SEJARAH PENDIDIKAN ISLAM DI INDONESIA

Gambar
A. Sejarah Pendidikan Islam di Indonesia Masuknya Islam ke Indonesia membawa tradisi pendidikan yang erat kaitannya dengan dakwah. Pada awalnya, pendidikan dilakukan secara sederhana di surau, masjid, atau rumah para ulama. Materi pembelajaran berfokus pada dasar-dasar agama, seperti membaca Al-Qur’an, tata cara ibadah, serta pembinaan akhlak. Seiring perkembangan zaman, lahirlah lembaga pendidikan tradisional yaitu pesantren. Pesantren berfungsi sebagai pusat keilmuan Islam sekaligus benteng moral masyarakat. Para santri dididik dengan kitab kuning (turats), mencakup ilmu fiqih, akidah, tasawuf, dan ilmu alat seperti nahwu dan sharaf. Al-Zarnuji dalam Ta‘lim al-Muta‘allim menekankan pentingnya sanad dalam pendidikan: العِلْمُ دِينٌ يُدَانُ بِهِ، فَيَنْبَغِي لِطَالِبِ العِلْمِ أَنْ يَنْظُرَ عَمَّنْ يَأْخُذُ دِينَهُ “Ilmu adalah bagian dari agama yang dengannya manusia beragama. Maka seorang penuntut ilmu harus memperhatikan dari siapa ia mengambil ilmunya.” Tradisi pesantren membuktika...

Tafsir al quran tentang mengatur hubungan manusia dalam hubungan antar agama





Secara historis, lahirnya Islam disertai dengan lahirnya revolusi pendidikan. Hal itu dapat dilihat dari sikap Nabi yang melakukan bimbingan akhlak dengan didasarkan atas perseimbangan bahwa agama tidak akan berkembang apabila jatuh ketangan orang-orang bodoh(jahiliyah) yang suka bersengketa dan memebuat perpecahan. Bimbingan dan teladan Rasulullah mampu merubah masyarakat jahiliyah menjadi  masyarakat yang satu, dimana antara satu dengan lainnya saling berhubungan meskipun antar agama. Tuntutan agama Islam pada khususnya, sejak awal penyebarannya di dunia ini adalah mengajak dan mendorong umat manusia agar mau bekerja keras mencari kesejahteraan hidup di dunia dan kebahagiaan di akhirat secara simultan antara etos kerja yang terintegrasi, yang satu sama lain saling berkaitan secara continue dengan damai dan tentram, saling cinta dan kasih.
Pendidikan akhlak memiliki peranan yang sangat penting, bahkan lebih penting dalam proses pengembangan peradaban Islam dan mencapai kejayaan umat Islam. Dilihat dari objek formalnya, pendidikan akhlak menjadikan sarana kemampuan manusia untuk dibahas dan dikembangkan. Dalam persoalan kemajuan peradaban dan umat Islam, kemampuan manusia ini harus menjadi perhatian utama karena ia menjadi penentunya.

Ali imron 61

فَمَنۡ حَآجَّكَ فِيهِ مِنۢ بَعۡدِ مَا جَآءَكَ مِنَ ٱلۡعِلۡمِ فَقُلۡ تَعَالَوۡاْ نَدۡعُ أَبۡنَآءَنَا وَأَبۡنَآءَكُمۡ وَنِسَآءَنَا وَنِسَآءَكُمۡ وَأَنفُسَنَا وَأَنفُسَكُمۡ ثُمَّ نَبۡتَهِلۡ فَنَجۡعَل لَّعۡنَتَ ٱللَّهِ عَلَى ٱلۡكَٰذِبِينَ ٦١ 

Maka barang siapa yang menbantah engkau dari itu, sesudah datang kepada engkau pengetahuan, maka katakanlah: marilah kemari! Kita ajak anak-anak kami dan anak-anak- kamu, istri-istri kami dan istri-istri kamu, diri-diri kami dan diri-diri kamua, kemudian itu kita adakan mubahalah dan kita jadikan kiranya laknat Allah atas orang-orang yang berdusta. (Q. S. Ali imron 61)


            فمن:maka siapa yang
حآجك:(mendebatmu) membantahmu
فيه:dalam kebenaran Isa
منۘ بعد:sesudah
ما:apa yang
جآك:datang kepada kamu
من:dari
العلم:(tentang itu) ilmu
فقل:(Muhammad) maka katakan
تعلوا:marilah semua
ندع:(kumpulkan) kita memanggil
ابنآءنا:anak anak kami
وابنآءكم:dan anak anak kami
ونسآءنا:dan istri istri kami
ونسآءكم:dan istri istri kalian
وانفسنا:dan diri diri kami
وانفسكم:dan diri diri kalian
ثم:kemudian
نبتهل:kita berdoa untuk  melaknat orang orang yang berdusta
فنجعل:meminta/marilah kita menjadikan
لعنت:kutukan
اللله:Allah
على:atas
الڪذبين:orang orang yang berdusta


A.  Tafsir Mufrodat
· Tsumma, yakni kemudian, dari segi bahasa digunakan untuk menunjukan adanya selang waktu yang relatif lama antara peristiwa yang terjadi sebelum kata “kemudian” dan sesudahnya. Kata “kemudian” dalam ayat ini diletakkan setelah ajakan memanggil anak dan istri sebelum bermubahalah. Ini memberi isyarat bahwa nabi masih memberi kesempatan waktu yang relatif tidak singkat kepada yang diajak untuk berpikir menyangkut soal mubahalah, karena akibatnya sangat fatal.
· Mubahalah terambil dari kata bahlah atau buhlah, yang berarti do’a yang sunggu-sungguh untuk menjatuhkan kutukan kepada lawan yang membangkang.
Mubahalah ialah sumpah yang berat, yang didalam bersumpah itu dihadirkan anak dan istri dan kedua belah pihak yang bersangkutan, lalu diadakan persumpahan didalam mempertahankan keyakinan masing-masing. Menilai kebenaran pendirian kedua belah pihak. Kalau ternyata kedua belah pihak berkeras kepala, tidak ada yang mau bertolak angsur, biarlah Allah ta’ala menurunkan kutuk laknat-Nyakepada barang siapa yang masih bertahan pada pendirian yang salah.inilah ajakan Rosulullah s.a.w. sendiri kepada utusan-utusan Nasrani yang mempertahankan bahwa Isa Almasih adalah Putra Allah. Kalau pihak kamu masih bertahan pada kepercayaan yang kamu sangka benar itu dan kamipun bertahan pula, padahal alasan sudah sama-sama dikemukakan mari kita bermubahalah, bersumpah berat. Panggil ahli keluarga kita kedua belah pihak, sama-sama menghadiri sumpah itu. Kalau kami dipihak yang salh, kami bersedia menerima kutuk Tuhan. Dan kamupun hendaklah bersedia pula, kalau kamu berpendirian bahwa pihak kamulah yang benar.

