SEJARAH PENDIDIKAN ISLAM DI INDONESIA

Gambar
A. Sejarah Pendidikan Islam di Indonesia Masuknya Islam ke Indonesia membawa tradisi pendidikan yang erat kaitannya dengan dakwah. Pada awalnya, pendidikan dilakukan secara sederhana di surau, masjid, atau rumah para ulama. Materi pembelajaran berfokus pada dasar-dasar agama, seperti membaca Al-Qur’an, tata cara ibadah, serta pembinaan akhlak. Seiring perkembangan zaman, lahirlah lembaga pendidikan tradisional yaitu pesantren. Pesantren berfungsi sebagai pusat keilmuan Islam sekaligus benteng moral masyarakat. Para santri dididik dengan kitab kuning (turats), mencakup ilmu fiqih, akidah, tasawuf, dan ilmu alat seperti nahwu dan sharaf. Al-Zarnuji dalam Ta‘lim al-Muta‘allim menekankan pentingnya sanad dalam pendidikan: العِلْمُ دِينٌ يُدَانُ بِهِ، فَيَنْبَغِي لِطَالِبِ العِلْمِ أَنْ يَنْظُرَ عَمَّنْ يَأْخُذُ دِينَهُ “Ilmu adalah bagian dari agama yang dengannya manusia beragama. Maka seorang penuntut ilmu harus memperhatikan dari siapa ia mengambil ilmunya.” Tradisi pesantren membuktika...

