“Pengaruh Percaya Diri
Terhadap Kemampuan Berbicara Anak”
Oleh
Manusia secara
kualitatif sangat berbeda dengan hewan atau binatang karena manusia mempunyai
kemampuan untuk menggunakan dan menginterprestasi lambang-lambang. Bahasa
merupakan satu set lambang dimana manusia mampu mengartikan makna yang sama.
Bahasa tidak hanya memungkinkan mengkomunikasikan antar individu tetapi juga
memperkenankan orang untuk berbicara pada dirinya sendiri (thought). Berbicara
merupakan bahasa pokok (oral) merupakan suatu keahlian yang komplek yang
melibatkan aspek-aspek atau komponen kebahasaan, fisik, sosial dan psikologi.
Komponen kebahasaan mencakup lafal, struktur, kosa kata, kefasihan dan pemahaman.
Aspek fisik berhubungan dengan lingkungan fisik, aspek sosial sangat erat
dengan interaksi sosial dimana bahasa digunakan sebagia alat komunikasi. Aspek
psikologi melibatkan aspek kognitif dan aspek afektif dan juga aspek motivasi.
Tiga komponen seperti konsep diri, harga diri, dan aktualisasi diri merupakan
fundamental komponen dimana konsep diri yang positif dan sehat merupakan dasar
dari perkembangan percaya diri. Telepas dari permasalahan diatas, penulis ingin
mencari gambaran yang kongkrit dan akurat mengenai peran percaya diri terhadap
kemampuan berbicara siswa sehingga dapat memberikan kontribusi bagi
keberhasilan pendidikan pada umumnya dan keberhasilan pembinaan prestasi.
1.
Percaya diri
Percaya
diri dapat diartikan bahwa suatu kepercayaan akan kemampuan sendiri yang
memadai dan menyadari kemampuan yang dimiliki dapat di manfaatkan secara tepat.
Psikolog W.H.Miskell di tahun 1939 telah mendefinisikan arti percaya diri dalam
bukunya yang bertuliskan “ Percaya diri adalah kepercayaan akan kemampuan sendiri
yang memadai dan menyadari kemampuan yang dimiliki, serta dapat memanfaatkannya
secara tepat.” Tak lain halnya psikolog ultra
kondang maslow yang berkata “Percaya diri merupakan modal dasar untuk
pengembangan aktualitas diri. Dengan percaya diri orang akan mampu mengenal dan
memahami diri sendiri. Sementara itu, kurangnya percaya diri akan menghambat
pengembangan potensi diri. Jadi orang yang kurang percaya diri akan menjadi
seseorang yang pesimis dalam menghadapi tantangan, takut dan ragu-ragu untuk
menyampaikan gagasan, serta bimbang dalam menentukan pilihan dan sering
membanding-bandingkan dirinya dengan orang lain".
2.
Ciri-ciri percaya diri
Ciri-ciri orang
yang percaya diri adalah mereka percaya diri dalam berbicara, mampu
bekomunikasi dengan efektif, jelas dalam bahasa yang sederhana. Dengan
demikian jelas bahwa kemampuan berbicara ditentukan oleh faktor internal dan
faktor eksternal yang salah satunya adalah faktor psikologi yaitu percaya diri.
3.
Bebicara
Berbicara
merupakan instrumen yang mendasar dalam berkomunikasi sehingga pesan atau
informasi yang hendak disampaikan kepada orang lain bisa dipahami dan
dimengerti dengan jelas yang memerlukan keterampilan yang komplek, komponen
maupun kaidah-kaidah berbicara serta faktor-faktor yang mempengaruhinya. Faktor yang
mempengaruhi kemampuan berbicara tersebut berasal dari luar (eksternal) dan
dari dalam (internal). Salah satu faktor yang sangat penting yang mempengaruhi
kemampuan berbicara adalah faktor dari dalam yaitu percaya diri. Faktor ini
akan mempengaruhi seseorang dalam berbicara sehingga suatu pembicaraan bisa
berlangsung secara effektif. Tingkat percaya diri yang tinggi mengindikasikan orang
mampu berbicara dengan tenang, mampu berkomunikasi dengan jelas dengan bahasa
yang sederhana (David G Meyer : 358). Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa
tingkat percaya diri yang tinggi sangat berpengaruh terhadap kemampuan
berbicara.
