Secara
historis, lahirnya Islam disertai dengan lahirnya revolusi pendidikan. Hal itu
dapat dilihat dari sikap Nabi yang melakukan bimbingan akhlak dengan didasarkan
atas perseimbangan bahwa agama tidak akan berkembang apabila jatuh ketangan orang-orang
bodoh(jahiliyah) yang suka bersengketa dan memebuat perpecahan. Bimbingan dan
teladan Rasulullah mampu merubah masyarakat jahiliyah menjadi masyarakat yang satu, dimana antara satu
dengan lainnya saling berhubungan meskipun antar agama. Tuntutan agama Islam
pada khususnya, sejak awal penyebarannya di dunia ini adalah mengajak dan
mendorong umat manusia agar mau bekerja keras mencari kesejahteraan hidup di
dunia dan kebahagiaan di akhirat secara simultan antara etos kerja yang
terintegrasi, yang satu sama lain saling berkaitan secara continue dengan damai
dan tentram, saling cinta dan kasih.
Pendidikan
akhlak memiliki peranan yang sangat penting, bahkan lebih penting dalam proses
pengembangan peradaban Islam dan mencapai kejayaan umat Islam. Dilihat dari
objek formalnya, pendidikan akhlak menjadikan sarana kemampuan manusia untuk
dibahas dan dikembangkan. Dalam persoalan kemajuan peradaban dan umat Islam,
kemampuan manusia ini harus menjadi perhatian utama karena ia menjadi penentunya.
Ali imron 61
فَمَنۡ
حَآجَّكَ فِيهِ مِنۢ بَعۡدِ مَا جَآءَكَ مِنَ ٱلۡعِلۡمِ فَقُلۡ تَعَالَوۡاْ
نَدۡعُ أَبۡنَآءَنَا وَأَبۡنَآءَكُمۡ وَنِسَآءَنَا وَنِسَآءَكُمۡ وَأَنفُسَنَا
وَأَنفُسَكُمۡ ثُمَّ نَبۡتَهِلۡ فَنَجۡعَل لَّعۡنَتَ ٱللَّهِ عَلَى ٱلۡكَٰذِبِينَ
٦١
Maka
barang siapa yang menbantah engkau dari itu, sesudah datang kepada engkau
pengetahuan, maka katakanlah: marilah kemari! Kita ajak anak-anak kami dan
anak-anak- kamu, istri-istri kami dan istri-istri kamu, diri-diri kami dan
diri-diri kamua, kemudian itu kita adakan mubahalah dan kita jadikan kiranya
laknat Allah atas orang-orang yang berdusta. (Q. S. Ali imron 61)
فمن:maka
siapa yang
حآجك:(mendebatmu)
membantahmu
فيه:dalam
kebenaran Isa
منۘ
بعد:sesudah
ما:apa
yang
جآك:datang
kepada kamu
من:dari
العلم:(tentang
itu) ilmu
فقل:(Muhammad)
maka katakan
تعلوا:marilah
semua
ندع:(kumpulkan)
kita memanggil
ابنآءنا:anak
anak kami
وابنآءكم:dan
anak anak kami
ونسآءنا:dan
istri istri kami
ونسآءكم:dan
istri istri kalian
وانفسنا:dan
diri diri kami
وانفسكم:dan
diri diri kalian
ثم:kemudian
نبتهل:kita
berdoa untuk melaknat orang orang yang
berdusta
فنجعل:meminta/marilah
kita menjadikan
لعنت:kutukan
اللله:Allah
على:atas
الڪذبين:orang
orang yang berdusta
A. Tafsir Mufrodat
· Tsumma, yakni
kemudian, dari segi bahasa digunakan
untuk menunjukan adanya selang waktu yang relatif lama antara peristiwa yang
terjadi sebelum kata “kemudian” dan sesudahnya. Kata “kemudian” dalam ayat ini
diletakkan setelah ajakan memanggil anak dan istri sebelum bermubahalah. Ini
memberi isyarat bahwa nabi masih memberi kesempatan waktu yang relatif tidak
singkat kepada yang diajak untuk berpikir menyangkut soal mubahalah, karena
akibatnya sangat fatal.
· Mubahalah
terambil dari kata bahlah atau buhlah, yang berarti do’a yang
sunggu-sungguh untuk menjatuhkan kutukan kepada lawan yang membangkang.