B.  Asbabun Nuzul
Dalam suatu riwayat dikemukakan bahwa turunnya beberapa ayat dari Ali Imron antara ayat 1 sampai 80 lebih sebagai penjelasan yang diberikan kepada nabi s.a.w. atas kedatangan kaum nashara yang mempersoalkan nabi Isa as. (diriwayatkan oleh Ibnu Abi Hatim yang bersumber dari ar-Rabi’. Menurut riwayat Ibnu Iskhaq yang bersumber dari Mukhammad bin Sahl bin Abi Umamah yang datang menghadap rasulullah itu kaun nashara Najran , demikian juga menurut riawayat al-Baihaqi dalam kitab ad-Dala-il).
Setengah ahli tafsir mengambil kesimpulan bahwa, nabi mengajak bermubahalah, persediaan mubahalah itu tidak terjadi. Baik menurut riwayat kaum Syi’ah atau menerut pegangan ahli sunnah. Karena pihak Nasrani dari bermula sudah tidak mau. Kata penefsiran itu, ayat mubahalah adalah pembuktian antara yakin dan teguhnaya orang Islam pada iman dan kepercayaannya. Keyakinan tauhid adalah pegangan seluruh keluarga. Baok diri sendiri ataupun anak-anak dan istri, bersedia menghadapi apa sajapun, suka atau duka, hidup ataupun mayi didalam mempertahankan keyakinan. Sebab keyakinan itu bukanlah semata-mata ajaran pusaka melainkan dianut dengan disadari. Sehingga apabila timbul keyakinan atas benarnya apa yang yang diperjuangkan, orang tidak gamang dan gentar meghadapi segala ancaman. Matipun mau. Dan kalau diminta mubahalah yang bersedia menerima kutuk laknat Allah kalau pendirian salah, merekapun bersedia menghadapi karena yakin bahwa mereka tidak akan kena kutuk, sebab pendirian mereka benar.
Dan keyakinan ini sekali-kali bukan membabi-buta, sebab dipangkal ayat sudah dijelaskan yaitu, “sesudah datang kepada engkau pengetahuan”. Keyakinan timbul karena sudah dituntun oleh wahyu Ilahi. Keyakinan itu menjadi pegangan umat Mukhammad seluruhnya. Laki-laki dan perempuan, anak-anak dan orang dewasa. Bukankah kalau keyakinan sudah ada, ketakutan kepada maut tidak ada lagi?. Dari kalimat istri-istri kami, Sayid Rasyid Ridha didalam tafsir al-Manar mengambil suatu inti tentang betapa pentingnya kedudukan perempuandidalam Islam.
Cobalah fikirkan dan bayangkan betapa kalau sekiranya mubahalah itu terjadi menurut asli ayat. Rasulullah s.a.w. membawa seluruh istri-istri beliau dan anak-anaknya yaitu, cucu beliau Hasan dan Husein(karena idlam adat Arab, cucupun disebut anak. Lagi pula beliau tidak mempunyai anak laki-laki). Termasuk Abu Bakar dengan anak istrinya, Ali dengan anak istrinya. Sudah nyata bahwa orang perempuan akan lebih banyak daripada laki-laki, yang turut mempertaruhkan jiwa raga mereka dalam mempertahankan keimanan. Lantaran itu, patutlah diingat bahwasanya kita kaum muslimin menerima ajaran Tuhan yang bahwasanya kaumperempuan mempunyai tanggug jawab, mempunyai hak disamping memikul kewajiban, sama ketengah dan ketepi, turut berperang dan mengerjakan tugasnya yang layak, sehingga didalam peperangan yang besar-besar dizaman Rosulullah s.a.w., perempuan ikut serta. Bahkan beberapa perempuan didalam peperangan Khaibar mendapat saham pembagian sama dengan yang didapat oleh pejuang laki-laki ketika membagi-bagi harta rampasan perang(Ghanimah).   

Al-baqoroh 62

إِنَّ ٱلَّذِينَ ءَامَنُواْ وَٱلَّذِينَ هَادُواْ وَٱلنَّصَٰرَىٰ وَٱلصَّٰبِ‍ِٔينَ مَنۡ ءَامَنَ بِٱللَّهِ وَٱلۡيَوۡمِ ٱلۡأٓخِرِ وَعَمِلَ صَٰلِحٗا فَلَهُمۡ أَجۡرُهُمۡ عِندَ رَبِّهِمۡ وَلَا خَوۡفٌ عَلَيۡهِمۡ وَلَا هُمۡ يَحۡزَنُونَ ٦٢ 
    
Sesungguhnya orang-orang yang beriman dan orang-orang yang jadi Yahudi dan Nasrani dan Shabi’in, barangsiapa yang beriman kepada Allah dan Hari Kemudian dan beramal yang shalih, maka untuk mereka ganjaran disis Tuhan mereka dan tidak ada ketakutan atas mereka dan dan tidaklah mereka berdukacita. (Q. S. Al-Baqoroh: 62)


إن:sesungguhnya
الذين:orang orang yang
امنوا: ( Allah dan RosulNyakepada) mereka beriman
والذين:dan orang orang yang
هادوا:mereka beragama Yahudi
والنصرى:dan orang orang Nasrani
والصابٮين:dan orang orang Shabiin
من:siapa saja yang
امن:beriman
بالله:kepada Allah
واليوم:dan hari
الاخر: (Kiamat)Akhir
وعمل:dan dia berbuat
صالحٮا:kebaikan
فلهم:maka bagi mereka
اجرهم:pahala kebaikan mereka
عند:disini
ربهم:Tuhan mereka
ولا:dan tidak ada
خوف:rasa takut
عليهم:atas mereka
ولا:dan tidaklah
هم:mreka
يحزنون:mereka bersedih hat

