . Sebagai pendidik dapat dipahami bahwasanya Allah memiliki pengetahuan yang sangat luas dan ini merupakan isyarat bagi mahluknya bahawasanya seorang pendidik haruslah sebagai peneliti yang memiliki penemuan-penemuan baru. Sifat yang dimiliki Allah  yang lainnya adalah maha pemurah yang artinya Allah tidak kikir tentang ilmu-Nya.

2)   Nabi Muhammad

Sebagai pendidik kedua sejalan dengan pembinaan yang dilakukan oleh Allah terhadap Nabi, Allah  meminta beliau agar membina umatnya agar selalu berdakwah. Sebagaiman terserat dalam firman Alloh Qs. Al-Mudatstsir ayat 1-10 :

يَٰٓأَيُّهَا ٱلۡمُدَّثِّرُ ١  قُمۡ فَأَنذِرۡ ٢  وَرَبَّكَ فَكَبِّرۡ ٣  وَثِيَابَكَ فَطَهِّرۡ ٤  وَٱلرُّجۡزَ فَٱهۡجُرۡ ٥  وَلَا تَمۡنُن تَسۡتَكۡثِرُ ٦  وَلِرَبِّكَ فَٱصۡبِرۡ ٧ فَإِذَا نُقِرَ فِي ٱلنَّاقُورِ ٨  فَذَٰلِكَ يَوۡمَئِذٖ يَوۡمٌ عَسِيرٌ ٩  عَلَى ٱلۡكَٰفِرِينَ غَيۡرُ يَسِيرٖ ١٠

Artinya : “Hai orang yang berkemul (berselimut), bangunlah, lalu berilah peringatan, dan Tuhanmu agungkanlah, dan pakaianmu bersihkanlah, dan perbuatan dosa tinggalkanlah, dan janganlah kamu memberi (dengan maksud) memperoleh (balasan) yang lebih banyak, Dan untuk (memenuhi perintah) Tuhanmu, bersabarlah, Apabila ditiup sangkakala, maka waktu itu adalah waktu (datangnya) hari yang sulit, bagi orang-orang kafir lagi tidak mudah”.

 

 

Sejarah mencatat bahwa amanah tersebut dapat dilaksanakan oleh Nabi ` denga hasil yang sangat memuaskan. Hal tersebut tidaklah lepas dari metode yang Nabi`gunakan dalam mendidik umatnya, dengan cara kasih sayang dan keteladanan yang baik.

3)   Orang tua

Sebagai pendidik ketiga maka sifat-sifat yang harus dimiliki oleh orang tua sebagai pendidik yaitu harus memiliki hikmah atau kesadaran tentang kebenaran yang diperoleh melalui ilmu dan rasio, banyak bersyukur kepada Allah, senantiasa menasehati anaknya agar tidak menyekutukan Allah, memerintahkan anaknya agar melaksanakan shalat dan bersabar dalam menghadapi cobaan. Firman Allah:

وَإِذۡ قَالَ لُقۡمَٰنُ لِٱبۡنِهِۦ وَهُوَ يَعِظُهُۥ يَٰبُنَيَّ لَا تُشۡرِكۡ بِٱللَّهِۖ إِنَّ ٱلشِّرۡكَ لَظُلۡمٌ عَظِيمٞ ١٣

Artinya : “Dan (ingatlah) ketika Lukman berkata kepada anaknya, di waktu ia memberi pelajaran kepadanya: "Hai anakku, janganlah kamu mempersekutukan (Allah) sesungguhnya mempersekutukan (Allah) adalah benar-benar kelaliman yang besar".

4)   Orang lain

Keempat kejelasan mengenai orang lain sebagai pendidik antara lain secara tersirat dijelaskan dalam Qs.al-Kahfi (18); 60-82, ayat ini menerangkan nabi Musa yang diperintahkan agar selalu mengikuti Nabi Khidhir dan belajar kepadanya. Sebagai pendidik beliau mengira bahwasanya Nabi Musa tidak bisa bersabar, karena tidak memiliki ilmu. Oleh karena itu, Nabi Musa diminta berjanji agar selalu bersabar, selain itu, Nabi Khidhrr mengingatkan Nabi Musa agar tidak bertanya sebelum dijelaskan.

