SEJARAH PENDIDIKAN ISLAM DI INDONESIA
PENDIDIk
Siapa itu Pendidik,,,yuk kita baca sama-sama dari beberapa pakar.....!!!!!
Salah satu
komponen penting yang mendukung tercapainya sebuah tujuan pendidikan adalah
adanya seorang pendidik yang berkualitas, profesional dan berpengetahuan.
Memiliki kompetensi-kompetensi sebagai seorang pendidik, karena seorang
pendidik bukan hanya mengajar, mendidik, mengarahkan, namun seorang pendidik
adalah juga sebagai fasilitator, inspirator, sahabat, orang tua, inovator,
maupun motivator.
Dari segi
bahasa pendidik adalah orang yang mendidik (Poerwadarminta, 1976;250) dari segi
pengertian ini timbul kesan bahwa pendidik ialah orang yang melakukan kegiatan
dalam hal mendidik. Dalam bahasa Inggris ditemui beberapa kata yang mendekati
maknanya dengan pendidik. Kata-kata tersebut seperti teacher yang
berarti guru atau pengajar,dan tutor yang berarti guru pribadi atau guru yang
mengajar dirumah (Echols dan Shadily,1980;560). Dalam bahasa Arab dijumpai kata
Ustadz, Mudarrist, Mu’allim dan Muad’dib. Kata Ustadz
jama’nya Asaatidz yang berarti teacher atau guru, professor
(gelar akademik atau jenjang dibidang intelektual), pelatih, penulis, dan
penyair (Wehr,1974:15). Sementara kata Mudarris berarti teacher (guru),instructur
(pelatih), dan lecturer (dosen).
Selanjutnya
kata Mual’llim yang berarti teacher (guru) trainer (pemandu). Kemudian, kata
Muad’dib berarti Educator (pendidik) atau teacher in Quranic School(guru dalam
lembaga pendidikan al-Quran). Didalam al-Quran ditemukan beberapa kata yang
menunjukan kepada pengertian pendidik :
a.
Qs.Al-Ankabut ayat 43
وَتِلۡكَ ٱلۡأَمۡثَٰلُ نَضۡرِبُهَا لِلنَّاسِۖ وَمَا يَعۡقِلُهَآ
إِلَّا ٱلۡعَٰلِمُونَ ٤٣
Artinya : “Dan
perumpamaan-perumpamaan ini Kami buat untuk manusia; dan tiada yang memahaminya
kecuali orang-orang yang berilmu”
b.
Qs. Fatir ayat 28
وَمِنَ ٱلنَّاسِ وَٱلدَّوَآبِّ وَٱلۡأَنۡعَٰمِ مُخۡتَلِفٌ
أَلۡوَٰنُهُۥ كَذَٰلِكَۗ إِنَّمَا يَخۡشَى ٱللَّهَ مِنۡ عِبَادِهِ
ٱلۡعُلَمَٰٓؤُاْۗ إِنَّ ٱللَّهَ عَزِيزٌ غَفُورٌ ٢٨
Artinya : “Dan demikian
(pula) di antara manusia, binatang-binatang melata dan binatang-binatang ternak
ada yang bermacam-macam warnanya (dan jenisnya). Sesungguhnya yang takut kepada
Allah di antara hamba-hamba-Nya, hanyalah ulama. Sesungguhnya Allah Maha
Perkasa lagi Maha Pengampun”.
Dalam ayat
tersebut pendidik Adalah orang yang mengusai ilmu mampu mengembangkannya dan
menjelsakan fungsinya dalam kehidupan, serta menjelaskan dimensi teoritis dan
praktisnya sekaligus.
c.
Qs. Al-Isra ayat 24
وَٱخۡفِضۡ
لَهُمَا جَنَاحَ ٱلذُّلِّ مِنَ ٱلرَّحۡمَةِ وَقُل رَّبِّ ٱرۡحَمۡهُمَا كَمَا
رَبَّيَانِي صَغِيرٗا ٢٤
Artinya : “Dan rendahkanlah dirimu terhadap mereka berdua dengan penuh
kesayangan dan ucapkanlah: "Wahai Tuhanku, kasihilah mereka keduanya,
sebagaimana mereka berdua telah mendidik aku waktu kecil"
Dalam ayat
tersebut pendidik Adalah pendidik yang mampu menyiapkan, mengatur, mengelola,
membina, memimpin, membimbing, dan mengembangkan potensi kreatif serta mendidik
yang dapat digunakan bagi pengolaan dan pemanfaat sumber daya alam yang berguna
bagi dirinya, dan makhluk Allah disekelilingnya.
d.
Mudarris Adalah pendidik yang mampu
menciptakan suasana pembelajaran yang dialogis dan dinamis, mampu yang
membelajarkan peserta didik dengan belajar mandiri, atau memperlancar
pengalaman belajar dan menghasilkan warga belajar.
e. Mursyid Adalah
pendidik yang menjadi sentral figure (al-uswat al-hasanat) bagi peserta
didiknya, memiliki wibawa yang tinggi di depan peserta didiknya, mengamalkan
ilmu secara konsisten, bertaqarrub kepada Allah, merasakan kelezatan dan
manisnya iman terhadap Allah.. Pendidik yang didengarkan perkataannya,
dikerjakan perintahnya, dan diamalkan nasehat-nasehatnya tempat mengadukan
semua persoalan yang dialami umat, serta menjadi konsultan bagi peserta
didiknya.
f.
Muzakki Adalah pendidik yang
bersifat hati-hati terhadap apa yang akan diperbuat, senantiasa mensucikan
hatinya dengan cara menjauhi semua bentuk sifat-sifat mazmumah dan mengamalkan
sifat-sifat mahmudah. Oleh karena itu, pendidik bertugas untuk menjaga potensi
suci peserta didik serta berusaha memberikan terapi dan metode kepada
murid-muridnya melalui konsep-konsep tazkiyat al-naf, tazkiyat al-aql, dan
tazkiyat al-jism.
g.