 
Asbabun Nuzul
Dalam suatu riwayat dikemukakan bahwa Salman bertany akepada nabi s.a.w. tentang penganut agama yang pernah mereka anut bersama mereka. Ia terangkan cara shalatnya dan ibadahnya. Maka turunlah ayat tersebut diatas(S. 2: 62) sebagai penegasan bahwa orang yang beriman kepada Allah dan hari akhir dan berbuat sholeh akan mendapat pahala dari Allah s.w.t.(diriwayatkan oleh Ibnu Abi Hatim dan al-Adni dalam musnadnya dari Ibnu Abi Najih yang bersumber dari Mujahid).
“Sesungguhnya orang-orang yang beriman”(pangkal ayat 62). Yang dimaksud orang yang beriman disini ialah orang yang memeluk agam Islam, yang telah nenyatakan percaya kepada nabi Mukhammad s.a.w. dan akan tetaplah menjadi pengikutnya sampai hari kiamat: “dan orang-orang yang jadi Yahudi dan Nasrani dan Shabi’in”, yaitu tiga golongan beragama yang percaya juga kepada Tuhan tetapi telahdikenal dengan nama-nama yang demikian “barangsiapa yang beriman kepada Allah” yaitu yang mengaku adanya Allah Yang Maha Esa dengan sebenar-benar pengakuan mengikut suruhan-Nya dan menjahui larangan-Nya “dan Hari Kemudian dan beramal yang shalih”yaitu hari akhirat, kepercayaan yang telah tertanam kepada Tuhan dan Hari Kemudian itu, mereka buktikan pula dengan mempertinggi mutu diri mereka. “maka untuk mereka ganjaran disis Tuhan mereka” inilah janjian yang adil dari Tuhan kepada seluruh manusia, tidak pandang dalam agama yang mana mereka hidup, atau merek apa ynag diletakkan kepada diri mereka, namun mereka masing-masing akan mendapat ganjaran atau pahala disisi Tuhan, sepadan dengan iman dan amal shalih ynag telah mereka kerjakan itu. “dan tidak ada ketakutan atas mereka dan tidaklah mereka akan berdukacita” (ujung ayat 62). Didalam ayat ini terdapatlah nama dari empat golongan:
1.      Disebut orang-orang yang telah beriman ialah orang-orang yang yang telah terlebih dadulu menyatakan kepada segala ajaran yang dibawa oleh nabi Mukhammad s.a.w. yaitu mereka-mereka yang telah berjuang karena imannya, berdiri rapat disisi rasulullah s.a.w. sama-sama menegakkaan agama seketika beliau hidup. Didalam ayat ini mereka dimasukkan dalam kedudukan yang pertama dan utama.
2.      Orang-orang yang jadi Yahudi atau pemeluk agama Yahudi. Sebagaimana kita ketahui Yahudi itu dibangsakan atau diambil dari nama Yahuda, yaitu anak tertua atau anak kedua nabi Ya’kub. Oleh sebab itu mereka disebut Bani Isro’il. Dengan demikian, maka nama agam Yahudi lebih merupakan agama”keluarga” daripada agama untuk manusia pada umumnya.
3.      Orang-orang Nashara. Nashara dan banyak lagi disebut Nasrani. Dibangsakan kepada desa tempat nabi Isa Almasih dilahirkan, yaitu desa Nasharet(dalam bahasa Ibrani) atau Nashira(dalam bahasa Arab). Menurut Ibnu Jarir Qatadah b erpendapat bahwa Nasrani itu memang diambil dari nama desa Nashirah. Ibnu Abbas pun menefsirkan demikian.
4.      Orang-orang Shabi’in, kalau menurut asal artikata maknanya ialah, orang yang keluar dari agamanya yang asal dan masuk keagama yang lain, sama dengan arti asalnya ialah murtad.
Didalam ayat ini dikumpulkannya keempat golongan ini menjadi satu. Bahwa mereka semuanya tidak merasai ketakutan dan duka cita asal saja mereka sudi beriman kepada Allah dan hari akhirat yang diikuti dengan amal sholeh atau berbuat pekerjaan-pekerjaan yang baik, berfaedah dan bermanfaat baik untuk diri sendiri ataupun masyarakat. Dan keempat golongan itu akan mendapatkan ganjaran disisi Tuhan meraka.
Ayat ini adalah suatu tuntunan bagi menegakkan jiwa untuk orang yang percaya kepada Allah. Baik dia bernam mu’min, yahudi, nasrani dan shabi’in. Mafhum atau sebaliknya dari yang tertulis adalah: ”meskipun dia telah mengakui beriman kepada Allah, mengaku beriman mulutnya kepada Rasulullah. Maka kalau iman tidak dibuktikannya denagn amalnya yang shalih tidak ada pekerjaannya yang utama, tidaklah akan diberi ganjaran oleh Tuhan”.

Al-baqoroh 120

وَلَن تَرۡضَىٰ عَنكَ ٱلۡيَهُودُ وَلَا ٱلنَّصَٰرَىٰ حَتَّىٰ تَتَّبِعَ مِلَّتَهُمۡۗ قُلۡ إِنَّ هُدَى ٱللَّهِ هُوَ ٱلۡهُدَىٰۗ وَلَئِنِ ٱتَّبَعۡتَ أَهۡوَآءَهُم بَعۡدَ ٱلَّذِي جَآءَكَ مِنَ ٱلۡعِلۡمِ مَا لَكَ مِنَ ٱللَّهِ مِن وَلِيّٖ وَلَا نَصِيرٍ ١٢٠ 

Dan janganlah sekali-kali tidak ridho terhadap engkau orang-orang yahudi dan nasroni itu, sehingga engkau mengikut agama mereka. Katakanlah: “seseungguhnya petunjuk Allah itulah dia yang petunjuk. Dan sesungguhnya jika engkau menuruti kemauan-kemauan mereka, sesedah datang kepada engkau pengetahuan, tidak adalah bagi engkau selain Allah pelindung dan tidak pula penolong”. (Q.S. al-Baqoroh: 120 )