Berbicara merupakan instrumen yang fundamental dalam komunikasi, pembicara
mengatakan sesuatu agar mendapatkan effek terhadap pendengar, pembicara
menyatakan sesuatu untuk mengubah pengetahuan pendengar, pembicara bertanya
untuk mendapatkan jawaban ataupun informasi, meminta izin ataupun mengatakan
sesuatu untuk mendapatkan respon dari orang lain, maka secara alamiah berbicara
memainkan peran penting di dalam proses komunikasi. Sejalan dengan
pernyataan tersebut di atas Ramelan (1977: 8) menyatakan bahwa setiap orang menggunakan
bahasa sebagai alat komunikasi, sebagai alat untuk mengungkapkan gagasan atau
pun kehendak, menggunakan bahasa untuk menyampaikann pesan yang wujudnya suara
dimana suara dihasilkan oleh alat ucap (speech organ).
4.
Faktor-faktor yang mempengaruhi kemampuan bebicara
Pearson dan Johnson (1972 : 54)
membedakan apa yang mereka sebut sebagai faktor dalam dan faktor luar. Faktor
dalam mencakup hal-hal dimana pembicara menyampaikan pesan yang dapat
dimengerti atau dipahami oleh orang lain. Sedangkan faktor luar adalah faktor
yang berasal dari luar pembicara yaitu lawan bicara atau pendengar, tempat,
respon atau tanggapan, waktu, situasi dan kondisi pada saat pembicaraan
berlangsung. Penyampaian pesan yang harus dipahami merupakan jembatan antara
suatu informasi yang diketahui maupun informasi yang belum diketahui atau
dipahami di dalam kerangka pengetahuan yang bertujuan untuk memastikan bahwa
informasi tersebut benar-benar dapat diterima dan dipahami oleh lawan bicara.
Beberapa faktor yang mempengaruhi tersebut antara lain:
a)
Input dan
aktifitas
Hal pokok yang harus dipertimbangkan
adalah kompleksitas teks. Hal tersebut akan berpengaruh pada faktor struktur
tata bahasa. Faktor aktifitas akan berhubungan dengan aktifitas berbicara yang
mencakup bahan atau topik pembicaraan sehingga masukan atau input akan sangat
penting peranannya dalam memperlancar aktifitas berbicara.
b)
Pembicara
Latar belakang pembicara mencakup
percaya diri (self assure), motivasi, kemampuan penyampaian pesan, pengetahuan
budaya dan pengetahuan kebahasaan. David Nunan (1989: 65 ) mengajukan beberapa
hal yang dianggap sangat berhubungan dengan faktor tersebut antara lain: sejauh
mana tingkat kepercayaan diri pembicara menyampaikan pesan kepada orang lain.
Bagaimana motivasi mereka dalam berbicara? Bagaimana pembicara menyerap secara
familiar terhadap topik pembicaraan? Apakah pengalaman pembicara memberikan
manfaat atau strategi keahlian dalam penyampaian pesan? Kemampuan bahasa;
apakah pembicara mampu mengukur kemampuan berbicaranya? Apakah penyesuaian diri
pembicara terhadap lawan bicara sudah memadai?
c)
Tujuan
pengajaran berbicara
Tujuan
pengajaran berbicara bagi para anak adalah untuk melatih kemampuan berbicara
mereka yang meliputi praktik percakapan yang sederhana, bercerita atau mendeskripsikan
seseorang, kejadian sehari-hari, dialog atau tanya jawab sesuatu masalah,
menceritakan kembali peristiwa-peristiwa sosial, isu politik, budaya pada
lingkup nasional maupun internasional. Menyatakan
persetujuan atau ketidaksetujuan tentang suatu hal, berdiskusi atau debat.
Dengan cara tersebut pengajaran berbicara secara terpadu terpusat pada anak-anak. Para anak dituntut
untuk selalu aktif untuk berlatih berbicara. Mereka dilatih untuk berani
mengungkapkan pendapat atau perasaan suka atau tidak suka kepada
teman-temannya. Sehingga atmosfir di dalam kelas dimenej sebaik mungkin
sehingga situasi kelas benar-benar kondusif untuk belajar dan berlatih
berbicara atau mengkomunikasikan berbagai hal. Tujuan penciptaan situasi yang kondusif ini adalah agar
anak merasa nyaman. Mereka berinteraksi dan bekerjasama
saling bertukar pikiran, mengungkapkan gagasan atau ide, pengalaman, perasaan
atau membahas topik tertentu. Anak dibuat
kelompok-kelompok agar mereka mempunyai kesempatan untuk saling mengungkapkan
sesuatu. Kelompok tersebut diberikan suatu topik pembicaraan yang sebelumnya
diberikan pemanasan sehingga pembicaraan berjalan dengan lancar. Meskipun telah
diciptakan situasi sedemikian rupa kadang kadang siswa masih merasakan adanya
hambatan dalam menyampaikan gagasan atau ide, mereka sering merasa ragu-ragu,
malu atau takut. Untuk mengeliminir perasaan tersebut guru berperan sangat
penting yaitu dengan cara membantu anak-anak
menyemangati atau memberikan motivasi dengan mengatakan apa pun gagasan atau ide
yang akan disampaikan tidak ada hubungannya dengan benar atau salah sehingga
setiap anak bisa menolak atau tidak menjawab tanpa harus
memberikan alasan atau keterangan. Hal ini masih menandakan adanya tingkat
kategori anak merasa malu. Untuk guru harus mampu
memilih aktivitas yang bisa dirasakan para anak merasa
nyaman.