Mukhlis Adalah pendidik yang
melaksanakan tugasnya dalam mendidik dan mengutamakan motivasi ibadah yang
benar-benar ikhlas karena Allah[1].
Kata-kata
tersebut secara keseluruhan terhimpun dalam pengertian pendidik, karena pada
dasarnya kesemuanya mengacu pada seseorang yang memberikan pengetahuan,
keterampilan, atau pengalaman kepada orang lain. Mungkin hanya ada perbedaan
istilah dalam penggunaannya. Jika suatu pengetahuan diberiakan disekolah
pengajarnya disebut teacher (guru), diperguruan tinggi disebut lecturer atau
professor, dirumah-rumah secara peribadi disebut tutor, dipusat-pusat latihan
disebut instructure atau trainer dan dilembaga pendidikan yang mengajarkan
agama disebut Educator (Nata;1997:62)[2].
Sama dengan
teori Barat, pendidik dalam Islam ialah siapa saja yang bertanggung jawab
terhadap perkembangan anak didik. Dalam Islam, orang yang paling
bertanggungjawab adalah orang tua (ayah dan ibu) anak didik. Tanggung jawab itu
disebabkan sekurang-kurangnya oleh dua hal: pertama karena kodrat, yaitu karena
orang tua tersebut ditakdirkan menjadi orang tua anaknya, kedua karena
kepentingan orang tua, yaitu orang tua berkepentingan terhadap kemajuan
perkembangan anaknya, sukses anaknya adalah sukses orang tua juga. Tanggung
jawab pertama dan utama terletak pada orang tua berdasarkan juga pada firman
Allah, seperti yang tersebut dalam al-Quran : قُوٓا
أَنفُسَكُمْ وَأَهْلِيكُمْ نَارًا (Peliharalah
diri kalian dan keluarga kalian dari api neraka). “Diri kalian” yang disebut
ayat tersebut adalah diri orang tua anak tersebut, yaitu ayah dan ibu ;“anggota
keluarga” dalam ayat ini adalah terutama anak-anaknya. Sama dengan pendidikan
teori Barat, tugas pendidik dalam pandangan Islam secara umum ialah mendidik,
yaitu mengupayakan perkembangan seluruh potensi anak didik baik potensi
psikomotorik, kognitif, maupun potensi afektif. Potensi itu harus dikembangkan
secara seimbang sampai ketingkat setinggi mungkin, menutut ajaran Islam. Karena
orang tua adalah pendidik pertama dan utama, maka inilah tugas orang tua
tersebut[3].
Sebagai
contoh Eksistensi dan posisi Rasulullah`sebagai sang educator (pendidik,
pengajar, guru) bagi seluruh manusia telah bayak diungkapkan dalam al-Quran
dibeberapa ayat, sebagaimana firman Allah Qs. Al-Jumuah ayat 2 berikut :
هُوَ ٱلَّذِي بَعَثَ فِي ٱلۡأُمِّيِّۧنَ رَسُولٗا مِّنۡهُمۡ
يَتۡلُواْ عَلَيۡهِمۡ ءَايَٰتِهِۦ وَيُزَكِّيهِمۡ وَيُعَلِّمُهُمُ ٱلۡكِتَٰبَ
وَٱلۡحِكۡمَةَ وَإِن كَانُواْ مِن قَبۡلُ لَفِي ضَلَٰلٖ مُّبِينٖ ٢
Artinya : “Dialah yang
mengutus kepada kaum yang buta huruf seorang Rasul di antara mereka, yang
membacakan ayat-ayat-Nya kepada mereka, mensucikan mereka dan mengajarkan
mereka Kitab dan Hikmah (As Sunnah). Dan sesungguhnya mereka sebelumnya
benar-benar dalam kesesatan yang nyata”
Sayyid Qutbv menjelaskan ayat وَيُعَلِّمُهُمُ
ٱلْكِتَٰبَ وَٱلْحِكْمَةَ (mengajarkan
kepada mereka Kitab dan Hikmah ) yaitu Rasulullah`mengajarkan kepada mereka
tentang kitab al-Quran, maka merekapun menjadi ahli dalam perkara kitab itu.
Rasulullah` pun mengajarkan kepada mereka sehingga merekapun mengetahui
hakikat-hakikat segala sesuatu. Merekapun baik dalam menentukan dan mengatur
segala sesuatu. Ruh-ruh mereka pun diilhami dengan kebenaran dalam berhukum dan
beramal dan itu merupakan kebaikan yang melimpah[4].
وَأَرْسَلْنَٰكَ لِلنَّاسِ رَسُولًا وَكَفَىٰ بِٱللَّهِ
شَهِيدًا “Kami
mengutusmu menjadi Rasul kepada segenap manusia. Dan cukuplah AllahQ menjadi
saksi.” Sayyid Qutbv juga menjelaskan tentang ayat ini bahwa seseungguhnya tugas
Rasulullah`adalah meyampaikan risalah, bukan mengadakan kebaikan dan
keburukan,karena ini termasuk urusan Allah, sebagaimana telah dikemukakan
diatas. Sedangkan Allah menjadi saksi bahwa dia telah mengurus Rasulullah`untuk
menunaikan tugas ini.” Dan cukuplah Allah menjadi saksi” sedangkan urusan
manusia kepada Rasulullah`ialah bahwa orang yang ta’at kepada Rasul berarti
ta’at kepada Allah. Maka, ia tidak memisah misahkan antara Allah dan Rasul-nya.
Bagi orang yang berpaling dan mendustakan, maka urusan hisab dan pembalasannya
terserah kepada Allah. Rasulullah` tidak diutus untuk memaksakan petunjuk dan
agama kepadanya,serta tidak ditugaskan untuk menjaga mereka dari kemaksiatan
dan kesesatan. Karena hal ini tidak termasuk tugas Rasul dan tidak termasuk
dalam kekuasaan rasul[5].