2.    Syarat-Syarat Pendidik

Didalam Buku Mencetak Generasi Rabbani disebutkan sepuluh karakter yang harus dimiliki oleh Pendidik dalam mendidik adalah :

a.    Ikhlas, rawatlah dan didiklah dengan penuh ketulusan dan niat ikhlas semata-mata mengharap keridhaan Allah Ta’ala. Cangkangkan niat semata-mata untuk Allah Ta’ala dalam seluruh aktivitas edukatif, baik berupa perintah, larangan, nasehat, pengawasan maupun hukuman.

b.    Bertakwa, hiasi diri anda dengan ketakwaan, sebab pendidik adalah contoh dan panutan sekaligus penanggung jawab pertama dalam pendidikan anak berdasarkan iman dan islam.

c.    Berilmu sebuah keharusan bahwa kedua orangtua harus mempunyai perbekalan ilmu yang memadai. Orangtua harus mengetahui konsep-konsep dasar pendidikan dalam islam. Mengetahui halal dan haram, prinsip-prinsip etika islam serta memahami secara global peraturan-peraturan dan kaidah-kaidah syari’at islam.

d.    Bertanggung jawab, memiliki rasa tanggung jawab yang besar dalam pendidik.

e.    Sabar dan Tabah, dua sifat ini mutlak dibutuhkan oleh setiap pendidik. Sebab dalam proses pendidikan tentu sangat banyak tantangan dan ujian.

f.      Lemah lembut dan tidak kasar, sifat lemah lembut ini akan membuat seseorang ( peserta didik ) menjadi nyaman dan lebih mudah dalam menerima pengajaran.

g.    Penyayang, perasaan sayang ini yang akan menjadi penghangat suasana dan menjadi proses pengajaran menjadi nyaman dan menyenangkan.

h.    Lunak dan Fleksibel, Lunak dan fleksibel bukan maksudnya lemah dan tidak tegas. Namun harus dipahami secara luas dan menyeluruh. Maksudnya disini lebih mengarah pada sikap mempermudah urusan dan tidak mempersulitnya.

i.      Tidak mudah marah, sifat mudah marah merupakan bagian dari sifat negative dalam pendidikan. Jika seorang pendidik mampu mengendalikan diri dan menahan amarahnya, maka hal itu akan membawa keberuntungan bagi dirinya dan peserta didiknya.

j.      Dekat namun berwibawa, pendidik yang sukses adalah pendidik yang benar-benar dekat dihati peserta didik. mereka selalu merindukannya mereka merasa gembira dan bahagia bersamanya. Ya, pendidik yang mengasihi dan dikasihi. Peserta didik bukan takut padanya, namun mereka sayang,hormat dan segan melanggar perintah dan kata-katanya[8].

 

3.    Kompetensi-Kompetensi Yang Harus Dimiliki Seorang Pendidik

a.    Kepribadian

Kompetensi kepribadian adalah “ kompetensi yang berkaitan dengan perilaku pribadi guru itu sendiri yang kelak harus memiliki nilai-nilai luhur yang sehingga terpancar dalam perilaku sehari-hari. Menurut Hamzah B.Uno, kompetensi kepribadian artinya : sikap kepribadian yang mantab sehingga mampu menjadi sumber intensifikasi bagi subjek. Dalam hal ini berarti memiliki kepribadian yang pantas diteladani, mampu melaksanakan kepemimpinan seperti yang dikemukakan Ki Hajar Dewantara , yaitu “ Ing Ngarso Sung Tulada , Ing Madya Mangun Karsa Tut Wuri Handayani “ .

Hal-hal yang terkait dengan kompetensi kepribadian antara lain:

-  Berimandanbertakwakepada Allah SWT.

-  Berakhlakmulia.

-  Arifdanbijaksana.

-  Demokratis.

-  Mantab.

-  Berwibawa.

-  Stabil.

-  Dewasa.

-  Jujur.

-  Sportif.