ولن:dan tidak akan
ترضى:rela senang
عنك: (Muhammad)kepada kamu
اليهود:orang orang Yahudi
ولا: (pula)dan tidak
النصرى:orang orang Nasrani
حتى:sehingga
تتبعع:kamu mengkuti
ملتهم:agama mereka
قل:kataknlah
ان:sesungguhnya
هدى:petunjuk
الله:(Islam)Allah
هو:itulah
الهدى:(yang benar)petunjuk
ولٮن:dan jika
اتبعت:kamu mengikuti
اهواءهم mereka 2 keinginan
بعد:sesudah
جاءك:telah datang kepadamu
من:dari
العلمۙ:(wahyu)pengetahuan
ما:tidak ada
لك:bagimu
من:dari
الله:Allah
من:dari
ولي:pelindung
ولا:dan tidak pula
نصير:penolong

Asbabun Nuzul
Dalam suatu riwayat dikemukakan bahwa kaum yahudi madinah dan kaum nashara najran mengharap agar nabi s.a.w. sholat menghadap kiblat mereka. Ketika Allah s.w.t. membelokkan kiblat itu ke ka’bah, mereka merasa keberatan. Mereka berkomplot dan berusaha agar supaya nabi s.a.w. menyetujui kiblat sesuai dengan agam mereka. Maka turunlah ayat diatas(S. 2: 120) yang menegaskan bahwa orang-orang orang-orang yahudi dan nashara tidak akan senang terhadap nabi s.a.w. walaupun keinginannya dikabulkan. (diriwayatkan oleh at-Tsa’labi dari Ibnu Abbas).
“Dan sekali-kali tidaklah terhadap engkau orang Yahudi dab Nasrani iti, sehingga engkau mengikut agam mereka”. Untuk mengetahui latar-belakng sabda Tuhan ini, hendaklah kita ketahui bahwasanya sebelum rasulullah s.a.w. diutus dalam kalangan bengsa Arab adalah seluruh bangsa Arab dipandang ummi atau orang-orang yang bodoh, tidak beragama, penyembah berhala. Kecerdasannya dianggap lemah. Sedang orang yahudi dan nasroni yang bediam berdiam disekitar bangsa Arab memandang, barulah Arab itu tinggi kecerdasannya, kalau mereka su memeluk agam nasrani dan yahudi. Sekarang nabi Mukhammad s.a.w. diutus Tuhan membawa ajaran Tuhan mencegah menyembah berhala, percaya kepada kitab-kitab dan rasul-rasul yang terdahulu, baik Musa dan Harun atau Isa Almasih. Lantaran nabi s.a.w. tidak menyebut-nyebut agama yahudi atau nasrani, melainkan menunjukkan pula cacat-cacat yang telah terdapat dalam kedua agama itu, jengkellah hati mereka
Setelah itu Tuhan membarikan tuntunan kepada Rasul-Nya:”katakanlah: sesungguhnya petunjuk Allah itulah petunjuk”. Dengan inilah keinginan mereka agar Rosul mengikuti agama mereka telah dijawab. Bahwasanya yang menjadi pedoman didilam hidup dan yang diserukan oleh Mukhammad s.a.w. kepada seluruh umat manusia adalah petunjuk Allah. Petunjuk Allahlah sejati petunjuk. Adapun petunjuk manusia, khayal dan teori manusia bukanlah petunjuk.
“dan sesungguhnya jika engkau turuti kemauan-kemaun mereka itu”. Dengan lanjutan ayat ini, telah diingatkan Tuhan kemauan-kemauan mereka yang ditulis ahwaa ahum. Dari kalimat hawa atau hawa nafsu atau sentimen yabg sama sekali tidak ada dasar kebenarannya. Setengah dari hawanafsu itu telah dibayangkan pada ayat-ayat diatas tadi yaitu, kata mereka bahwa agama yang benar hanya agama Yahudi dan Nasrani. Yahudi merasa bahwa segala anjuran dari pihak lain walupun benar, kalau tidak timbul dari orang yang berdarah Bani Isra’il adalah tidak sah. Sebab mereka adalah”kaum yang telah dipilih dan diistimewakan Tuhan”. Yahudi dan Nasrani telah memandang bahwa masing-masing telah menjadi golongan yang istimewa. Lantaran kepercayaan demikian, mereka tidak mau lagi menilai kebenaran dan menguji faham yang mereka anut. Maka kalau kemauan atau hawa nafsu mereka ini diperturutkan:”sesudah datang kepada engkau pengetahuan,” yaitu wahyu yang telah diturunkan Tuhan kepada Rosul s.a.w. bahwa tidak ada Tuhan yang sebenarnya patut disembah melainkan Allah dan Allah tidak beranak dan tidak diperanakkan, dan lain-lain dasar pokok tauhid, yang jadi pegangan dan tiang teguh dari ajaran sekalian Nabi dan Rosul. Maka kalau kehendak dan kemauan kedua pemeluk agama itu engkau perturutkan, sedang engkau telah diberi ilmu tentang hakikat yang sebenarnya. “tidaklah sda bagi engkau selain Allah akan pelindung dan tidak pula akan penolong.”(ujung ayat 120).


Al- Baqoroh ayat 213

كَانَ ٱلنَّاسُ أُمَّةٗ وَٰحِدَةٗ فَبَعَثَ ٱللَّهُ ٱلنَّبِيِّ‍ۧنَ مُبَشِّرِينَ وَمُنذِرِينَ وَأَنزَلَ مَعَهُمُ ٱلۡكِتَٰبَ بِٱلۡحَقِّ لِيَحۡكُمَ بَيۡنَ ٱلنَّاسِ فِيمَا ٱخۡتَلَفُواْ فِيهِۚ وَمَا ٱخۡتَلَفَ فِيهِ إِلَّا ٱلَّذِينَ أُوتُوهُ مِنۢ بَعۡدِ مَا جَآءَتۡهُمُ ٱلۡبَيِّنَٰتُ بَغۡيَۢا بَيۡنَهُمۡۖ فَهَدَى ٱللَّهُ ٱلَّذِينَ ءَامَنُواْ لِمَا ٱخۡتَلَفُواْ فِيهِ مِنَ ٱلۡحَقِّ بِإِذۡنِهِۦۗ وَٱللَّهُ يَهۡدِي مَن يَشَآءُ إِلَىٰ صِرَٰطٖ مُّسۡتَقِيمٍ 