Selain itu, Eksistensi dan posisi Rasulullah sebagai Educator (guru,
pengajar) yang bijak dalam memberikan petunjuk juga terdokumentasikan dalam
Hadist berikut yang diriwayatkan Imam Muslim dari Muawwiyah ibn al-Hakam
as-Sulami : “Ketika aku sedang shalat ada seorang laki-laki bersin dan aku
menjawabnya dengan “yarhamukallah” kemudian mereka memandang kewajahku sehingga
aku-pun berkata dalam hati alangkah celakanya aku ; mengapa mereka memandangiku
seperti itu ?mereka kemudian menepukan tangan mereka kepada paha mereka sebagai
isyarat agar aku diam, maka akupun diam.ketika Rasulullah` selesai shalat
beliau memanggilku untuk menasihatiku dan aku pun berkata :“Dan demi ayah dan
ibuku, belum pernah sekalipun aku menemui seorang pengajar yang lebih baik
pengajarannya daripada beliau, baik sebelum atau sesudah beliau. Demi Allah
beliau tidak membentak atau menghardikku,tidak pula beliau memukul dan
mencelaku. Bahkan (dengan santun) Rasulullah` menasihatiku : ‘sesungguhnya
dalam shalat tidaklah dibenarkan seseorang mengucapkan sesuatu kecuali
tasbih,takbir, dan bacaan al-Quran[6].
Menurut Abuddin Nata, di dalam al-Qur’an akan menjumpai empat pendidik secara
garis besar (1997;65)[7].
1)
Allah
Allah sebagai pendidik utama menginginkan umat manusia
menjadi baik dan hidup dengan bahagia baik di dunia maupun di akhirat. Oleh
karena itu mahluknya harus memiliki bekal berupa etika dan pengetahuan. Untuk mencapai
tujuan tersebut, Allah mengutus para Nabi-Nya sebagai perantara hidayah untuk
patuh dan tunduk kepada-Nya, dan menyapaikan ajarannya kepada semua mahluk
manusia. Firman Allah Qs. Al-Imran ayat 164:
لَقَدْ مَنَّ ٱللَّهُ عَلَى
ٱلْمُؤْمِنِينَ إِذْ بَعَثَ فِيهِمْ رَسُولًا مِّنْ أَنفُسِهِمْ يَتْلُوا
عَلَيْهِمْ ءَايَٰتِهِۦ وَيُزَكِّيهِمْ وَيُعَلِّمُهُمُ ٱلْكِتَٰبَ وَٱلْحِكْمَةَ
وَإِن كَانُوا مِن قَبْلُ لَفِى ضَلَٰلٍ مُّبِينٍ
Artinya : “Sungguh
Allah telah memberi karunia kepada orang-orang yang beriman ketika Allah
mengutus di antara mereka seorang rasul dari golongan mereka sendiri, yang
membacakan kepada mereka ayat-ayat Allah, membersihkan (jiwa) mereka, dan
mengajarkan kepada mereka Al Kitab dan Al Hikmah. Dan sesungguhnya sebelum
(kedatangan Nabi) itu, mereka adalah benar-benar dalam kesesatan yang nyata”.
Dari
berbagai ayat al-Qur’an yang menerangkan tentang kedudukan Allah . Sebagai
pendidik dapat dipahami bahwasanya Allah memiliki pengetahuan yang sangat luas
dan ini merupakan isyarat bagi mahluknya bahawasanya seorang pendidik haruslah
sebagai peneliti yang memiliki penemuan-penemuan baru. Sifat yang dimiliki
Allah yang lainnya adalah maha pemurah
yang artinya Allah tidak kikir tentang ilmu-Nya.
2)
Nabi Muhammad
Sebagai pendidik kedua sejalan dengan pembinaan yang
dilakukan oleh Allah terhadap Nabi, Allah meminta beliau agar membina umatnya agar
selalu berdakwah. Sebagaiman terserat dalam firman Alloh Qs. Al-Mudatstsir ayat
1-10 :
يَٰٓأَيُّهَا ٱلۡمُدَّثِّرُ ١
قُمۡ فَأَنذِرۡ ٢ وَرَبَّكَ
فَكَبِّرۡ ٣ وَثِيَابَكَ فَطَهِّرۡ ٤ وَٱلرُّجۡزَ فَٱهۡجُرۡ ٥ وَلَا تَمۡنُن تَسۡتَكۡثِرُ ٦ وَلِرَبِّكَ فَٱصۡبِرۡ ٧ فَإِذَا نُقِرَ فِي ٱلنَّاقُورِ
٨ فَذَٰلِكَ يَوۡمَئِذٖ يَوۡمٌ عَسِيرٌ
٩ عَلَى ٱلۡكَٰفِرِينَ غَيۡرُ يَسِيرٖ ١٠
Artinya : “Hai orang
yang berkemul (berselimut), bangunlah, lalu berilah peringatan, dan Tuhanmu
agungkanlah, dan pakaianmu bersihkanlah, dan perbuatan dosa tinggalkanlah, dan
janganlah kamu memberi (dengan maksud) memperoleh (balasan) yang lebih banyak,
Dan untuk (memenuhi perintah) Tuhanmu, bersabarlah, Apabila ditiup sangkakala,
maka waktu itu adalah waktu (datangnya) hari yang sulit, bagi orang-orang kafir
lagi tidak mudah”.
Sejarah mencatat bahwa amanah tersebut dapat
dilaksanakan oleh Nabi ` denga hasil yang sangat memuaskan. Hal tersebut
tidaklah lepas dari metode yang Nabi`gunakan dalam mendidik umatnya, dengan
cara kasih sayang dan keteladanan yang baik.