Mubahalah ialah sumpah
yang berat, yang didalam bersumpah itu dihadirkan anak dan istri dan kedua
belah pihak yang bersangkutan, lalu diadakan persumpahan didalam mempertahankan
keyakinan masing-masing. Menilai kebenaran pendirian kedua belah pihak. Kalau
ternyata kedua belah pihak berkeras kepala, tidak ada yang mau bertolak angsur,
biarlah Allah ta’ala menurunkan kutuk laknat-Nyakepada barang siapa yang masih
bertahan pada pendirian yang salah.inilah ajakan Rosulullah s.a.w. sendiri
kepada utusan-utusan Nasrani yang mempertahankan bahwa Isa Almasih adalah Putra
Allah. Kalau pihak kamu masih bertahan pada kepercayaan yang kamu sangka benar
itu dan kamipun bertahan pula, padahal alasan sudah sama-sama dikemukakan mari
kita bermubahalah, bersumpah berat. Panggil ahli keluarga kita kedua belah
pihak, sama-sama menghadiri sumpah itu. Kalau kami dipihak yang salh, kami
bersedia menerima kutuk Tuhan. Dan kamupun hendaklah bersedia pula, kalau kamu
berpendirian bahwa pihak kamulah yang benar.
B. Asbabun Nuzul
Dalam
suatu riwayat dikemukakan bahwa turunnya beberapa ayat dari Ali Imron antara
ayat 1 sampai 80 lebih sebagai penjelasan yang diberikan kepada nabi s.a.w.
atas kedatangan kaum nashara yang mempersoalkan nabi Isa as. (diriwayatkan oleh
Ibnu Abi Hatim yang bersumber dari ar-Rabi’. Menurut riwayat Ibnu Iskhaq yang
bersumber dari Mukhammad bin Sahl bin Abi Umamah yang datang menghadap
rasulullah itu kaun nashara Najran , demikian juga menurut riawayat al-Baihaqi
dalam kitab ad-Dala-il).
Setengah
ahli tafsir mengambil kesimpulan bahwa, nabi mengajak bermubahalah, persediaan
mubahalah itu tidak terjadi. Baik menurut riwayat kaum Syi’ah atau menerut
pegangan ahli sunnah. Karena pihak Nasrani dari bermula sudah tidak mau. Kata
penefsiran itu, ayat mubahalah adalah pembuktian antara yakin dan teguhnaya
orang Islam pada iman dan kepercayaannya. Keyakinan tauhid adalah pegangan
seluruh keluarga. Baok diri sendiri ataupun anak-anak dan istri, bersedia
menghadapi apa sajapun, suka atau duka, hidup ataupun mayi didalam
mempertahankan keyakinan. Sebab keyakinan itu bukanlah semata-mata ajaran
pusaka melainkan dianut dengan disadari. Sehingga apabila timbul keyakinan atas
benarnya apa yang yang diperjuangkan, orang tidak gamang dan gentar meghadapi
segala ancaman. Matipun mau. Dan kalau diminta mubahalah yang bersedia menerima
kutuk laknat Allah kalau pendirian salah, merekapun bersedia menghadapi karena
yakin bahwa mereka tidak akan kena kutuk, sebab pendirian mereka benar.
Dan
keyakinan ini sekali-kali bukan membabi-buta, sebab dipangkal ayat sudah
dijelaskan yaitu, “sesudah datang kepada
engkau pengetahuan”. Keyakinan timbul karena sudah dituntun oleh wahyu
Ilahi. Keyakinan itu menjadi pegangan umat Mukhammad seluruhnya. Laki-laki dan
perempuan, anak-anak dan orang dewasa. Bukankah kalau keyakinan sudah ada,
ketakutan kepada maut tidak ada lagi?. Dari kalimat istri-istri kami, Sayid
Rasyid Ridha didalam tafsir al-Manar mengambil suatu inti tentang betapa
pentingnya kedudukan perempuandidalam Islam.
Cobalah
fikirkan dan bayangkan betapa kalau sekiranya mubahalah itu terjadi menurut
asli ayat. Rasulullah s.a.w. membawa seluruh istri-istri beliau dan
anak-anaknya yaitu, cucu beliau Hasan dan Husein(karena idlam adat Arab,
cucupun disebut anak. Lagi pula beliau tidak mempunyai anak laki-laki).