Pengaruh Percaya Diri Terhadap Kemampuan Berbicara Anak

 “Pengaruh  Percaya Diri  Terhadap Kemampuan Berbicara Anak”
Oleh
Afifah



Manusia secara kualitatif sangat berbeda dengan hewan atau binatang karena manusia mempunyai kemampuan untuk menggunakan dan menginterprestasi lambang-lambang. Bahasa merupakan satu set lambang dimana manusia mampu mengartikan makna yang sama. Bahasa tidak hanya memungkinkan mengkomunikasikan antar individu tetapi juga memperkenankan orang untuk berbicara pada dirinya sendiri (thought). Berbicara merupakan bahasa pokok (oral) merupakan suatu keahlian yang komplek yang melibatkan aspek-aspek atau komponen kebahasaan, fisik, sosial dan psikologi. Komponen kebahasaan mencakup lafal, struktur, kosa kata, kefasihan dan pemahaman. Aspek fisik berhubungan dengan lingkungan fisik, aspek sosial sangat erat dengan interaksi sosial dimana bahasa digunakan sebagia alat komunikasi. Aspek psikologi melibatkan aspek kognitif dan aspek afektif dan juga aspek motivasi. Tiga komponen seperti konsep diri, harga diri, dan aktualisasi diri merupakan fundamental komponen dimana konsep diri yang positif dan sehat merupakan dasar dari perkembangan percaya diri. Telepas dari permasalahan diatas, penulis ingin mencari gambaran yang kongkrit dan akurat mengenai peran percaya diri terhadap kemampuan berbicara siswa sehingga dapat memberikan kontribusi bagi keberhasilan pendidikan pada umumnya dan keberhasilan pembinaan prestasi.
1.    Percaya diri
Percaya diri dapat diartikan bahwa suatu kepercayaan akan kemampuan sendiri yang memadai dan menyadari kemampuan yang dimiliki dapat di manfaatkan secara tepat. Psikolog W.H.Miskell di tahun 1939 telah mendefinisikan arti percaya diri dalam bukunya yang bertuliskan “ Percaya diri adalah kepercayaan akan kemampuan sendiri yang memadai dan menyadari kemampuan yang dimiliki, serta dapat memanfaatkannya secara tepat.Tak lain halnya psikolog ultra kondang maslow yang berkata “Percaya diri merupakan modal dasar untuk pengembangan aktualitas diri. Dengan percaya diri orang akan mampu mengenal dan memahami diri sendiri. Sementara itu, kurangnya percaya diri akan menghambat pengembangan potensi diri. Jadi orang yang kurang percaya diri akan menjadi seseorang yang pesimis dalam menghadapi tantangan, takut dan ragu-ragu untuk menyampaikan gagasan, serta bimbang dalam menentukan pilihan dan sering membanding-bandingkan dirinya dengan orang lain".
2.    Ciri-ciri percaya diri
Ciri-ciri orang yang percaya diri adalah mereka percaya diri dalam berbicara, mampu bekomunikasi dengan efektif, jelas dalam bahasa yang sederhana. Dengan demikian jelas bahwa kemampuan berbicara ditentukan oleh faktor internal dan faktor eksternal yang salah satunya adalah faktor psikologi yaitu percaya diri.
3.    Bebicara
Berbicara merupakan instrumen yang mendasar dalam berkomunikasi sehingga pesan atau informasi yang hendak disampaikan kepada orang lain bisa dipahami dan dimengerti dengan jelas yang memerlukan keterampilan yang komplek, komponen maupun kaidah-kaidah berbicara serta faktor-faktor yang mempengaruhinya. Faktor yang mempengaruhi kemampuan berbicara tersebut berasal dari luar (eksternal) dan dari dalam (internal). Salah satu faktor yang sangat penting yang mempengaruhi kemampuan berbicara adalah faktor dari dalam yaitu percaya diri. Faktor ini akan mempengaruhi seseorang dalam berbicara sehingga suatu pembicaraan bisa berlangsung secara effektif. Tingkat percaya diri yang tinggi mengindikasikan orang mampu berbicara dengan tenang, mampu berkomunikasi dengan jelas dengan bahasa yang sederhana (David G Meyer : 358). Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa tingkat percaya diri yang tinggi sangat berpengaruh terhadap kemampuan berbicara.
Berbicara merupakan instrumen yang fundamental dalam komunikasi, pembicara mengatakan sesuatu agar mendapatkan effek terhadap pendengar, pembicara menyatakan sesuatu untuk mengubah pengetahuan pendengar, pembicara bertanya untuk mendapatkan jawaban ataupun informasi, meminta izin ataupun mengatakan sesuatu untuk mendapatkan respon dari orang lain, maka secara alamiah berbicara memainkan peran penting di dalam proses komunikasi.
 Sejalan dengan pernyataan tersebut di atas Ramelan (1977: 8) menyatakan bahwa setiap orang menggunakan bahasa sebagai alat komunikasi, sebagai alat untuk mengungkapkan gagasan atau pun kehendak, menggunakan bahasa untuk menyampaikann pesan yang wujudnya suara dimana suara dihasilkan oleh alat ucap (speech organ).
4.    Faktor-faktor yang mempengaruhi kemampuan bebicara
Pearson dan Johnson (1972 : 54) membedakan apa yang mereka sebut sebagai faktor dalam dan faktor luar. Faktor dalam mencakup hal-hal dimana pembicara menyampaikan pesan yang dapat dimengerti atau dipahami oleh orang lain. Sedangkan faktor luar adalah faktor yang berasal dari luar pembicara yaitu lawan bicara atau pendengar, tempat, respon atau tanggapan, waktu, situasi dan kondisi pada saat pembicaraan berlangsung. Penyampaian pesan yang harus dipahami merupakan jembatan antara suatu informasi yang diketahui maupun informasi yang belum diketahui atau dipahami di dalam kerangka pengetahuan yang bertujuan untuk memastikan bahwa informasi tersebut benar-benar dapat diterima dan dipahami oleh lawan bicara. Beberapa faktor yang mempengaruhi tersebut antara lain:
a)    Input dan aktifitas
Hal pokok yang harus dipertimbangkan adalah kompleksitas teks. Hal tersebut akan berpengaruh pada faktor struktur tata bahasa. Faktor aktifitas akan berhubungan dengan aktifitas berbicara yang mencakup bahan atau topik pembicaraan sehingga masukan atau input akan sangat penting peranannya dalam memperlancar aktifitas berbicara.
b)   Pembicara