3)
Orang tua
Sebagai pendidik ketiga maka sifat-sifat yang harus
dimiliki oleh orang tua sebagai pendidik yaitu harus memiliki hikmah atau
kesadaran tentang kebenaran yang diperoleh melalui ilmu dan rasio, banyak
bersyukur kepada Allah, senantiasa menasehati anaknya agar tidak menyekutukan
Allah, memerintahkan anaknya agar melaksanakan shalat dan bersabar dalam menghadapi
cobaan. Firman Allah:
وَإِذۡ قَالَ لُقۡمَٰنُ لِٱبۡنِهِۦ وَهُوَ يَعِظُهُۥ يَٰبُنَيَّ لَا
تُشۡرِكۡ بِٱللَّهِۖ إِنَّ ٱلشِّرۡكَ لَظُلۡمٌ عَظِيمٞ ١٣
Artinya : “Dan (ingatlah) ketika
Lukman berkata kepada anaknya, di waktu ia memberi pelajaran kepadanya:
"Hai anakku, janganlah kamu mempersekutukan (Allah) sesungguhnya
mempersekutukan (Allah) adalah benar-benar kelaliman yang besar".
4)
Orang lain
Keempat kejelasan mengenai orang lain sebagai pendidik
antara lain secara tersirat dijelaskan dalam Qs.al-Kahfi (18); 60-82, ayat ini
menerangkan nabi Musa yang diperintahkan agar selalu mengikuti Nabi Khidhir dan
belajar kepadanya. Sebagai pendidik beliau mengira bahwasanya Nabi Musa tidak
bisa bersabar, karena tidak memiliki ilmu. Oleh karena itu, Nabi Musa diminta
berjanji agar selalu bersabar, selain itu, Nabi Khidhrr mengingatkan Nabi Musa
agar tidak bertanya sebelum dijelaskan.
2.
Syarat-Syarat
Pendidik
Didalam Buku Mencetak Generasi Rabbani disebutkan sepuluh karakter yang
harus dimiliki oleh Pendidik dalam mendidik adalah :
a.
Ikhlas, rawatlah dan didiklah dengan
penuh ketulusan dan niat ikhlas semata-mata mengharap keridhaan Allah Ta’ala. Cangkangkan
niat semata-mata untuk Allah Ta’ala dalam seluruh aktivitas edukatif, baik
berupa perintah, larangan, nasehat, pengawasan maupun hukuman.
b.
Bertakwa, hiasi diri anda dengan
ketakwaan, sebab pendidik adalah contoh dan panutan sekaligus penanggung jawab
pertama dalam pendidikan anak berdasarkan iman dan islam.
c.
Berilmu sebuah keharusan bahwa kedua
orangtua harus mempunyai perbekalan ilmu yang memadai. Orangtua harus
mengetahui konsep-konsep dasar pendidikan dalam islam. Mengetahui halal dan
haram, prinsip-prinsip etika islam serta memahami secara global
peraturan-peraturan dan kaidah-kaidah syari’at islam.
d.
Bertanggung jawab, memiliki rasa
tanggung jawab yang besar dalam pendidik.
e.
Sabar dan Tabah, dua sifat ini
mutlak dibutuhkan oleh setiap pendidik. Sebab dalam proses pendidikan tentu
sangat banyak tantangan dan ujian.
f.
Lemah lembut dan tidak kasar, sifat
lemah lembut ini akan membuat seseorang ( peserta didik ) menjadi nyaman dan
lebih mudah dalam menerima pengajaran.
g.
Penyayang, perasaan sayang ini yang
akan menjadi penghangat suasana dan menjadi proses pengajaran menjadi nyaman
dan menyenangkan.
h.
Lunak dan Fleksibel, Lunak dan
fleksibel bukan maksudnya lemah dan tidak tegas. Namun harus dipahami secara
luas dan menyeluruh. Maksudnya disini lebih mengarah pada sikap mempermudah
urusan dan tidak mempersulitnya.
i.
Tidak mudah marah, sifat mudah marah
merupakan bagian dari sifat negative dalam pendidikan. Jika seorang pendidik
mampu mengendalikan diri dan menahan amarahnya, maka hal itu akan membawa keberuntungan
bagi dirinya dan peserta didiknya.
j.
Dekat namun berwibawa, pendidik yang
sukses adalah pendidik yang benar-benar dekat dihati peserta didik. mereka
selalu merindukannya mereka merasa gembira dan bahagia bersamanya. Ya, pendidik
yang mengasihi dan dikasihi. Peserta didik bukan takut padanya, namun mereka
sayang,hormat dan segan melanggar perintah dan kata-katanya[8].
3.
Kompetensi-Kompetensi
Yang Harus Dimiliki Seorang Pendidik
a.
Kepribadian
Kompetensi kepribadian adalah “ kompetensi yang berkaitan dengan
perilaku pribadi guru itu sendiri yang kelak harus memiliki nilai-nilai luhur
yang sehingga terpancar dalam perilaku sehari-hari. Menurut Hamzah B.Uno,
kompetensi kepribadian artinya : sikap kepribadian yang mantab sehingga mampu
menjadi sumber intensifikasi bagi subjek. Dalam hal ini berarti memiliki
kepribadian yang pantas diteladani, mampu melaksanakan kepemimpinan seperti
yang dikemukakan Ki Hajar Dewantara , yaitu “ Ing Ngarso Sung Tulada , Ing
Madya Mangun Karsa Tut Wuri Handayani “ .
Hal-hal yang terkait dengan kompetensi
kepribadian antara lain:
- Berimandanbertakwakepada Allah SWT.
- Berakhlakmulia.
- Arifdanbijaksana.
- Demokratis.
- Mantab.
- Berwibawa.
- Stabil.
- Dewasa.
- Jujur.
- Sportif.
- Menjaditeladanbagipesertadidik.
Dengan kompetensi kepribadian maka guru akan menjadi contoh dan teladan,
serta membangkitkan motivasi belajar siswa. Oleh karena itu, seorang guru
dituntut melalui sikap dan perbuatan menjadikan dirinya sebagai panutan dan
ikutan orang-orang yang dipimpinnya.
Jadi kompetensi kepribadian ialah : sikap dan tingkah laku yang baik, patut
untuk diteladani dan menjadi cerminan untuk peserta didik, manpu mengembangkan
potensi dalam diri , serta yang paling utama bagi seorang guru yang berkepribadian
yaitu bertaqwa kepada Tuhan Yang Maha Esa , mematuhi norma agama , hukum dan
sosial yang berlaku.
b.