213. Manusia itu adalah umat yang satu. (setelah timbul perselisihan), Maka Allah mengutus Para Nabi, sebagai pemberi peringatan, dan Allah menurunkan bersama mereka kitab yang benar, untuk memberi keputusan di antara manusia tentang perkara yang mereka perselisihkan. Tidaklah berselisih tentang kitab itu melainkan orang yang telah didatangkan kepada mereka Kitab, Yaitu setelah datang kepada mereka keterangan-keterangan yang nyata, karena dengki antara mereka sendiri. Maka Allah memberi petunjuk orang-orang yang beriman kepada kebenaran tentang hal yang mereka perselisihkann itu dengan kehendak-Nya. dan Allah selalu memberi petunjuk orang yang dikehendaki-Nya kepada jalan yang lurus.

كان:(sebelum ada kemusyrikan)dahulu
الناس:manusia
امة:(adalah)umat
واحدة:(dalam tauhid)satu(yang)
فبعث الله:maka Allah mengutus
النبين:para nabi
مبشرين:(adanya syurga bagi yang beriman)pembawa kabar gembira(sebagai)
ونذرينۖ:(adanya neraka bagi yang ingkar)dan pemberi peringatan
وانزل:dan Dia menurunkan
معهم:bersama mereka
الكتب:kitab
بالحق:dengan kebenaran
ليحكم:untuk menghukumi
بين:di antara
الناس:aimanus
فيما:tentang apa yang
اختلفوا:mereka perselisihkan
فيهۗ:di dalamnya
وما:dan tidak
اختلف:berselisih
فيه:di dalamnya
الا:kecuali
الذين:orang orang yang
اوتوه:mereka telah diberi Kitab
منۘ:dari
بعدما:sesudah
جاء تهم:datang kepada mereka
البينت:bukti nyata
بغيا:kezaliman(karena)
بينهم:di antara mereka
فهدى الله:maka Allah memberi petunjuk
الذين:orang orang yang
امنوا:mereka beriman
لما:tentang apa yang
اختلفوا:mereka perselisihkan
فيه:di dalamnya
من:dari
الحق:kebenaran
بإذنه:kehendakNya
والله:dan Allah
يهدي:Dia menunjuki
من:siapa
يشآء:Dia kehendaki
إلى:kepada
صراط:jalan
مستقيم:(Islam)kebenaran lurus(yang)

Asbabun Nuzul
Bersama nabi-nabi itu diturunkan kitab-kitab dengan kebenaran. Yang tuntunan bagi umat itu dalam mencari hakikat Yang Maha Kuasa yang memang telah diakui adanya oleh akal murninya. “supaya kitab itu memberi keputusan diantara manusia pada hal-hal yang mereka perselisihkan padanya.”terutama pokopk perselisihan setelah mengakui akan AdaNya ialah, tentang bagaimana keadaanNya. Semuanya menurut fitrohnya mengakui Ada. Tetapi mereka berselisih apakah Dia itu Satu atau Berbilang? Apakah tauhid atau syirik? Kitab-kitab itu menuntun pada tauhid.
Tetapi setelah nabi-nabi itu datang dan pergi, dan kitab-kitab telah tinggal ternyata timbul lagi perselisihan. Mengapa jadi timbul perselisihan? Lanjutan ayat menerangkan dengan jelas: ”Tidaklah berselisih tentang kitab itu melainkan orang yang telah didatangkan kepada mereka Kitab, Yaitu setelah datang kepada mereka keterangan-keterangan yang nyata, karena dengki antara mereka sendiri”.
Kitab-kitab sudah banyak, catatanpun ada, tetapi perselisihan timbul juga. Sebabnya ialah karena dengki., walaupun manusia itu hakikatnya satu, tetapi dalam dirinya sendiri-sendiri terdapat pula rangsangan-rangsangan hawanafsu yang membawa selisih. Sedangkan saudara seibu dan sebapak kadang-kadang berselisih dan bertengkar lebih hebat dari perselisihan dan pertengkaran mereka dengan orang lain. Kadang-kadang orang mau bersatu semua tetapi semuanya pula ingin memimpin, semua ingin bersatu tetapi tidak semua mau dipimpin, kadang-kadang manusia bagai katak dalam tempurung yang tidak mengenal langit lain daripada langitnya. Maka, terombang-ambinglah kebenaran oleh hawanafsu manusia dan timbullah perpecahan umat yang pada hakikatnya satu, oleh hawa nafsu perpecahan yang ada pada manusia.
Dan satu lagi sebab-sebab perpecahan ialah karena kesucian kitab suci dikotori oleh tulisan manusia, sehingga tidak dapat dibedakan lagi mana yang wahyu dan dan mana tambahan pemuka agama. Ilmu pengetahuan modernpun sesudah menyelidiki dengan seksama mengakui hal ini. Tetapi dapatkah manusia terlepas dari perselisihan ini? Ujung ayat memberikan penegasan: “Maka Allah memberi petunjuk orang-orang yang beriman kepada kebenaran tentang hal yang mereka perselisihkan itu dengan kehendak-Nya.”mak dengan petunjuk Allah daptlah orang-orang yang beriman itu, orang-orang yang percaya itu, mengatasi segala perselisihan dan langsung menuju kepada hakikat yang asli yaitu, bahwa umat manusia adalah umat yang satu. Dan terhadap catatan-catatan yang sekarang ini karena telah banyak campurtangan manusia, beratus kali salinan, telah banyaklah hal yang meragukan padanya. Meskipun kalau dicari dengan seksama namun, pelajaran kesatuan itu masih ada didalamnya. Untuk menghilangkan keraguan beragama, dihimpunlah semuanya kepada kitab terakhir ialah, Al-qur’an. dan Allah selalu memberi petunjuk orang yang dikehendaki-Nya kepada jalan yang lurus.