-  Menjaditeladanbagipesertadidik.

Dengan kompetensi kepribadian maka guru akan menjadi contoh dan teladan, serta membangkitkan motivasi belajar siswa. Oleh karena itu, seorang guru dituntut melalui sikap dan perbuatan menjadikan dirinya sebagai panutan dan ikutan orang-orang yang dipimpinnya.

Jadi kompetensi kepribadian ialah : sikap dan tingkah laku yang baik, patut untuk diteladani dan menjadi cerminan untuk peserta didik, manpu mengembangkan potensi dalam diri , serta yang paling utama bagi seorang guru yang berkepribadian yaitu bertaqwa kepada Tuhan Yang Maha Esa , mematuhi norma agama , hukum dan sosial yang berlaku.

 

b.    Sosial

Kompetensisosialyaitusuatukemampuanatauketerampilan yang dimiliki guru terkaitdenganhubunganataukomunikasidengan orang lain. Dengan memiliki kompetensi sosial ini. Seorang guru diharapkan mampu bergaul secara santun dengan pihak-pihak lain.

Hal-hal yang terkaitdengankompetensiiniadalah:

-       Mampumelakukankomunikasisecaralisandantulis.

-       Mampumenggunakanteknologi, komunikasidaninformasisecarabaik.

-       Mampubergaulsecarabaikdengan sesame sejahwat, pimpinan, pesertadidikdanmasyarakat.

-       Mampubergaulsecarasantundenganberbagaielemenmasyarakat.

-       Menerapkanpersaudaraansejatidanmemilikisemangatkebersamaan.

Guru profesional hendaknya mampu memikul dan melaksanakan tanggung jawab sebagai guru kepada siswa, orang tua,masyarakat, bangsa, negara, dan agamanya. Jadi, sebagai guru yang baik dan profesional itu tidak hanya mampu berkomunikasi dengan lingkungan kelas dan sekolah tetapi juga bisa berhubungan baik dengan masyarakat sekitar, bisa menjadi sumber ilmu bagi masyarakat dan memberi kontribusa yang positif.

c.    Pedagogik

Kompetensi Pedagogik adalah pemahaman guru terhadap anak didik, perencanaan, pelaksanaan pembelajaran, evaluasi hasil belajar, dan pengembangan anak didik untuk mengaktualisasikan sebagai kompetensi yang dimilikinya. Kompetensi pedagogik ini juga sering dimaknai sebagai kemampuan mengelola pembelajaran, yang mana mencakup tentang konsep kesiapan mengajar, yang ditunujkkan oleh penguasaan pengetahuan dan keterampilan mengajar[9].Hal-hal yang harus dimilki terkait dengan kompetensi pedagogik adalah :

-  Memilikiwawasanlandasanpendidikan

-  Memilikipemahamanterhadappesertadidik

-  Memiikipengetahuanuntukmengembangkankurikulumdansilabus

-  Mampumenyusunperencanaaanpembelajaran

-  Mampumelakasanakanpembelajaran yang dialogis

-  Mampumemanfaatkansaranateknologi

-  Mampumelaksanakanevaluasipembelajaran

-  Mampumengembangkanpotensipesertadidik.

d.    Profesional

Dalam peraturan Pemerintah No.19 tahun 2005 , pada pasal 28 ayat 3 yang dimaksud dengan kompetensi profesional adalah kemampuan penguasaan materi pembelajaran secara luas dan mendalam yang memungkinkan nya membimbing peserta didik memenuhi standar kompetensi yang di tetapkan dalam Standar Nasional Pendidikan .

Maka KompetensiProfesionalyaitukemampuanmenguasaiilmupengetahuansecaramendalamuntukbahanmelaksanakan proses pembelajaran. Dengan menguasai materi, maka diharapkan guru akan mampu menjelaskan materi ajar dengan baik, dengan ilustrasi jelas dan landasan yang mampan, dan dapat memberikan contoh yang kontekstual.

Hal-hal yang terkaitdengankompetensiiniadalah:

-  Menguasaimaterisecaraluasdanmendalamsesuaidenganstandarisi program satuanpendidikan, matapelajarandanataukelompokmatapelajaran yang akandiampu.