Sosial
Kompetensisosialyaitusuatukemampuanatauketerampilan
yang dimiliki guru terkaitdenganhubunganataukomunikasidengan orang lain. Dengan memiliki kompetensi sosial ini. Seorang guru
diharapkan mampu bergaul secara santun dengan pihak-pihak lain.
Hal-hal yang
terkaitdengankompetensiiniadalah:
-
Mampumelakukankomunikasisecaralisandantulis.
-
Mampumenggunakanteknologi,
komunikasidaninformasisecarabaik.
-
Mampubergaulsecarabaikdengan
sesame sejahwat, pimpinan, pesertadidikdanmasyarakat.
-
Mampubergaulsecarasantundenganberbagaielemenmasyarakat.
-
Menerapkanpersaudaraansejatidanmemilikisemangatkebersamaan.
Guru profesional hendaknya mampu memikul dan melaksanakan tanggung jawab
sebagai guru kepada siswa, orang tua,masyarakat, bangsa, negara, dan agamanya.
Jadi, sebagai guru yang baik dan profesional itu tidak hanya mampu
berkomunikasi dengan lingkungan kelas dan sekolah tetapi juga bisa berhubungan
baik dengan masyarakat sekitar, bisa menjadi sumber ilmu bagi masyarakat dan
memberi kontribusa yang positif.
c.
Pedagogik
Kompetensi
Pedagogik adalah pemahaman guru terhadap anak didik, perencanaan, pelaksanaan
pembelajaran, evaluasi hasil belajar, dan pengembangan anak didik untuk
mengaktualisasikan sebagai kompetensi yang dimilikinya. Kompetensi pedagogik
ini juga sering dimaknai sebagai kemampuan mengelola pembelajaran, yang mana
mencakup tentang konsep kesiapan mengajar, yang ditunujkkan oleh penguasaan
pengetahuan dan keterampilan mengajar[9].Hal-hal yang harus dimilki terkait dengan kompetensi
pedagogik adalah :
-
Memilikiwawasanlandasanpendidikan
-
Memilikipemahamanterhadappesertadidik
-
Memiikipengetahuanuntukmengembangkankurikulumdansilabus
-
Mampumenyusunperencanaaanpembelajaran
-
Mampumelakasanakanpembelajaran
yang dialogis
-
Mampumemanfaatkansaranateknologi
-
Mampumelaksanakanevaluasipembelajaran
-
Mampumengembangkanpotensipesertadidik.
d.
Profesional
Dalam peraturan Pemerintah No.19 tahun 2005 , pada pasal 28 ayat 3
yang dimaksud dengan kompetensi profesional adalah kemampuan penguasaan materi
pembelajaran secara luas dan mendalam yang memungkinkan nya membimbing peserta
didik memenuhi standar kompetensi yang di tetapkan dalam Standar Nasional
Pendidikan .
Maka KompetensiProfesionalyaitukemampuanmenguasaiilmupengetahuansecaramendalamuntukbahanmelaksanakan
proses pembelajaran. Dengan
menguasai materi, maka diharapkan guru akan mampu menjelaskan materi ajar
dengan baik, dengan ilustrasi jelas dan landasan yang mampan, dan dapat
memberikan contoh yang kontekstual.
Hal-hal yang terkaitdengankompetensiiniadalah:
- Menguasaimaterisecaraluasdanmendalamsesuaidenganstandarisi program
satuanpendidikan, matapelajarandanataukelompokmatapelajaran yang akandiampu.
- Menguasaikonsepdanmetodedisiplinkeilmuan, teknologiatauseni yang relevan
yang secarakonseptualkoherndengan program satuanpendidikan,
matapelajarandanataukelompokpelajaran yang akandiampu.
- Menguasai iklim belajar di kelas, diantaranya yaitu
memiliki keterampilan interpersonal, khususnya kemampuan untuk menunjukkan
empati, penghargaan kepada anak didik dan ketulusan[10].
4.
Tugas dan Peranan
Pendidik Dalam Pembelajaran
Tugas
pendidik Akhlak pendidik yang berkaitan dengan pelaksanaan tugas menghadapi
para peserta didik telah dikemukakan oleh para ahli pendidikan. Ibnu khaldun
misalnya, berpendapat bahwa seseorang pendidik hendaknya mendidik secara
bertahap, mengulang-ulang sesuai dengan pokok bahasan dan kesanggupan peserta
didik, tidak memaksakan atau membunuh daya nalar peserta didik, tidak berpindah
dari satu topic ketopik lain sebelum topic pertama dikuasai, tidak memandang
kelupaan sebagai suatu aib, tetapi agar mengatasinya dengan jalan mengulang.
Jangan bersikap keras dengan peserta didik, memilih bidang kajian yang dikuasai
peserta didik, mendekatkan pererta didik pada pencapaian tujuan memperlihatkan
tingkat kesanggupan pererta didik dan menolongna agar mampu memahami pelajaran
(Syamsudin, 1984: 83-66).
a.
Tugas dalam bidang profesi
Pendidik adalah orang orang yang bekerja dalam bidang
pendidikan yang ikut bertanggung jawab dalam membantu peserta didik mencapai
kedewasaannya, yang tentunya orang-orang tersebut memiliki keahlian dalam
menjalankan tugasnya yang berkaitan dengan pendidikan. Jenis pekerjaan ini
tidak dapat dilakukan sembarang orang diluar pendidikan.walaupun kenyataannya
masih dilakukan orang diluar pendidikan. Tugas pendidik sebagai profesi
mencakup mendidik, mengajar dan melatih. Mendidik dan mengajar berarti
meneruskan dan mengembangkan ilmu pengetahuan dan teknologi. Sementara melatih
berarti mengembangkan keterampilan-keterampilan pada perserta didik.
b.