Termasuk Abu Bakar dengan anak istrinya, Ali dengan anak istrinya. Sudah nyata
bahwa orang perempuan akan lebih banyak daripada laki-laki, yang turut
mempertaruhkan jiwa raga mereka dalam mempertahankan keimanan. Lantaran itu,
patutlah diingat bahwasanya kita kaum muslimin menerima ajaran Tuhan yang
bahwasanya kaumperempuan mempunyai tanggug jawab, mempunyai hak disamping
memikul kewajiban, sama ketengah dan ketepi, turut berperang dan mengerjakan
tugasnya yang layak, sehingga didalam peperangan yang besar-besar dizaman
Rosulullah s.a.w., perempuan ikut serta. Bahkan beberapa perempuan didalam
peperangan Khaibar mendapat saham pembagian sama dengan yang didapat oleh
pejuang laki-laki ketika membagi-bagi harta rampasan perang(Ghanimah).
Al-baqoroh
62
إِنَّ ٱلَّذِينَ ءَامَنُواْ
وَٱلَّذِينَ هَادُواْ وَٱلنَّصَٰرَىٰ وَٱلصَّٰبِِٔينَ مَنۡ ءَامَنَ بِٱللَّهِ وَٱلۡيَوۡمِ
ٱلۡأٓخِرِ وَعَمِلَ صَٰلِحٗا فَلَهُمۡ أَجۡرُهُمۡ عِندَ رَبِّهِمۡ وَلَا خَوۡفٌ
عَلَيۡهِمۡ وَلَا هُمۡ يَحۡزَنُونَ ٦٢
Sesungguhnya
orang-orang yang beriman dan orang-orang yang jadi Yahudi dan Nasrani dan
Shabi’in, barangsiapa yang beriman kepada Allah dan Hari Kemudian dan beramal
yang shalih, maka untuk mereka ganjaran disis Tuhan mereka dan tidak ada
ketakutan atas mereka dan dan tidaklah mereka berdukacita. (Q. S. Al-Baqoroh:
62)
إن:sesungguhnya
الذين:orang
orang yang
امنوا:
( Allah dan RosulNyakepada) mereka beriman
والذين:dan
orang orang yang
هادوا:mereka
beragama Yahudi
والنصرى:dan
orang orang Nasrani
والصابٮين:dan
orang orang Shabiin
من:siapa
saja yang
امن:beriman
بالله:kepada
Allah
واليوم:dan
hari
الاخر:
(Kiamat)Akhir
وعمل:dan
dia berbuat
صالحٮا:kebaikan
فلهم:maka
bagi mereka
اجرهم:pahala
kebaikan mereka
عند:disini
ربهم:Tuhan
mereka
ولا:dan
tidak ada
خوف:rasa
takut
عليهم:atas
mereka
ولا:dan
tidaklah
هم:mreka
يحزنون:mereka
bersedih hat
Asbabun Nuzul
Dalam
suatu riwayat dikemukakan bahwa Salman bertany akepada nabi s.a.w. tentang
penganut agama yang pernah mereka anut bersama mereka. Ia terangkan cara
shalatnya dan ibadahnya. Maka turunlah ayat tersebut diatas(S. 2: 62) sebagai
penegasan bahwa orang yang beriman kepada Allah dan hari akhir dan berbuat
sholeh akan mendapat pahala dari Allah s.w.t.(diriwayatkan oleh Ibnu Abi Hatim
dan al-Adni dalam musnadnya dari Ibnu Abi Najih yang bersumber dari Mujahid).