Al - Muntahana ayat 7-9
Al- Mumtahana ayat 7

۞عَسَى ٱللَّهُ أَن يَجۡعَلَ بَيۡنَكُمۡ وَبَيۡنَ ٱلَّذِينَ عَادَيۡتُم مِّنۡهُم مَّوَدَّةٗۚ وَٱللَّهُ قَدِيرٞۚ وَٱللَّهُ غَفُورٞ رَّحِيمٞ ٧   
Mudah –mudahan Allah akan menimbulkan kasih sayang diantara kamu dengan orang-orang yang kamu musuhi diantara mereka itu.”(pangkal ayat 7).

عسى:semoga
الله:Allah
أن يجعل:dia menjadikan
بينكم: di antra kalian
وبين:dan antara
الذين: yangorang-orang
عاديتم:kalian musuhi
منهم: (kafir kaum)dari mereka
مودة: (petunjuk memberi mereka)kasih sayang
والله:dan Allah
قدير:samaha kua
والله:dan Allah
غفور:Maha Pengampun
رحيم:Maha kekal kasih sayan


Asbabun Nuzul
Di pangakal ayat ini dibayangkan bahwa barang  yang tidak mustahil bahwa permusuhan yang begitu mendalam diantara nabi saw. Dengan pengikutNya dengan kaum Quraisy musyrikin itu suatu waktu akan mereda.sebab yang utama ialah karana diantara kaum yang telah meyakini islam dengan yang menantangnya itu masih ada pertalian darah dan keturunan. Inipun sangat bergantung pada budi pekerti Rasulululah saw sendiri. Dalm perjuangan yang begitu hebatnya menegakkan aqidah dan melawan kekafiran, tidaklah beliau memaki-maki mengensi pribadi orang seorang yang sangat memusuhinya, yaitu Abu sufyan yang memimpin peperangan untuk menyerbu Madinah dalam dalam perang Uhud, beliau lunakkan orang yang ingin kemegahan itu dengan mengawini anak perempuannya. Yaitu ummu Habibah yang nama kecilnya Ramlah. Seketika didengar Abu sufyan bahwa anak perempuannya Ramlah itu telah dikawini oleh Nabi, ketika anaknya itu hijrah ke Habsyah (Abisyinie), dan yang jadi wakil Nabi mengawininya ialah Najasyi,yaitu raja besar Habsyi yang telah islam, dengan maskawin 400 dinar,bukan main banga Abu sufyan, meskipun Nabi musuhnya.
Itulah yang dinyatakan pada pangkal ayat ini, bahwa mudah saja bagi tuhan menukar kebencian menjadi kasih sayang yang baik,’Dan Allah Maha kuasa,” merubah keadaan dari keruh ke jernih, sebab itu bergantung kepada ketulusn hati manusia jua adanya. “dan Allah itu Maha Pengampun.” Orang yang tadinya jadi musuh besar, bisa saja jadi teman akrab dan dosanya diampuni Tuhan dan “Maha Penyayang.” Ditunjuki-Nya jalan, dibimbing-Nya jiwa, diberi-Nya petunjuk menuju kebenaran. Dari ayat ini kita mendapat pelajaran yang mendalam sekali dalam cara bagaimana menadakan da’wah. Ambillah perbandingan; sedangkan dengan kaum musyrikin yang menentang Islam, Nabi kita s.a.w. lagi-lagi memakai taktik dan siasat jujur yang begitu halus.

Al- Mumtahana ayat 8

لَّا يَنۡهَىٰكُمُ ٱللَّهُ عَنِ ٱلَّذِينَ لَمۡ يُقَٰتِلُوكُمۡ فِي ٱلدِّينِ وَلَمۡ يُخۡرِجُوكُم مِّن دِيَٰرِكُمۡ أَن تَبَرُّوهُمۡ وَتُقۡسِطُوٓاْ إِلَيۡهِمۡۚ إِنَّ ٱللَّهَ يُحِبُّ ٱلۡمُقۡسِطِينَ ٨ 

8. Allah tidak melarang kamu untuk berbuat baik dan Berlaku adil terhadap orang-orang yang tiada memerangimu karena agama dan tidak (pula) mengusir kamu dari negerimu. Sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang Berlaku adil.



لا:tidak
ينهڪم الله:Allah melarang kalian
عن:terhadap
الذين: kafirorang-orang
لم:tidak
فى:dalam
الذين: agama(urusan)
ولم:dan tidak
يحرجوكم:mereka mengisir kalian
من:dari
دياركم:kampung halaman kalian
ان:untuk
تبروهم:kalian berbuat baik kepada mereka
وتقسطوا:dan kalian berlaku adil
اليهم:kepada mereka
ان:sesungguhnya
الله:Allah
يحب:Dia mencintai
المقسطين: yang berbuat adilorang-orang



Penjelasan
Artinya dengan tegas bahwa Allah tudak melarang kamu, hai pemeluk agama Islam, pengikut Mukhammad s.a.w. akan berbaik, berbuat baik, bergaul cara baik, berlaku adil, dan jujur dengan golongan lain, baik mereka itu Yahudi atau Nasrani ataupun musyrik, selama mereka tidak memerangi kamu, tidak memusuhi kamu atau mengusir kamu dari kampung halaman kamu. Dengan begini hendaknya disisihkan diantara perbedaan kepercayaan dengan pergaulan sehari-hari.
“Sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang Berlaku adil”. Didalam ayat ini tersebut muqshithiin yang kita artikan berlaku adil. Sebenarnya arti dari qishthi lebih luas dari ‘Adil. Karena adil adalah khusus ketika menghukum saja, jangan dzalim menjatuhkan keputusan, sehingga yang tidak bersalah disalahkan juga. Qisth adalah lebih luas, mencakup pergaulan hidup. Tegasnya jika kita berbuat baik dengan tetangga sesama Islam, maka dengan tetangga yang bukan Islam hendaklah kita berbaik juga. Jika kita kepada tetangga sesama Islam mengantarkan makanan yang enak, maka kita hendaklah kita qishth, yaitu antari pula makanan kepada tetangga yang berlain agama. Jika mereka didalam kesedihan, tunjukkanlah bahwa kepada mereka bahwa kitapun ikit bersedih. Nabi s.a.w. pernah ‘iyadah, yaitu melawat kepada suatu keluarga Yahudi yang anak lelakinya pernah bekerja jadi pembantu dirumah Rasulullah, sedang anak itu sakit keras. Ketika anak itu dalam keadaan sekarat dibujuk Rasulullah agar mengakui Islam sebagai agamanya. Ditengoknya mata ayahnya mohon kerelaan. Lalu ayahnya berkata: “turutilah kehendak Abdul Qasim itu anakku! Ucapkanlah dua kalimat syahadat!”. Maka anak itu mengucapkan dua kalimat syahadat, sehingga meninggal dalam Islam. Disini Rasulullah telah memperlihatkan sikap beliau yang penuh kasih sayang, sehingga ziarah beliau sangat besar pengaruhnya kepada keluarga Yahudi itu.
Ahli-ahli tafsir menyatakan bahwa ayat ini adalah”muhkamah”, artinya berlaku buat selama-lamanya, tidak dimansukhkan. Dalam segala zaman hendaklah kita berbaik dan bersikap adil dan jujur kepada orang yang tidak memusuhi kita dan tidak bertindak mengusir dari kampung halaman kita. Kita diwajibkan menunjukkan budi Islam kita yang tinggi.