-  Menguasaikonsepdanmetodedisiplinkeilmuan, teknologiatauseni yang relevan yang secarakonseptualkoherndengan program satuanpendidikan, matapelajarandanataukelompokpelajaran yang akandiampu.

-  Menguasai iklim belajar di kelas, diantaranya yaitu memiliki keterampilan interpersonal, khususnya kemampuan untuk menunjukkan empati, penghargaan kepada anak didik dan ketulusan[10].

4.    Tugas dan Peranan Pendidik Dalam Pembelajaran

Tugas pendidik Akhlak pendidik yang berkaitan dengan pelaksanaan tugas menghadapi para peserta didik telah dikemukakan oleh para ahli pendidikan. Ibnu khaldun misalnya, berpendapat bahwa seseorang pendidik hendaknya mendidik secara bertahap, mengulang-ulang sesuai dengan pokok bahasan dan kesanggupan peserta didik, tidak memaksakan atau membunuh daya nalar peserta didik, tidak berpindah dari satu topic ketopik lain sebelum topic pertama dikuasai, tidak memandang kelupaan sebagai suatu aib, tetapi agar mengatasinya dengan jalan mengulang. Jangan bersikap keras dengan peserta didik, memilih bidang kajian yang dikuasai peserta didik, mendekatkan pererta didik pada pencapaian tujuan memperlihatkan tingkat kesanggupan pererta didik dan menolongna agar mampu memahami pelajaran (Syamsudin, 1984: 83-66).

a.    Tugas dalam bidang profesi

Pendidik adalah orang orang yang bekerja dalam bidang pendidikan yang ikut bertanggung jawab dalam membantu peserta didik mencapai kedewasaannya, yang tentunya orang-orang tersebut memiliki keahlian dalam menjalankan tugasnya yang berkaitan dengan pendidikan. Jenis pekerjaan ini tidak dapat dilakukan sembarang orang diluar pendidikan.walaupun kenyataannya masih dilakukan orang diluar pendidikan. Tugas pendidik sebagai profesi mencakup mendidik, mengajar dan melatih. Mendidik dan mengajar berarti meneruskan dan mengembangkan ilmu pengetahuan dan teknologi. Sementara melatih berarti mengembangkan keterampilan-keterampilan pada perserta didik.

b.    Tugas dalam bidang kemanusiaan

Pendidik yang bersifat membantu mengembangkan potensi peserta didik. meletakan pendidik pada sosok yang berperan sebagai fasilisatr, dinamisator, danmobilisator. Komunikasi belajar yang dibagun dalm hal ini adalahkomunikasi dua arah yang sama-sama berfungsi memberi dan menerima. dalam hal ini pendidik bukanlah segalanya. ia hanyalah menjadi mitra peserta didik dalm belajar. Buku referinsi, pengetahuan, dan ilmulah yang harus dikedepankan, sehingga kebenaran bisa saja datang dari peserta didik sehingga pendidik oun dapat belajar dari peserta didiknya.

c.    Tugas dalam bidang kemasyarakatan

Masyarakat menempatkan pendidik pada tempat yang lebih terhormat dilingkungannya karena dari seorang pendidik diharapkan masyarakat dapat memperoleh ilmu pengetahuan. ini berarti pendidik berkewajiban mencerdaskan bangsa menuju pembentukan manusia seutuhnya (insan kamil). Tugas dan peran pendidik tidaklah terbatas didalam masyarakat, bahkan guru pada hakikatnya merupakan komponen strategis yang memilih peran yang penting dalam menentukan gerak maju bangsa. Bahkan, keberadaan pendidik merupakan factor yang tidak mungkin digantikan oleh komponen manapun dalam kehidupan bangsa sejak dahulu, terlebih-lebih pada era kontemporer sekarang ini.