Latar belakang pembicara mencakup percaya diri (self assure), motivasi, kemampuan penyampaian pesan, pengetahuan budaya dan pengetahuan kebahasaan. David Nunan (1989: 65 ) mengajukan beberapa hal yang dianggap sangat berhubungan dengan faktor tersebut antara lain: sejauh mana tingkat kepercayaan diri pembicara menyampaikan pesan kepada orang lain. Bagaimana motivasi mereka dalam berbicara? Bagaimana pembicara menyerap secara familiar terhadap topik pembicaraan? Apakah pengalaman pembicara memberikan manfaat atau strategi keahlian dalam penyampaian pesan? Kemampuan bahasa; apakah pembicara mampu mengukur kemampuan berbicaranya? Apakah penyesuaian diri pembicara terhadap lawan bicara sudah memadai?
c)    Tujuan pengajaran berbicara
Tujuan pengajaran berbicara bagi para anak adalah untuk melatih kemampuan berbicara mereka yang meliputi praktik percakapan yang sederhana, bercerita atau mendeskripsikan seseorang, kejadian sehari-hari, dialog atau tanya jawab sesuatu masalah, menceritakan kembali peristiwa-peristiwa sosial, isu politik, budaya pada lingkup nasional maupun internasional. Menyatakan persetujuan atau ketidaksetujuan tentang suatu hal, berdiskusi atau debat. Dengan cara tersebut pengajaran berbicara secara terpadu terpusat pada anak-anak. Para anak dituntut untuk selalu aktif untuk berlatih berbicara. Mereka dilatih untuk berani mengungkapkan pendapat atau perasaan suka atau tidak suka kepada teman-temannya. Sehingga atmosfir di dalam kelas dimenej sebaik mungkin sehingga situasi kelas benar-benar kondusif untuk belajar dan berlatih berbicara atau mengkomunikasikan berbagai hal. Tujuan penciptaan situasi yang kondusif ini adalah agar anak merasa nyaman. Mereka berinteraksi dan bekerjasama saling bertukar pikiran, mengungkapkan gagasan atau ide, pengalaman, perasaan atau membahas topik tertentu. Anak dibuat kelompok-kelompok agar mereka mempunyai kesempatan untuk saling mengungkapkan sesuatu. Kelompok tersebut diberikan suatu topik pembicaraan yang sebelumnya diberikan pemanasan sehingga pembicaraan berjalan dengan lancar. Meskipun telah diciptakan situasi sedemikian rupa kadang kadang siswa masih merasakan adanya hambatan dalam menyampaikan gagasan atau ide, mereka sering merasa ragu-ragu, malu atau takut. Untuk mengeliminir perasaan tersebut guru berperan sangat penting yaitu dengan cara membantu anak-anak menyemangati atau memberikan motivasi dengan mengatakan apa pun gagasan atau ide yang akan disampaikan tidak ada hubungannya dengan benar atau salah sehingga setiap anak bisa menolak atau tidak menjawab tanpa harus memberikan alasan atau keterangan. Hal ini masih menandakan adanya tingkat kategori anak merasa malu. Untuk guru harus mampu memilih aktivitas yang bisa dirasakan para anak merasa nyaman.
d)   Peran guru
Penciptaan situasi dan aktivitas seperti tersebut di atas akan berlangsung baik dengan sendirinya di bawah kendali guru. Kemudian guru memutuskan apakah akan terlibat dalam aktivitas berbicara tersebut secara sejajar sebagai anggota atau hanya akan berada di belakang sebagai pengamat atau membantu kelancaran kegiatan berbicara anak. Untuk cara pertama jarak psikologis antara anak dengan guru dapat dikurangi, sedangkan untuk cara yang kedua guru tidak akan bertindak independen dalam memberikan nasihat atau membantu kelompok yang lain. Bagaimanapun metode yang dipilih, guru harus berhati-hati dalam memberikan koreksi kesalahan berbicara para anaknya, hal ini akan memberikan gambaran mereka pada keraguan dan merasa tidak aman dalam penyampaian pesan ketika mereka benar-benar praktik berkomunikasi. Nampaknya akan lebih baik apabila guru berperan sebagai pengamat dan hanya memberikan bantuan demi kelancaran aktivitas berbicara anak ketika terjadi kebuntuan pembicaraan dengan cara memberikan semangat sehingga mereka mampu mengatasi kesulitan-kesulitan dengan menemukan alternatif lain dalam mengekpresikan hal yang akan dikatakan.
5.    Masalah utama dalam pengukuran ketrampilan berbicara
Pada bahasan awal telah dijelaskan bahwa berbicara merupakan suatu ketrampilan yang kompleks yang memerlukan sejumlah perbedaan penafsiran secara kompak. Berbicara dianggap merupakan masalah yang krusial sehingga sering dihadapkan dengan masalah yang serius dalam pengukuran ketrampilan berbicara sebagaimana dinyatakan oleh Harris (1969 : 87) disebabkan oleh hal-hal sebagai berikut; (1) minimnya kriteria yang reliabel dalam pengukuran ketrampilan berbicara, (2) tidak adanya kesepakatan umum tentang keakuratan pelafalan, (3) tipe pengukuran tes ketrampilan berbicara yang subyektif, (4) adanya ketidakkonsistenan dalam pemberian skor.
6.    Bagaimana mengukur ketrampilan berbicara siswa
Ketrampilan berbicara anak diukur melalui tes. Ada tiga cara dalam pengukuran tersebut yaitu dengan role play (bermain peran) tes, retelling (pengulangan cerita) dan interview (wawancara). Materi tes diambil dari buku English in Three Act oleh Richard Via (1976 :73 ) yang diadaptasi.
a.    Role Play : anak dites untuk bermain drama masing-masing disesuaikan dengan karakter dan peran.
b.    Retelling : anak diminta untuk menceritakan ulang atau untuk memberikan illustrasi yang jelas tentang cerita drama
c.    Interview : anak diwawancarai tentang segala sesuatu yang berhubungan dengan drama
Beberapa aspek yang dinilai adalah
a)    Pelafalan
b)   Struktur bahasa
c)    Kosa kata
d)   Kefasihan
e)    Pemahaman
7.    Komponen-komponen berbicara
Ada lima komponen berbicara yaitu;
a) lafal yang menyangkut vokal, konsonan, tekanan dan pola-pola intonasi);
b) struktur;
c) kosa kata;
d) kefasihan dan
e) pemahaman.
Daftar Pustaka
     Ms Wahyu. Petunjuk Praktis Membuat Skripsi. Usaha Nasional Surabaya. 1987.
Taylor rose.kiat-kiat pd untuk meningkatkan rasa percaya diri. Gramedia pustaka utama. 2011





Komentar

Posting Komentar

Postingan populer dari blog ini

Contoh makalah Malcolm Baldrige National Quality Award

RENCANA PELAKSANAAN PEMBELAJARAN TPA

Contoh makalah Daulah Abbasiyah