Al – Mumtahana ayat 9

إِنَّمَا يَنۡهَىٰكُمُ ٱللَّهُ عَنِ ٱلَّذِينَ قَٰتَلُوكُمۡ فِي ٱلدِّينِ وَأَخۡرَجُوكُم مِّن دِيَٰرِكُمۡ وَظَٰهَرُواْ عَلَىٰٓ إِخۡرَاجِكُمۡ أَن تَوَلَّوۡهُمۡۚ وَمَن يَتَوَلَّهُمۡ فَأُوْلَٰٓئِكَ هُمُ ٱلظَّٰلِمُونَ ٩ 

9. Sesungguhnya Allah hanya melarang kamu menjadikan sebagai kawanmu orang-orang yang memerangimu karena agama dan mengusir kamu dari negerimu, dan membantu (orang lain) untuk mengusirmu. dan Barangsiapa menjadikan mereka sebagai kawan, Maka mereka Itulah orang-orang yang zalim.

انما:sesungguhnya
ينهىكم الله:Allah melarang kalian
عن:terhadap
الذين: yangorang-orang
قاتلوكم:mereka memerangi kalian
فى:dalam
الذين: agama(urusan)
واخرجوكم:dan mereka mengusir kalian
من:dari
دياركم:kampung halaman kalian
وظاهروا:dan mereka membantu
على:atas
اخراجڪم:pengusiran kalian
أن:untuk
تولوهم:kalian menjadikan sebagai teman setia
ومن:dan siapa yang
يتولهم:dia menjadikan sebagai teman setia
فاولىٮك:maka mereka itu
هم:mereka adalah
الظلمون:orangorang yang dzalim

Penjelasan
Sesungguhnya Allah hanya melarang kamu menjadikan sebagai kawanmu orang-orang yang memerangimu karena agama dan mengusir kamu dari negerimu, dan membantu (orang lain) untuk mengusirmu” Artinya kalau mereka yang berlain agama dan keyakinan dengan kita sudah terang memusuhi kita dan memerangi kita, sudah sampai mengusir kita dari negri kita sendiri: ”dan mereka bantu atas pengusiran itu” artinya, meskipun mereka tidak ikut keluar pergi memerangi Islam, tetapi mereka memberikan bantuan.
“Barangsiapa menjadikan mereka sebagai kawan, Maka mereka Itulah orang-orang yang zalim”. Orang yang membuat hubungan baik dengan musuh yang nyata jelas memusuhi Islam, memerangi dan bahkan sampai nengusir atau membantu pengusiran, jelaslah dia itu orang yang aniaya. Sebab dia telah merusak strategi, atau siasat perlawanan Islam terhadap musuh. Tandanya orang yang membuat hubungan ini tidak teguh imannya, tidak ada gairahnya dala mempertahankan agama. Sama juga halnya dengan orang yang mengaku dirinya Islam tetapi ia berkata;”bagi saya segala agama itu adalah sama saja, karena sama-sama tujuannya.” Orang yang berkata begini nyatalah bahwa tidak ada agama yang mengisi hatinya. Kalau dia mengatakan dirinya Islam, maka perkataannya itu tidak sesuai dengan kenyataannya. Karena bagi orang Islam sejati, agama yang sebenarnya adalah Islam.

Al-kafirun Ayat 1-5

قُلۡ يَٰٓأَيُّهَا ٱلۡكَٰفِرُونَ ١  لَآ أَعۡبُدُ مَا تَعۡبُدُونَ ٢  وَلَآ أَنتُمۡ عَٰبِدُونَ مَآ أَعۡبُدُ ٣  وَلَآ أَنَا۠ عَابِدٞ مَّا عَبَدتُّمۡ ٤ وَلَآ أَنتُمۡ عَٰبِدُونَ مَآ أَعۡبُدُ ٥
1. Katakanlah: "Hai orang-orang kafir
2. Aku tidak akan menyembah apa yang kamu sembah
3. Dan kamu bukan penyembah Tuhan yang aku sembah
4. Dan aku tidak pernah menjadi penyembah apa yang kamu sembah
5. dan kamu tidak pernah (pula) menjadi penyembah Tuhan yang aku sembah

قل:katakan(muhammad)
يايها:wahai
الكفرون:orang-orang kafir
لا:Tidak
اعبد:aku akn menyembah
ما:apa(berhala)yang
تعبدونۙ:kalian sembah
ولا:dan bukanlah
انتم:kalian
عبدون:para penyambah
ما:yang(Allah)apa
اعبد:aku sembah
ولا:dan bukanlah
انا:aku
عا بد:penyambah
ما:apa yang
عبدتم:kalian sembah
ولا:(pula)dan tidak
انتم:kalian
ما:apa yang
اعبدۗ:haku semba
لكم:bagi kalian
دينكم:agama kalian
ولي:dan bagiku
دين: (islam)agamaku