Peran pendidik dalam proses belajar-mengajar Peran pendidik sebagai proses belajar-mengajar meliputi banyak hal. Hal yang akan dikemukan disini adalah peranan yang dianggap paling domain, diantaranya adalah[11]:

a.    Peran Pendidik sebagai demonstrator

Melalui peran demonstrator, lecturer atau pengajar, pendidik hendaknya senantiasa menguasai bahan atau materi pelajaran yang akan diajarkannya serta senantiasa dikembangkannya dalam arti meningkatkan kemampuannya dalam hal ilmu yang dimilikinya. Disebabkan hal ini akan sangat menentukan hasil bealajar yang dicapai oleh peserta didik. salah satu yang harus diperhatiakn pendidik, bahwa ia sendiri adalah pelajar. Ini berarti bahwa pendidik harus belajar terus-menerus. Dengan cara demikian ini akan memperkaya dirinya dengan ilmu pengetahuan sebagai bekal dalam melaksanakan tugasnya sebagai pengajar dan demonstrator, sehingga mampu memperegangkan apa yang diajarkan secari didaktis, maksudnya, agar apa yang disampaikan ini betul-betul dimiliki oleh peserta didik.

b.    Peran pendidik sebagai pengelola kelas

Dalam perannya sebagai pengola kelas, pendidik hendaknya mamp mengelola kelas sebagai lingkungan belajar serta merupakan aspek dari lingkungan sekolah yang perlu diorganisasi. Lingkungan ini diurus dan diawasi agar kegiatan-kegiatan belajar terarah kepada tujuan-tujuan pendidikan. Tujuan umum adalah menyediakan dan menggunakan fasilitas kelas untuk bermacam-macam kegiatan belajar mengajar agar mencapai hasil yang baik. Sementar tujuan khusus adalah mengembangkan kemampuan peserta didik dalam menggunakan alat-alat belajar, menyediakan kondisi-kondisi yang memungkinkan peserta didik bekerja dan belajar, serta membantu peserta didik untuk memperolaeh hasil yang diharapkan.

c.    Peran pendidik sebagai mediator dan fasilitator

Sebagai mediator pendidik hendaknya memiliki pengetahuan dan pemahaman yang mencakup tentang media pendidikan karena media pendidikan merupakan alat komunikasi untuk lebih mengefektifkan proses belajar mengajar. Untuk itu, pendidik tidak cukup hanya memiliki pengetahuan tentang media pendidikan tetapi juga harus memiliki keterampilan memilih dan menggunakan serta harus mengusahakan media itu dengan baik. Sebagai mediator peserta didik pun menjadi perantara dalam hubungan antar-manusia. Untuk itu, pendidik harus terampil mempergunakan pengetahuan tentang bagaimana orang berinteraksi dan berkomunikasi. Tujuan agar pendidik dapat menciptakan secara maksimal kualaitas lingkungan yang interaktif. Sebagai fasilitator, pendidik hendaknya membantu peserta didik mau dan mampu untuk mencari, mengolah, dan memakai informasi, memperbanyak mutu pemberian tugas, pekerjaan rumah, ujian, dan lain-lain yang mampu “memaksa” secara tidak sadar, membiasakan peserta didik untuk mencari dan membaca berbagai referensi, menggunakan perpustakaan , mengoptimalkan manfaat internet, menulis laporan dengan computer, dan mempresentasikannya.

d.    Peran pendidik sebagai evaluator

Pendidik harus mengetahui keberhasilan pencapaikan tujuan, penguasaan peserta didik terhadap pelajaran,serta ketepatan atau keefektifan metode mengajar. Tujuan lain dari penilaian diantaranya untuk mengetahui kedudukan peserta didik didalam kelas atau kelompok. Dengan menelaah pencapaian tujuan pengajaran, pendidik dapat mengetahui apakah proses belajar–mengajar yang dilakukan cukup efektif memberikan hasil yang baik dan memuaskan atau sebaliknya.

e.    Peran pendidik dalam pengadministrasian

Dalam hubungan dengan kegiatan pengadministrasian, seseorang pendidik dapat berperan,sebagai berikut :

-  Pertama, sebagai pengambil inisiatif, pengarah, dan penilai kegiatan-kegiatan pendidik.