Tugas dalam bidang kemanusiaan
Pendidik yang bersifat membantu mengembangkan potensi
peserta didik. meletakan pendidik pada sosok yang berperan sebagai fasilisatr,
dinamisator, danmobilisator. Komunikasi belajar yang dibagun dalm hal ini
adalahkomunikasi dua arah yang sama-sama berfungsi memberi dan menerima. dalam
hal ini pendidik bukanlah segalanya. ia hanyalah menjadi mitra peserta didik dalm
belajar. Buku referinsi, pengetahuan, dan ilmulah yang harus dikedepankan,
sehingga kebenaran bisa saja datang dari peserta didik sehingga pendidik oun
dapat belajar dari peserta didiknya.
c.
Tugas dalam bidang kemasyarakatan
Masyarakat menempatkan pendidik pada tempat yang lebih
terhormat dilingkungannya karena dari seorang pendidik diharapkan masyarakat
dapat memperoleh ilmu pengetahuan. ini berarti pendidik berkewajiban
mencerdaskan bangsa menuju pembentukan manusia seutuhnya (insan kamil). Tugas
dan peran pendidik tidaklah terbatas didalam masyarakat, bahkan guru pada
hakikatnya merupakan komponen strategis yang memilih peran yang penting dalam
menentukan gerak maju bangsa. Bahkan, keberadaan pendidik merupakan factor yang
tidak mungkin digantikan oleh komponen manapun dalam kehidupan bangsa sejak
dahulu, terlebih-lebih pada era kontemporer sekarang ini.
Peran
pendidik dalam proses belajar-mengajar Peran pendidik sebagai proses
belajar-mengajar meliputi banyak hal. Hal yang akan dikemukan disini adalah
peranan yang dianggap paling domain, diantaranya adalah[11]:
a. Peran
Pendidik sebagai demonstrator
Melalui peran demonstrator, lecturer atau pengajar,
pendidik hendaknya senantiasa menguasai bahan atau materi pelajaran yang akan
diajarkannya serta senantiasa dikembangkannya dalam arti meningkatkan
kemampuannya dalam hal ilmu yang dimilikinya. Disebabkan hal ini akan sangat
menentukan hasil bealajar yang dicapai oleh peserta didik. salah satu yang
harus diperhatiakn pendidik, bahwa ia sendiri adalah pelajar. Ini berarti bahwa
pendidik harus belajar terus-menerus. Dengan cara demikian ini akan memperkaya
dirinya dengan ilmu pengetahuan sebagai bekal dalam melaksanakan tugasnya
sebagai pengajar dan demonstrator, sehingga mampu memperegangkan apa yang
diajarkan secari didaktis, maksudnya, agar apa yang disampaikan ini betul-betul
dimiliki oleh peserta didik.
b. Peran
pendidik sebagai pengelola kelas
Dalam perannya sebagai pengola kelas, pendidik
hendaknya mamp mengelola kelas sebagai lingkungan belajar serta merupakan aspek
dari lingkungan sekolah yang perlu diorganisasi. Lingkungan ini diurus dan
diawasi agar kegiatan-kegiatan belajar terarah kepada tujuan-tujuan pendidikan.
Tujuan umum adalah menyediakan dan menggunakan fasilitas kelas untuk
bermacam-macam kegiatan belajar mengajar agar mencapai hasil yang baik.
Sementar tujuan khusus adalah mengembangkan kemampuan peserta didik dalam
menggunakan alat-alat belajar, menyediakan kondisi-kondisi yang memungkinkan
peserta didik bekerja dan belajar, serta membantu peserta didik untuk memperolaeh
hasil yang diharapkan.
c. Peran
pendidik sebagai mediator dan fasilitator
Sebagai mediator pendidik hendaknya memiliki pengetahuan
dan pemahaman yang mencakup tentang media pendidikan karena media pendidikan
merupakan alat komunikasi untuk lebih mengefektifkan proses belajar mengajar.
Untuk itu, pendidik tidak cukup hanya memiliki pengetahuan tentang media
pendidikan tetapi juga harus memiliki keterampilan memilih dan menggunakan
serta harus mengusahakan media itu dengan baik. Sebagai mediator peserta didik
pun menjadi perantara dalam hubungan antar-manusia. Untuk itu, pendidik harus
terampil mempergunakan pengetahuan tentang bagaimana orang berinteraksi dan
berkomunikasi. Tujuan agar pendidik dapat menciptakan secara maksimal kualaitas
lingkungan yang interaktif. Sebagai fasilitator, pendidik hendaknya membantu
peserta didik mau dan mampu untuk mencari, mengolah, dan memakai informasi,
memperbanyak mutu pemberian tugas, pekerjaan rumah, ujian, dan lain-lain yang
mampu “memaksa” secara tidak sadar, membiasakan peserta didik untuk mencari dan
membaca berbagai referensi, menggunakan perpustakaan , mengoptimalkan manfaat
internet, menulis laporan dengan computer, dan mempresentasikannya.
d. Peran
pendidik sebagai evaluator
Pendidik harus mengetahui keberhasilan pencapaikan
tujuan, penguasaan peserta didik terhadap pelajaran,serta ketepatan atau
keefektifan metode mengajar. Tujuan lain dari penilaian diantaranya untuk
mengetahui kedudukan peserta didik didalam kelas atau kelompok. Dengan menelaah
pencapaian tujuan pengajaran, pendidik dapat mengetahui apakah proses belajar–mengajar
yang dilakukan cukup efektif memberikan hasil yang baik dan memuaskan atau
sebaliknya.
e. Peran
pendidik dalam pengadministrasian
Dalam hubungan dengan kegiatan pengadministrasian,
seseorang pendidik dapat berperan,sebagai berikut :
- Pertama,
sebagai pengambil inisiatif, pengarah, dan penilai kegiatan-kegiatan pendidik.
- Kedua,
sebagai wakil masyarakat, yang berarti dalam lingkungan sekolah pendidik
menjadi anggota suatu masyarakat, pendidik harus mencerminkan suasana dan
kemauan masyarakat dalam arti yang baik.