“Sesungguhnya
orang-orang yang beriman”(pangkal ayat 62). Yang dimaksud
orang yang beriman disini ialah orang yang memeluk agam Islam, yang telah
nenyatakan percaya kepada nabi Mukhammad s.a.w. dan akan tetaplah menjadi
pengikutnya sampai hari kiamat: “dan orang-orang yang jadi Yahudi dan
Nasrani dan Shabi’in”, yaitu tiga golongan beragama yang percaya juga
kepada Tuhan tetapi telahdikenal dengan nama-nama yang demikian “barangsiapa
yang beriman kepada Allah” yaitu yang mengaku adanya Allah Yang Maha Esa
dengan sebenar-benar pengakuan mengikut suruhan-Nya dan menjahui larangan-Nya “dan
Hari Kemudian dan beramal yang shalih”yaitu hari akhirat, kepercayaan yang
telah tertanam kepada Tuhan dan Hari Kemudian itu, mereka buktikan pula dengan
mempertinggi mutu diri mereka. “maka untuk mereka ganjaran disis Tuhan
mereka” inilah janjian yang adil dari Tuhan kepada seluruh manusia, tidak
pandang dalam agama yang mana mereka hidup, atau merek apa ynag diletakkan
kepada diri mereka, namun mereka masing-masing akan mendapat ganjaran atau
pahala disisi Tuhan, sepadan dengan iman dan amal shalih ynag telah mereka
kerjakan itu. “dan tidak ada ketakutan atas mereka dan tidaklah mereka akan
berdukacita” (ujung ayat 62). Didalam ayat ini terdapatlah nama dari empat
golongan:
1. Disebut
orang-orang yang telah beriman ialah orang-orang yang yang telah terlebih
dadulu menyatakan kepada segala ajaran yang dibawa oleh nabi Mukhammad s.a.w.
yaitu mereka-mereka yang telah berjuang karena imannya, berdiri rapat disisi
rasulullah s.a.w. sama-sama menegakkaan agama seketika beliau hidup. Didalam ayat
ini mereka dimasukkan dalam kedudukan yang pertama dan utama.
2. Orang-orang
yang jadi Yahudi atau pemeluk agama Yahudi. Sebagaimana kita ketahui Yahudi itu
dibangsakan atau diambil dari nama Yahuda, yaitu anak tertua atau anak kedua
nabi Ya’kub. Oleh sebab itu mereka disebut Bani Isro’il. Dengan demikian, maka
nama agam Yahudi lebih merupakan agama”keluarga” daripada agama untuk manusia
pada umumnya.
3. Orang-orang
Nashara. Nashara dan banyak lagi disebut Nasrani. Dibangsakan kepada desa
tempat nabi Isa Almasih dilahirkan, yaitu desa Nasharet(dalam bahasa Ibrani)
atau Nashira(dalam bahasa Arab). Menurut Ibnu Jarir Qatadah b erpendapat bahwa
Nasrani itu memang diambil dari nama desa Nashirah. Ibnu Abbas pun menefsirkan
demikian.
4. Orang-orang
Shabi’in, kalau menurut asal artikata maknanya ialah, orang yang keluar dari
agamanya yang asal dan masuk keagama yang lain, sama dengan arti asalnya ialah
murtad.
Didalam
ayat ini dikumpulkannya keempat golongan ini menjadi satu. Bahwa mereka
semuanya tidak merasai ketakutan dan duka cita asal saja mereka sudi beriman
kepada Allah dan hari akhirat yang diikuti dengan amal sholeh atau berbuat
pekerjaan-pekerjaan yang baik, berfaedah dan bermanfaat baik untuk diri sendiri
ataupun masyarakat. Dan keempat golongan itu akan mendapatkan ganjaran disisi
Tuhan meraka.
Ayat
ini adalah suatu tuntunan bagi menegakkan jiwa untuk orang yang percaya kepada
Allah. Baik dia bernam mu’min, yahudi, nasrani dan shabi’in. Mafhum atau
sebaliknya dari yang tertulis adalah: ”meskipun dia telah mengakui beriman
kepada Allah, mengaku beriman mulutnya kepada Rasulullah. Maka kalau iman tidak
dibuktikannya denagn amalnya yang shalih tidak ada pekerjaannya yang utama,
tidaklah akan diberi ganjaran oleh Tuhan”.