-  Kedua, sebagai wakil masyarakat, yang berarti dalam lingkungan sekolah pendidik menjadi anggota suatu masyarakat, pendidik harus mencerminkan suasana dan kemauan masyarakat dalam arti yang baik.

-  Ketiga, sebagai orang yang ahli dalam mata pelajaran, pendidik bertanggungjawab mewariskan kebudayaan kepada generasi muda yang berupa pengetahuan.

-  Keempat, sebagai penegak disiplin, pendidik harus menjaga adar tercapai suatu disiplin.

-  Kelima,sebagai pelaksana administrasi pendidik. Disamping sebagai pengajar, pendidikpun bertanggung jawab akan kelancaran jalannya pendidikan dan ia harus mampu melaksanakan kegiatan-kegiatan admisnistrasi.

-  Keenam, sebagai pemimpin generasi muda. Masa depan peserta didik terletak ditangan pendidik. Ketujuh,sebagai penerjemah kepada masyarakat, artinya pendidik berperan untuk menyampaikan segala perkembangan kemajuan dunia sekitar kepada masyarakat, khususnya masalah-masalah pendidikan.

f.      Peran pendidik secara pribadi

Dilihat dari segi dirinya sendiri (self oriented), seorang pendidik harus berperan, antara lain :

-  Sebagai petugas social, yaitu seorang yang harus membantu untuk kepentingan masyarakat

-  Sebagai pelajar dan ilmuan, yaitu senantiasa terus-menerus menuntu ilmu pengetahuan dengan berbagai cara setiap saat pendidik senantiasa belajar untuk mengikuti perkembangan ilmu pengetahuan

-  Sebagai orangtua, yaitu, mewakili orang tua murid disekolah dalam pendiidkan anaknya

-  Sebagai pencari teladan, yaitu yang senantiasa mencarikan teladan yang baik untuk peserta didik

-  Sebagai pencari keamanan, yaitu yang senantiasa mencarikan rasa aman bagi peserta didik.

g.    Peran pendidik secara psikologis

Dilihat dari peran pendidik secara psikologis, pendidik dipandang antar lain;

-  Sebagai ahli psikologi pendidikan, yang melaksanakan tugasnya atas dasar prinsip-prinsip psikologi

-  Sebagai seniman dalam hubungan antara manusia, yaitu orang yang mampu membuat hubungan antara manusia untuk tujuan tertentu, khususnya dalam kegiatan pendidikan

-  Sebagai pembentuk kelompok, sebagai jalan atau alat dalam pendiidkan.

-  Sebagai katalytic agent, yaitu orang yang mempunyai pengaruh dalam menimbulkan pembaruan atau innovator

-  Sebagai petugas kesehatan mental (Mental Hygiene Worker), yaitu yang bertanggungjawab terhadap pembinaan kesehatan mental khususnya kesehetan mental peserta didik.

Pendidik dalam perspektif pendidikan Islam, sebagai pemegang amanah mendidik dan mengajar, yang memiliki dua peran sekaligus, yaitu peran transfer knowledge dan transfer of value. Misi ilmu pengetahuan meniscayakan pendidik untuk menyampaikan ilmu sesuai dengan perkembangan dan tuntutat masa depan (aspek IQ) sehingga sebagai generasi yang hidup pada hari ini dan untuk esok hari dan terkait dengan hari kemarin, peserta didik tidak terputus dari mata rantai yang ada dan terasing dari dunianya, tetapi justru dapat mengambil inisiatif dan peran ditengah-tengah masyarakat.

Kehidupan sebagai mata rantai yang saling kalindan(benang yg baru dipintal)yang tidak dapat diputus dari satu sisi untuk menonjolkan satu sisi lainnya. Masa lalu sebagia bagian sejarah apapun dan bagaimanapun dia, tidak dapat dihapuskan. Kesadaran akan peran kekinian sebagai sebuah realitas yang harus disadari harus membangkitkan semangat untuk menatap masa depan dengan realistis. Kesadaran bahwa sekarang adalah sebuah kenyataaan yang harus ditumbuhkan sehingga peserta didik tidak terbuai oleh kenangan masa lalu. Keyakinan adanya hari esok sebagai sebuah kelanjutan perjalanan hidup juga harus ditumbuhkan, sehiingga peserta didik akan memiliki mimpi dan cita-cita sebagai harapan untuk menatap masa depan yang lebih baik.