d)
Peran guru
Penciptaan situasi dan aktivitas
seperti tersebut di atas akan berlangsung baik dengan sendirinya di bawah
kendali guru. Kemudian guru memutuskan apakah akan terlibat dalam aktivitas
berbicara tersebut secara sejajar sebagai anggota atau hanya akan berada di
belakang sebagai pengamat atau membantu kelancaran kegiatan berbicara anak. Untuk cara pertama jarak psikologis antara anak dengan guru dapat dikurangi, sedangkan untuk cara
yang kedua guru tidak akan bertindak independen dalam memberikan nasihat atau
membantu kelompok yang lain. Bagaimanapun metode yang dipilih, guru harus berhati-hati dalam memberikan
koreksi kesalahan berbicara para anaknya, hal ini akan memberikan gambaran
mereka pada keraguan dan merasa tidak aman dalam penyampaian pesan ketika
mereka benar-benar praktik berkomunikasi. Nampaknya akan lebih baik apabila
guru berperan sebagai pengamat dan hanya memberikan bantuan demi kelancaran
aktivitas berbicara anak ketika terjadi kebuntuan pembicaraan dengan cara
memberikan semangat sehingga mereka mampu mengatasi kesulitan-kesulitan dengan
menemukan alternatif lain dalam mengekpresikan hal yang akan dikatakan.
5.
Masalah
utama dalam pengukuran ketrampilan berbicara
Pada bahasan
awal telah dijelaskan bahwa berbicara merupakan suatu ketrampilan yang kompleks
yang memerlukan sejumlah perbedaan penafsiran secara kompak. Berbicara dianggap
merupakan masalah yang krusial sehingga sering dihadapkan dengan masalah yang
serius dalam pengukuran ketrampilan berbicara sebagaimana dinyatakan oleh
Harris (1969 : 87) disebabkan oleh hal-hal sebagai berikut; (1) minimnya
kriteria yang reliabel dalam pengukuran ketrampilan berbicara, (2) tidak adanya
kesepakatan umum tentang keakuratan pelafalan, (3) tipe pengukuran tes
ketrampilan berbicara yang subyektif, (4) adanya ketidakkonsistenan dalam
pemberian skor.
6.
Bagaimana
mengukur ketrampilan berbicara siswa
Ketrampilan berbicara anak diukur melalui tes. Ada tiga cara dalam pengukuran tersebut
yaitu dengan role play (bermain peran) tes, retelling (pengulangan cerita) dan
interview (wawancara). Materi tes diambil dari buku English in Three Act oleh
Richard Via (1976 :73 ) yang diadaptasi.
a.
Role Play : anak dites untuk bermain drama masing-masing disesuaikan dengan karakter dan peran.
b.
Retelling : anak diminta untuk menceritakan ulang atau untuk memberikan
illustrasi yang jelas tentang cerita drama
c.
Interview : anak diwawancarai tentang segala sesuatu yang berhubungan
dengan drama
Beberapa aspek yang dinilai adalah
a)
Pelafalan
b)
Struktur
bahasa
c)
Kosa kata
d)
Kefasihan
e)
Pemahaman
7.
Komponen-komponen berbicara
Ada lima komponen berbicara yaitu;
a) lafal yang menyangkut vokal,
konsonan, tekanan dan pola-pola intonasi);
b) struktur;
c) kosa kata;
d) kefasihan dan
e) pemahaman.
Daftar
Pustaka
Ms Wahyu. Petunjuk Praktis Membuat
Skripsi. Usaha Nasional Surabaya. 1987.
Taylor
rose.kiat-kiat pd untuk meningkatkan rasa percaya diri. Gramedia pustaka utama.
2011
Komentar ini telah dihapus oleh pengarang.
BalasHapus