Al-baqoroh 120
وَلَن تَرۡضَىٰ عَنكَ ٱلۡيَهُودُ
وَلَا ٱلنَّصَٰرَىٰ حَتَّىٰ تَتَّبِعَ مِلَّتَهُمۡۗ قُلۡ إِنَّ هُدَى ٱللَّهِ هُوَ
ٱلۡهُدَىٰۗ وَلَئِنِ ٱتَّبَعۡتَ أَهۡوَآءَهُم بَعۡدَ ٱلَّذِي جَآءَكَ مِنَ ٱلۡعِلۡمِ
مَا لَكَ مِنَ ٱللَّهِ مِن وَلِيّٖ وَلَا نَصِيرٍ ١٢٠
Dan janganlah
sekali-kali tidak ridho terhadap engkau orang-orang yahudi dan nasroni itu,
sehingga engkau mengikut agama mereka. Katakanlah: “seseungguhnya petunjuk
Allah itulah dia yang petunjuk. Dan sesungguhnya jika engkau menuruti
kemauan-kemauan mereka, sesedah datang kepada engkau pengetahuan, tidak adalah
bagi engkau selain Allah pelindung dan tidak pula penolong”. (Q.S. al-Baqoroh:
120 )
ولن:dan
tidak akan
ترضى:rela
senang
عنك:
(Muhammad)kepada kamu
اليهود:orang
orang Yahudi
ولا:
(pula)dan tidak
النصرى:orang
orang Nasrani
حتى:sehingga
تتبعع:kamu
mengkuti
ملتهم:agama
mereka
قل:kataknlah
ان:sesungguhnya
هدى:petunjuk
الله:(Islam)Allah
هو:itulah
الهدى:(yang
benar)petunjuk
ولٮن:dan
jika
اتبعت:kamu
mengikuti
اهواءهم
mereka 2 keinginan
بعد:sesudah
جاءك:telah
datang kepadamu
من:dari
العلمۙ:(wahyu)pengetahuan
ما:tidak
ada
لك:bagimu
من:dari
الله:Allah
من:dari
ولي:pelindung
ولا:dan
tidak pula
نصير:penolong
Asbabun
Nuzul
Dalam
suatu riwayat dikemukakan bahwa kaum yahudi madinah dan kaum nashara najran mengharap
agar nabi s.a.w. sholat menghadap kiblat mereka. Ketika Allah s.w.t.
membelokkan kiblat itu ke ka’bah, mereka merasa keberatan. Mereka berkomplot
dan berusaha agar supaya nabi s.a.w. menyetujui kiblat sesuai dengan agam
mereka. Maka turunlah ayat diatas(S. 2: 120) yang menegaskan bahwa orang-orang
orang-orang yahudi dan nashara tidak akan senang terhadap nabi s.a.w. walaupun
keinginannya dikabulkan. (diriwayatkan oleh at-Tsa’labi dari Ibnu Abbas).
“Dan
sekali-kali tidaklah terhadap engkau orang Yahudi dab Nasrani iti, sehingga
engkau mengikut agam mereka”. Untuk mengetahui
latar-belakng sabda Tuhan ini, hendaklah kita ketahui bahwasanya sebelum
rasulullah s.a.w. diutus dalam kalangan bengsa Arab adalah seluruh bangsa Arab
dipandang ummi atau orang-orang yang bodoh, tidak beragama, penyembah
berhala. Kecerdasannya dianggap lemah. Sedang orang yahudi dan nasroni yang
bediam berdiam disekitar bangsa Arab memandang, barulah Arab itu tinggi
kecerdasannya, kalau mereka su memeluk agam nasrani dan yahudi. Sekarang nabi
Mukhammad s.a.w. diutus Tuhan membawa ajaran Tuhan mencegah menyembah berhala,
percaya kepada kitab-kitab dan rasul-rasul yang terdahulu, baik Musa dan Harun
atau Isa Almasih. Lantaran nabi s.a.w. tidak menyebut-nyebut agama yahudi atau
nasrani, melainkan menunjukkan pula cacat-cacat yang telah terdapat dalam kedua
agama itu, jengkellah hati mereka
Setelah
itu Tuhan membarikan tuntunan kepada Rasul-Nya:”katakanlah:
sesungguhnya petunjuk Allah itulah petunjuk”. Dengan inilah keinginan
mereka agar Rosul mengikuti agama mereka telah dijawab. Bahwasanya yang menjadi
pedoman didilam hidup dan yang diserukan oleh Mukhammad s.a.w. kepada seluruh
umat manusia adalah petunjuk Allah. Petunjuk Allahlah sejati petunjuk. Adapun
petunjuk manusia, khayal dan teori manusia bukanlah petunjuk.
“dan
sesungguhnya jika engkau turuti kemauan-kemaun mereka itu”.