5.    Ayat-Ayat Al Quran Dan Hadits Tentang Pendidik

-  Qs. Al-Imran ayat 79

مَا كَانَ لِبَشَرٍ أَن يُؤۡتِيَهُ ٱللَّهُ ٱلۡكِتَٰبَ وَٱلۡحُكۡمَ وَٱلنُّبُوَّةَ ثُمَّ يَقُولَ لِلنَّاسِ كُونُواْ عِبَادٗا لِّي مِن دُونِ ٱللَّهِ وَلَٰكِن كُونُواْ رَبَّٰنِيِّ‍ۧنَ بِمَا كُنتُمۡ تُعَلِّمُونَ ٱلۡكِتَٰبَ وَبِمَا كُنتُمۡ تَدۡرُسُونَ ٧٩

Artinya : “Tidak wajar bagi seseorang manusia yang Allah berikan kepadanya Al Kitab, hikmah dan kenabian, lalu dia berkata kepada manusia: "Hendaklah kamu menjadi penyembah-penyembahku bukan penyembah Allah". Akan tetapi (dia berkata): "Hendaklah kamu menjadi orang-orang rabbani, karena kamu selalu mengajarkan Al Kitab dan disebabkan kamu tetap mempelajarinya”.

-  Qs. ‘Abasa ayat 1-3

عَبَسَ وَتَوَلَّىٰٓ ١ أَن جَآءَهُ ٱلۡأَعۡمَىٰ ٢  وَمَا يُدۡرِيكَ لَعَلَّهُۥ يَزَّكَّىٰٓ ٣

Artinya : “Dia (Muhammad) bermuka masam dan berpaling, karena telah datang seorang buta kepadanya, tahukah kamu barangkali ia ingin membersihkan dirinya (dari dosa)”.

-  Qs. Al-Kahfi ayat 66

قَالَ لَهُۥ مُوسَىٰ هَلۡ أَتَّبِعُكَ عَلَىٰٓ أَن تُعَلِّمَنِ مِمَّا عُلِّمۡتَ رُشۡدٗا ٦٦

Artinya : “Musa berkata kepada Khidhr: "Bolehkah aku mengikutimu supaya kamu mengajarkan kepadaku ilmu yang benar di antara ilmu-ilmu yang telah diajarkan kepadamu?”.

-  Qs. Luqman ayat 13

وَإِذۡ قَالَ لُقۡمَٰنُ لِٱبۡنِهِۦ وَهُوَ يَعِظُهُۥ يَٰبُنَيَّ لَا تُشۡرِكۡ بِٱللَّهِۖ إِنَّ ٱلشِّرۡكَ لَظُلۡمٌ عَظِيمٞ ١٣

Artinya : “Dan (ingatlah) ketika Luqman berkata kepada anaknya, di waktu ia memberi pelajaran kepadanya: "Hai anakku, janganlah kamu mempersekutukan Allah, sesungguhnya mempersekutukan (Allah) adalah benar-benar kezaliman yang besar"

-  Qs. Ar-Rahman ayat 1-4

ٱلرَّحۡمَٰنُ ١  عَلَّمَ ٱلۡقُرۡءَانَ ٢  خَلَقَ ٱلۡإِنسَٰنَ ٣  عَلَّمَهُ ٱلۡبَيَانَ ٤

Artinya : “(Tuhan) Yang Maha Pemurah, Yang telah mengajarkan al Quran, Dia menciptakan manusia, Mengajarnya pandai berbicara”.