- Ketiga,
sebagai orang yang ahli dalam mata pelajaran, pendidik bertanggungjawab
mewariskan kebudayaan kepada generasi muda yang berupa pengetahuan.
- Keempat,
sebagai penegak disiplin, pendidik harus menjaga adar tercapai suatu disiplin.
- Kelima,sebagai
pelaksana administrasi pendidik. Disamping sebagai pengajar, pendidikpun
bertanggung jawab akan kelancaran jalannya pendidikan dan ia harus mampu
melaksanakan kegiatan-kegiatan admisnistrasi.
- Keenam,
sebagai pemimpin generasi muda. Masa depan peserta didik terletak ditangan
pendidik. Ketujuh,sebagai penerjemah kepada masyarakat, artinya pendidik
berperan untuk menyampaikan segala perkembangan kemajuan dunia sekitar kepada
masyarakat, khususnya masalah-masalah pendidikan.
f. Peran pendidik
secara pribadi
Dilihat dari segi dirinya
sendiri (self oriented), seorang pendidik harus berperan, antara lain :
-
Sebagai petugas social, yaitu
seorang yang harus membantu untuk kepentingan masyarakat
-
Sebagai pelajar dan ilmuan, yaitu
senantiasa terus-menerus menuntu ilmu pengetahuan dengan berbagai cara setiap
saat pendidik senantiasa belajar untuk mengikuti perkembangan ilmu pengetahuan
-
Sebagai orangtua, yaitu, mewakili
orang tua murid disekolah dalam pendiidkan anaknya
-
Sebagai pencari teladan, yaitu yang
senantiasa mencarikan teladan yang baik untuk peserta didik
-
Sebagai pencari keamanan, yaitu yang
senantiasa mencarikan rasa aman bagi peserta didik.
g. Peran
pendidik secara psikologis
Dilihat dari peran pendidik secara psikologis, pendidik
dipandang antar lain;
-
Sebagai ahli psikologi pendidikan,
yang melaksanakan tugasnya atas dasar prinsip-prinsip psikologi
-
Sebagai seniman dalam hubungan
antara manusia, yaitu orang yang mampu membuat hubungan antara manusia untuk
tujuan tertentu, khususnya dalam kegiatan pendidikan
-
Sebagai pembentuk kelompok, sebagai
jalan atau alat dalam pendiidkan.
-
Sebagai katalytic agent, yaitu orang
yang mempunyai pengaruh dalam menimbulkan pembaruan atau innovator
-
Sebagai petugas kesehatan mental
(Mental Hygiene Worker), yaitu yang bertanggungjawab terhadap pembinaan
kesehatan mental khususnya kesehetan mental peserta didik.
Pendidik
dalam perspektif pendidikan Islam, sebagai pemegang amanah mendidik dan
mengajar, yang memiliki dua peran sekaligus, yaitu peran transfer knowledge dan
transfer of value. Misi ilmu pengetahuan meniscayakan pendidik untuk
menyampaikan ilmu sesuai dengan perkembangan dan tuntutat masa depan (aspek IQ)
sehingga sebagai generasi yang hidup pada hari ini dan untuk esok hari dan
terkait dengan hari kemarin, peserta didik tidak terputus dari mata rantai yang
ada dan terasing dari dunianya, tetapi justru dapat mengambil inisiatif dan
peran ditengah-tengah masyarakat.
Kehidupan
sebagai mata rantai yang saling kalindan(benang yg baru dipintal)yang tidak
dapat diputus dari satu sisi untuk menonjolkan satu sisi lainnya. Masa lalu
sebagia bagian sejarah apapun dan bagaimanapun dia, tidak dapat dihapuskan.
Kesadaran akan peran kekinian sebagai sebuah realitas yang harus disadari harus
membangkitkan semangat untuk menatap masa depan dengan realistis. Kesadaran
bahwa sekarang adalah sebuah kenyataaan yang harus ditumbuhkan sehingga peserta
didik tidak terbuai oleh kenangan masa lalu. Keyakinan adanya hari esok sebagai
sebuah kelanjutan perjalanan hidup juga harus ditumbuhkan, sehiingga peserta
didik akan memiliki mimpi dan cita-cita sebagai harapan untuk menatap masa
depan yang lebih baik.
5.
Ayat-Ayat Al
Quran Dan Hadits Tentang Pendidik
- Qs. Al-Imran
ayat 79
مَا كَانَ
لِبَشَرٍ أَن يُؤۡتِيَهُ ٱللَّهُ ٱلۡكِتَٰبَ وَٱلۡحُكۡمَ وَٱلنُّبُوَّةَ ثُمَّ
يَقُولَ لِلنَّاسِ كُونُواْ عِبَادٗا لِّي مِن دُونِ ٱللَّهِ وَلَٰكِن كُونُواْ
رَبَّٰنِيِّۧنَ بِمَا كُنتُمۡ تُعَلِّمُونَ ٱلۡكِتَٰبَ وَبِمَا كُنتُمۡ
تَدۡرُسُونَ ٧٩
Artinya : “Tidak wajar
bagi seseorang manusia yang Allah berikan kepadanya Al Kitab, hikmah dan
kenabian, lalu dia berkata kepada manusia: "Hendaklah kamu menjadi
penyembah-penyembahku bukan penyembah Allah". Akan tetapi (dia berkata):
"Hendaklah kamu menjadi orang-orang rabbani, karena kamu selalu
mengajarkan Al Kitab dan disebabkan kamu tetap mempelajarinya”.
- Qs. ‘Abasa
ayat 1-3
عَبَسَ وَتَوَلَّىٰٓ ١ أَن جَآءَهُ ٱلۡأَعۡمَىٰ ٢ وَمَا يُدۡرِيكَ لَعَلَّهُۥ يَزَّكَّىٰٓ ٣
Artinya : “Dia
(Muhammad) bermuka masam dan berpaling, karena telah datang seorang buta
kepadanya, tahukah kamu barangkali ia ingin membersihkan dirinya (dari dosa)”.