Dengan lanjutan ayat ini, telah diingatkan Tuhan kemauan-kemauan mereka yang
ditulis ahwaa ahum. Dari kalimat hawa atau hawa nafsu atau sentimen yabg
sama sekali tidak ada dasar kebenarannya. Setengah dari hawanafsu itu telah
dibayangkan pada ayat-ayat diatas tadi yaitu, kata mereka bahwa agama yang
benar hanya agama Yahudi dan Nasrani. Yahudi merasa bahwa segala anjuran dari pihak
lain walupun benar, kalau tidak timbul dari orang yang berdarah Bani Isra’il
adalah tidak sah. Sebab mereka adalah”kaum yang telah dipilih dan diistimewakan
Tuhan”. Yahudi dan Nasrani telah memandang bahwa masing-masing telah menjadi
golongan yang istimewa. Lantaran kepercayaan demikian, mereka tidak mau lagi
menilai kebenaran dan menguji faham yang mereka anut. Maka kalau kemauan atau
hawa nafsu mereka ini diperturutkan:”sesudah datang kepada engkau
pengetahuan,” yaitu wahyu yang telah diturunkan Tuhan kepada Rosul s.a.w.
bahwa tidak ada Tuhan yang sebenarnya patut disembah melainkan Allah dan Allah
tidak beranak dan tidak diperanakkan, dan lain-lain dasar pokok tauhid, yang
jadi pegangan dan tiang teguh dari ajaran sekalian Nabi dan Rosul. Maka kalau kehendak
dan kemauan kedua pemeluk agama itu engkau perturutkan, sedang engkau telah
diberi ilmu tentang hakikat yang sebenarnya. “tidaklah sda bagi engkau
selain Allah akan pelindung dan tidak pula akan penolong.”(ujung ayat 120).
Al- Baqoroh ayat 213
كَانَ ٱلنَّاسُ أُمَّةٗ
وَٰحِدَةٗ فَبَعَثَ ٱللَّهُ ٱلنَّبِيِّۧنَ مُبَشِّرِينَ وَمُنذِرِينَ وَأَنزَلَ
مَعَهُمُ ٱلۡكِتَٰبَ بِٱلۡحَقِّ لِيَحۡكُمَ بَيۡنَ ٱلنَّاسِ فِيمَا ٱخۡتَلَفُواْ
فِيهِۚ وَمَا ٱخۡتَلَفَ فِيهِ إِلَّا ٱلَّذِينَ أُوتُوهُ مِنۢ بَعۡدِ مَا جَآءَتۡهُمُ
ٱلۡبَيِّنَٰتُ بَغۡيَۢا بَيۡنَهُمۡۖ فَهَدَى ٱللَّهُ ٱلَّذِينَ ءَامَنُواْ لِمَا ٱخۡتَلَفُواْ
فِيهِ مِنَ ٱلۡحَقِّ بِإِذۡنِهِۦۗ وَٱللَّهُ يَهۡدِي مَن يَشَآءُ إِلَىٰ صِرَٰطٖ
مُّسۡتَقِيمٍ
213. Manusia itu
adalah umat yang satu. (setelah timbul perselisihan), Maka Allah mengutus Para
Nabi, sebagai pemberi peringatan, dan Allah menurunkan bersama mereka kitab
yang benar, untuk memberi keputusan di antara manusia tentang perkara yang
mereka perselisihkan. Tidaklah berselisih tentang kitab itu melainkan orang
yang telah didatangkan kepada mereka Kitab, Yaitu setelah datang kepada mereka
keterangan-keterangan yang nyata, karena dengki antara mereka sendiri. Maka
Allah memberi petunjuk orang-orang yang beriman kepada kebenaran tentang hal
yang mereka perselisihkann itu dengan kehendak-Nya. dan Allah selalu memberi
petunjuk orang yang dikehendaki-Nya kepada jalan yang lurus.