قال رسول الله إنما أنا مثل الوالد لولده بأن يقصد انقاذهم من نار الآخرة وهو أهم من انقاذ الوالدين ولدهما من نار الدنيا ولذلك صار حق المعلم أعظم من حق الوالدين فإن الوالد سبب الوجود الحاضر والحياة الفانية والعلم سبب الحياة الياقية ولو لا المعلم لانساق ما حصل من جهة الأب إلى الهلاك الدائم

Artinya:Rosululloh SAW. bersabda: “Sesungguhnya Aku laksana orang tua bagi anaknya”, yang mempunyai tujuan menyelamatkan dari api neraka, dan ini lebih penting daripada para orang tua yang menyelamatkan anaknya dari api dunia (ekonomi), dan dari situ hak pengajar ilmu agama lebih agung daripada kedua orang tua, karena orang tua sebagai sebab keberadaan anak di dunia fana, sedangkan Ilmu sebab mendapatkan kehidupan kekal (Akhirot), dan andai tidak ada pengajar, maka sesuatu yang timbul dari ayah (meneyelamatkan dari api dunia/ekonomi) akan menggiring pada kerusakan selamanya.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

DAFTAR PUSTAKA

Choiriyah, Ummu Ihsan & Abu Ihsan al-Atsary, Mencetak Generasi Rabbani, Jakarta : darul ilmi publishing, 2013.

Muchith, Saekhan, Issu-IssuKontemporerDalamPendidikan Islam, DIPA STAIN Kudus, Kudus, 2009.

Quthb, Sayyid, Tafsir fi Zhilalil ’Qu’ran, Yogyakarta : Gema Insani Press, jilid 11, 2010.

Ramayulis, Ilmu Pendidikan Islam, Jakarta : Kalam Mulia, 2012.

Salim, Moh. Haitami dan Syamsul Kurniawan, Studi Ilmu Pendidikan Islam, Ar-Ruzz Media, 2012.

Tafsir, Ahmad, Ilmu Pendidikan Dalam Perspektif Islam, Jakarta : Remaja Rosdakarya, 2012.

Wibowo, Agus dan Hamrin, Menjadi Guru Berkarakter, Yogyakarta, Pustaka Pelajar, 2012.

Zoerni, Mochtar,40 Metode Pendidikan dan Pengajaran Rosulullah solallohualaihi wa salam, Jakart : Irsyad Baitus Salam, 2012.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 



 



[1]Ramayulis, Ilmu Pendidikan Islam, (Jakarta : Kalam Mulia, 2012). Cet 9. Hal. 102

[2]Moh. Haitami Salim dan Syamsul Kurniawan, Studi Ilmu Pendidikan Islam, Ar-Ruzz Media, 2012. Hal. 135

[3]Ahmad Tafsir, Ilmu Pendidikan Dalam Perspektif Islam, (Jakarta : Remaja Rosdakarya, 2012). Hal. 74.

[4]Sayyid Quthb, Tafsir fi Zhilalil ’Qu’ran, (Yogyakarta : Gema Insani Press, jilid 11), hal. 270.

[5] Ibid

[6]Mochtar Zoerni, 40 Metode Pendidikan dan Pengajaran Rosulullah solallohualaihi wa salam, ( Jakart : Irsyad Baitus Salam, 2012). Hal. 23-24.

[7]Moh. Haitami Salim dan Syamsul Kurniawan, Studi Ilmu Pendidikan Islam, (Yogyakart : Ar-Ruzz Media, 2012). Hal. 138-141.

[8]Ummu Ihsan Choiriyah & Abu Ihsan al-Atsary, Mencetak Generasi Rabbani, (Jakarta : darul ilmi publishing, 2013), Hal. 47-59

[9]Agus Wibowo dan Hamrin, Menjadi Guru Berkarakter, (Yogyakarta, Pustaka Pelajar, 2012), hal 110

[10]SaekhanMuchith, Issu-IssuKontemporerDalamPendidikan Islam, (DIPA STAIN Kudus, Kudus, 2009), hal 46-47

[11]Moh. Haitami Salim dan Syamsul Kurniawan, Studi Ilmu Pendidikan Islam, (Yogyakarta : Ar-Ruzz Media, 2012). Hal. 144-146.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Contoh makalah Malcolm Baldrige National Quality Award

RENCANA PELAKSANAAN PEMBELAJARAN TPA

Contoh makalah Daulah Abbasiyah