SURAT AL-KAFIRUN(ORANG - KAFIR)
Surat Al-kafirun terdiri dari 6 ayat, termasuk golongan surat Makkiyah, diturunkan 
Dinamai “Al-kaafiruun”(orang-orang kafir) diambil dari perkataan “Al-kaafiruun”yang terdapat dalam ayat pertama surat ini.
Dalam suatu riwayat dikemukakan bahwa kaum Quraisyy berusaha mempengaruhi nabi s.a.w. dengan menawarkan hara kekayaan agar beliau menjadi seorangyang paling kaya dikota Mekkah dan akan dikawinkan kepada yang beliau kehendaki. Usaha ini disampaikan dengan berkata: “inilah yang kami sediakan bagimu ya Mukhammad. Dengan syarat agar engkau jangan memaki-maki tuhan kami dan menjelekkannya atau sembahlah tuhan-tuhan kami selama setahun”. Nabi s.a.w. menjawab: ”aku akan menunggu wahyu dari Tuhanku” ayat ini(S. 109: 1-6) turun berkenaan dengan peristiwa itu sebagai perintah untuk menolak tawaran kaum kafir. (diriwayatka oleh at-Tabrani dan Ibnu Hatim yang bersumber dari Ibnu Abbas).
Dalam riwayat lain dikemukakan bahwa kaum kafir quraisy berkata kepada nabi s.a.w.: ”sekiranya engkau tidak keberatan mengikuti kami(menyembah berhala) selam setahun, kami akan mengikuti agamamu selam setahun pula”. (diriwayatkan oleh Abdurrazaq yang bersumber dari Wahb dan Ibnul Munzhir dari Juraij).
Dalam riwayat lain dikemukakan bahwa al-Walid, al-Mughirah, al-‘Ashi bin Wa’il, al-Aswad bin al- Mutholib dan Umayah bin Khalaf bertemu dengan rasulullah s.a.w. dan berkata: ”hai Mukhammad! mari kia bersama menyembah apa yang engkau sembah dan kita bersekutu dalam segala hal dan engkaulah yang memimpin kami”. (diriwaytkan oleh Ibnu Abi Hatim yang bersumber dari Sa’id bin Mina). 

Pokok-pokok isinya:
Pernyataan bahwa Tuhan yang disembah oleh orang-orang kafir dan Nabi Muhammad saw tidak akan menyembah apa yang disembah oleh orang-orang kafir.
(1-2)Dalam ayat-ayat ini Allah memerintahkan nabiNya agar menyatakan kepada orang-orang kafir, bahwa”Tuhan” yang kamu sembah bukanlah “Tuhan” yang saya sembah, karena kamu menyembah Tuhan yang disembah Nabi Muhammad saw, dan pengikut pengikutnya bukanlah apa yan “Tuhan” yang memerlukan pembantu dan mempunyai anak atau ia menjelma dalam sesuatu bentuk atau dalam sesuatu rupa atau bentuk-bentuk lain-lain yang kau dakwakan. Sedang saya menyembah “Tuhan” yang tidak ada tandinganNya dan tidak ad sekutu bagiNya; tidak mempunyai anak, tidak empunyai teman wanita dan tidak menjelma dalam sesuatu tubuh. Akal tidak sanggup menerka bagaimana Dia, tidak ditentukan oleh tempat dan terikat oleh masa, tidak memerlukan perantaraan dan tidak pula memerlukan penghubung.
(3) Dalam ayat ini Allah menambahkan lagi pernyataan yang dsuru sampaikan kepada orang-orang kafir dengan menyatakan, “Kamu tidak menyembah Tuhanku yang aku panggil kamu untuk menyembahNya, karena berlainan sifat-sifatNya dari sifat-sifat “Tuhan” yang kamu sembah dan tidak mungkin dipertemukan antara dua macam sifat tersebut.
(4-5) Kemudian sesudah Allah menyatakan tentang tidak mgkn ada persamaan sifat antara Tuhan yang disembah oleh Nabi saw, dengan yang disembah oleh mereka. Maksud keterangan diatas menjelaskan jelaslah adanya perbedaan apa yang disembah dan cara ibadah masing- masing.
(6) Kemudian dalam ayat ini Allah mengancam orang-orang kafir dengan firmanNya yaitu :
ولنآاعمالناولڪم اعمالڪم  
“Bagi kami amalan kami, bagi kamu amalan kamu”385
Surat Al-kafiruun mengisyaratkan habisnya semua harapan orang-orang kafir dalam usha mereka meninggalkan dakwahnya.

Kesimpulan
Mubahalah ialah sumpah yang berat, yang didalam bersumpah itu dihadirkan anak dan istri dan kedua belah pihak yang bersangkutan, lalu diadakan persumpahan didalam mempertahankan keyakinan masing-masing. Menilai kebenaran pendirian kedua belah pihak. Kalau ternyata kedua belah pihak berkeras kepala, tidak ada yang mau bertolak angsur, biarlah Allah ta’ala menurunkan kutuk laknat-Nyakepada barang siapa yang masih bertahan pada pendirian yang salah.inilah ajakan Rosulullah s.a.w.
Tuhan yang disembah oleh orang-orang kafir dan Nabi Muhammad saw tidak akan menyembah apa yang disembah oleh orang-orang kafir. Dalam ayat-ayat di atas ini Allah memerintahkan nabiNya agar menyatakan kepada orang-orang kafir, bahwa”Tuhan” yang kamu sembah bukanlah “Tuhan” yang saya sembah, karena kamu menyembah Tuhan yang disembah Nabi Muhammad saw, dan pengikut pengikutnya bukanlah apa yan “Tuhan” yang memerlukan pembantu dan mempunyai anak atau ia menjelma dalam sesuatu bentuk atau dalam sesuatu rupa atau bentuk-bentuk lain-lain yang kau dakwakan.



 Daftar pustaka
Prof. DR. Hamka. Tafsir al-Azhar juzu’ I, II dan XXVIII. Jakarta. 1983. Pustaka Panjimas
Shihab, Qurisy. Tafsir Al- Mishbah. Jakarta. 2003. Lentera Hati.
K. H. Q. Shaleh. Asbabun Nuzul. Bandung. 1999. CV Deponegoro.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Contoh makalah Malcolm Baldrige National Quality Award

RENCANA PELAKSANAAN PEMBELAJARAN TPA

Contoh makalah Daulah Abbasiyah