كان:(sebelum
ada kemusyrikan)dahulu
الناس:manusia
امة:(adalah)umat
واحدة:(dalam
tauhid)satu(yang)
فبعث
الله:maka Allah mengutus
النبين:para
nabi
مبشرين:(adanya
syurga bagi yang beriman)pembawa kabar gembira(sebagai)
ونذرينۖ:(adanya
neraka bagi yang ingkar)dan pemberi peringatan
وانزل:dan
Dia menurunkan
معهم:bersama
mereka
الكتب:kitab
بالحق:dengan
kebenaran
ليحكم:untuk
menghukumi
بين:di
antara
الناس:aimanus
فيما:tentang
apa yang
اختلفوا:mereka
perselisihkan
فيهۗ:di
dalamnya
وما:dan
tidak
اختلف:berselisih
فيه:di
dalamnya
الا:kecuali
الذين:orang
orang yang
اوتوه:mereka
telah diberi Kitab
منۘ:dari
بعدما:sesudah
جاء
تهم:datang kepada mereka
البينت:bukti
nyata
بغيا:kezaliman(karena)
بينهم:di
antara mereka
فهدى
الله:maka Allah memberi petunjuk
الذين:orang
orang yang
امنوا:mereka
beriman
لما:tentang
apa yang
اختلفوا:mereka
perselisihkan
فيه:di
dalamnya
من:dari
الحق:kebenaran
بإذنه:kehendakNya
والله:dan
Allah
يهدي:Dia
menunjuki
من:siapa
يشآء:Dia
kehendaki
إلى:kepada
صراط:jalan
مستقيم:(Islam)kebenaran
lurus(yang)
Asbabun
Nuzul
Bersama
nabi-nabi itu diturunkan kitab-kitab dengan kebenaran. Yang tuntunan bagi umat
itu dalam mencari hakikat Yang Maha Kuasa yang memang telah diakui adanya oleh
akal murninya. “supaya kitab itu memberi keputusan diantara manusia pada
hal-hal yang mereka perselisihkan padanya.”terutama pokopk perselisihan setelah
mengakui akan AdaNya ialah, tentang bagaimana keadaanNya. Semuanya menurut
fitrohnya mengakui Ada. Tetapi mereka berselisih apakah Dia itu Satu atau
Berbilang? Apakah tauhid atau syirik? Kitab-kitab itu menuntun pada tauhid.
Tetapi
setelah nabi-nabi itu datang dan pergi, dan kitab-kitab telah tinggal ternyata
timbul lagi perselisihan. Mengapa jadi timbul perselisihan? Lanjutan ayat
menerangkan dengan jelas: ”Tidaklah berselisih tentang kitab itu melainkan
orang yang telah didatangkan kepada mereka Kitab, Yaitu setelah datang kepada
mereka keterangan-keterangan yang nyata, karena dengki antara mereka sendiri”.
Kitab-kitab
sudah banyak, catatanpun ada, tetapi perselisihan timbul juga. Sebabnya ialah
karena dengki., walaupun manusia itu hakikatnya satu, tetapi dalam dirinya
sendiri-sendiri terdapat pula rangsangan-rangsangan hawanafsu yang membawa
selisih. Sedangkan saudara seibu dan sebapak kadang-kadang berselisih dan
bertengkar lebih hebat dari perselisihan dan pertengkaran mereka dengan orang
lain. Kadang-kadang orang mau bersatu semua tetapi semuanya pula ingin
memimpin, semua ingin bersatu tetapi tidak semua mau dipimpin, kadang-kadang
manusia bagai katak dalam tempurung yang tidak mengenal langit lain daripada
langitnya. Maka, terombang-ambinglah kebenaran oleh hawanafsu manusia dan
timbullah perpecahan umat yang pada hakikatnya satu, oleh hawa nafsu perpecahan
yang ada pada manusia.
Dan
satu lagi sebab-sebab perpecahan ialah karena kesucian kitab suci dikotori oleh
tulisan manusia, sehingga tidak dapat dibedakan lagi mana yang wahyu dan dan
mana tambahan pemuka agama. Ilmu pengetahuan modernpun sesudah menyelidiki
dengan seksama mengakui hal ini. Tetapi dapatkah manusia terlepas dari
perselisihan ini? Ujung ayat memberikan penegasan: “Maka Allah memberi
petunjuk orang-orang yang beriman kepada kebenaran tentang hal yang mereka
perselisihkan itu dengan kehendak-Nya.”mak dengan petunjuk Allah daptlah
orang-orang yang beriman itu, orang-orang yang percaya itu, mengatasi segala
perselisihan dan langsung menuju kepada hakikat yang asli yaitu, bahwa umat
manusia adalah umat yang satu. Dan terhadap catatan-catatan yang sekarang ini
karena telah banyak campurtangan manusia, beratus kali salinan, telah banyaklah
hal yang meragukan padanya. Meskipun kalau dicari dengan seksama namun,
pelajaran kesatuan itu masih ada didalamnya. Untuk menghilangkan keraguan
beragama, dihimpunlah semuanya kepada kitab terakhir ialah, Al-qur’an. dan
Allah selalu memberi petunjuk orang yang dikehendaki-Nya kepada jalan yang
lurus.