- Qs. Al-Kahfi
ayat 66
قَالَ لَهُۥ مُوسَىٰ هَلۡ أَتَّبِعُكَ عَلَىٰٓ أَن تُعَلِّمَنِ مِمَّا
عُلِّمۡتَ رُشۡدٗا ٦٦
Artinya : “Musa berkata
kepada Khidhr: "Bolehkah aku mengikutimu supaya kamu mengajarkan kepadaku
ilmu yang benar di antara ilmu-ilmu yang telah diajarkan kepadamu?”.
- Qs. Luqman
ayat 13
وَإِذۡ قَالَ لُقۡمَٰنُ لِٱبۡنِهِۦ وَهُوَ يَعِظُهُۥ يَٰبُنَيَّ لَا
تُشۡرِكۡ بِٱللَّهِۖ إِنَّ ٱلشِّرۡكَ لَظُلۡمٌ عَظِيمٞ ١٣
Artinya : “Dan
(ingatlah) ketika Luqman berkata kepada anaknya, di waktu ia memberi pelajaran
kepadanya: "Hai anakku, janganlah kamu mempersekutukan Allah, sesungguhnya
mempersekutukan (Allah) adalah benar-benar kezaliman yang besar"
- Qs.
Ar-Rahman ayat 1-4
ٱلرَّحۡمَٰنُ ١ عَلَّمَ
ٱلۡقُرۡءَانَ ٢ خَلَقَ ٱلۡإِنسَٰنَ ٣ عَلَّمَهُ ٱلۡبَيَانَ ٤
Artinya : “(Tuhan) Yang
Maha Pemurah, Yang telah mengajarkan al Quran, Dia menciptakan manusia,
Mengajarnya pandai berbicara”.
قال رسول الله إنما
أنا مثل الوالد لولده بأن يقصد انقاذهم من نار الآخرة وهو أهم من انقاذ الوالدين
ولدهما من نار الدنيا ولذلك صار حق المعلم أعظم من حق الوالدين فإن الوالد سبب الوجود
الحاضر والحياة الفانية والعلم سبب الحياة الياقية ولو لا المعلم لانساق ما حصل من
جهة الأب إلى الهلاك الدائم
Artinya:Rosululloh SAW. bersabda: “Sesungguhnya Aku laksana orang tua bagi anaknya”, yang mempunyai tujuan menyelamatkan dari api neraka, dan ini lebih penting daripada para orang tua yang menyelamatkan anaknya dari api dunia (ekonomi), dan dari situ hak pengajar ilmu agama lebih agung daripada kedua orang tua, karena orang tua sebagai sebab keberadaan anak di dunia fana, sedangkan Ilmu sebab mendapatkan kehidupan kekal (Akhirot), dan andai tidak ada pengajar, maka sesuatu yang timbul dari ayah (meneyelamatkan dari api dunia/ekonomi) akan menggiring pada kerusakan selamanya.
DAFTAR PUSTAKA
Choiriyah, Ummu Ihsan & Abu Ihsan al-Atsary, Mencetak
Generasi Rabbani, Jakarta : darul ilmi publishing, 2013.
Muchith, Saekhan, Issu-IssuKontemporerDalamPendidikan
Islam, DIPA STAIN Kudus, Kudus, 2009.
Quthb, Sayyid, Tafsir fi Zhilalil ’Qu’ran, Yogyakarta
: Gema Insani Press, jilid 11, 2010.
Ramayulis, Ilmu Pendidikan Islam, Jakarta :
Kalam Mulia, 2012.
Salim, Moh. Haitami dan Syamsul Kurniawan, Studi
Ilmu Pendidikan Islam, Ar-Ruzz Media, 2012.
Tafsir, Ahmad, Ilmu Pendidikan Dalam Perspektif
Islam, Jakarta : Remaja Rosdakarya, 2012.
Wibowo, Agus dan Hamrin, Menjadi
Guru Berkarakter, Yogyakarta, Pustaka Pelajar, 2012.
Zoerni, Mochtar,40 Metode Pendidikan dan Pengajaran
Rosulullah solallohualaihi wa salam, Jakart : Irsyad Baitus Salam, 2012.
[1]Ramayulis, Ilmu Pendidikan Islam, (Jakarta : Kalam Mulia, 2012). Cet 9. Hal. 102
[2]Moh. Haitami Salim dan Syamsul Kurniawan, Studi Ilmu Pendidikan Islam, Ar-Ruzz Media, 2012. Hal. 135
[3]Ahmad Tafsir, Ilmu Pendidikan Dalam Perspektif Islam, (Jakarta : Remaja Rosdakarya, 2012). Hal. 74.
[4]Sayyid Quthb, Tafsir fi Zhilalil ’Qu’ran, (Yogyakarta : Gema Insani Press, jilid 11), hal. 270.
[5] Ibid
[6]Mochtar Zoerni, 40
Metode Pendidikan dan Pengajaran Rosulullah solallohualaihi wa salam, (
Jakart : Irsyad Baitus Salam, 2012). Hal. 23-24.
[7]Moh. Haitami Salim dan
Syamsul Kurniawan, Studi Ilmu Pendidikan Islam, (Yogyakart : Ar-Ruzz
Media, 2012). Hal. 138-141.
[8]Ummu Ihsan Choiriyah & Abu Ihsan al-Atsary, Mencetak Generasi Rabbani, (Jakarta : darul ilmi publishing, 2013), Hal. 47-59
[9]Agus Wibowo dan
Hamrin, Menjadi Guru Berkarakter, (Yogyakarta, Pustaka Pelajar, 2012),
hal 110
[10]SaekhanMuchith, Issu-IssuKontemporerDalamPendidikan Islam, (DIPA STAIN Kudus, Kudus, 2009), hal 46-47
[11]Moh. Haitami Salim dan Syamsul Kurniawan, Studi Ilmu Pendidikan Islam, (Yogyakarta : Ar-Ruzz Media, 2012). Hal. 144-146.
Komentar
Posting Komentar