Al
- Muntahana ayat 7-9
Al- Mumtahana ayat 7
۞عَسَى ٱللَّهُ أَن يَجۡعَلَ بَيۡنَكُمۡ
وَبَيۡنَ ٱلَّذِينَ عَادَيۡتُم مِّنۡهُم مَّوَدَّةٗۚ وَٱللَّهُ قَدِيرٞۚ وَٱللَّهُ
غَفُورٞ رَّحِيمٞ ٧
“Mudah –mudahan
Allah akan menimbulkan kasih sayang diantara kamu dengan orang-orang yang kamu
musuhi diantara mereka itu.”(pangkal ayat 7).
عسى:semoga
الله:Allah
أن
يجعل:dia menjadikan
بينكم:
di antra kalian
وبين:dan
antara
الذين:
yangorang-orang
عاديتم:kalian
musuhi
منهم:
(kafir kaum)dari mereka
مودة:
(petunjuk memberi mereka)kasih sayang
والله:dan
Allah
قدير:samaha
kua
والله:dan
Allah
غفور:Maha
Pengampun
رحيم:Maha
kekal kasih sayan
Asbabun Nuzul
Di
pangakal ayat ini dibayangkan bahwa barang
yang tidak mustahil bahwa permusuhan yang begitu mendalam diantara nabi
saw. Dengan pengikutNya dengan kaum Quraisy musyrikin itu suatu waktu akan
mereda.sebab yang utama ialah karana diantara kaum yang telah meyakini islam
dengan yang menantangnya itu masih ada pertalian darah dan keturunan. Inipun
sangat bergantung pada budi pekerti Rasulululah saw sendiri. Dalm perjuangan
yang begitu hebatnya menegakkan aqidah dan melawan kekafiran, tidaklah beliau
memaki-maki mengensi pribadi orang seorang yang sangat memusuhinya, yaitu Abu
sufyan yang memimpin peperangan untuk menyerbu Madinah dalam dalam perang Uhud,
beliau lunakkan orang yang ingin kemegahan itu dengan mengawini anak
perempuannya. Yaitu ummu Habibah yang nama kecilnya Ramlah. Seketika didengar
Abu sufyan bahwa anak perempuannya Ramlah itu telah dikawini oleh Nabi, ketika
anaknya itu hijrah ke Habsyah (Abisyinie), dan yang jadi wakil Nabi
mengawininya ialah Najasyi,yaitu raja besar Habsyi yang telah islam, dengan
maskawin 400 dinar,bukan main banga Abu sufyan, meskipun Nabi musuhnya.
Itulah
yang dinyatakan pada pangkal ayat ini, bahwa mudah saja bagi tuhan menukar
kebencian menjadi kasih sayang yang baik,’Dan Allah Maha kuasa,” merubah
keadaan dari keruh ke jernih, sebab itu bergantung kepada ketulusn hati manusia
jua adanya. “dan Allah itu Maha Pengampun.” Orang yang tadinya jadi
musuh besar, bisa saja jadi teman akrab dan dosanya diampuni Tuhan dan “Maha
Penyayang.” Ditunjuki-Nya jalan, dibimbing-Nya jiwa, diberi-Nya petunjuk menuju
kebenaran. Dari ayat ini kita mendapat pelajaran yang mendalam sekali dalam
cara bagaimana menadakan da’wah. Ambillah perbandingan; sedangkan dengan kaum
musyrikin yang menentang Islam, Nabi kita s.a.w. lagi-lagi memakai taktik dan
siasat jujur yang begitu halus.
Al-
Mumtahana ayat 8
لَّا يَنۡهَىٰكُمُ ٱللَّهُ
عَنِ ٱلَّذِينَ لَمۡ يُقَٰتِلُوكُمۡ فِي ٱلدِّينِ وَلَمۡ يُخۡرِجُوكُم مِّن
دِيَٰرِكُمۡ أَن تَبَرُّوهُمۡ وَتُقۡسِطُوٓاْ إِلَيۡهِمۡۚ إِنَّ ٱللَّهَ يُحِبُّ ٱلۡمُقۡسِطِينَ
٨
8. Allah tidak
melarang kamu untuk berbuat baik dan Berlaku adil terhadap orang-orang yang
tiada memerangimu karena agama dan tidak (pula) mengusir kamu dari negerimu.
Sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang Berlaku adil.
لا:tidak
ينهڪم
الله:Allah melarang kalian
عن:terhadap
الذين:
kafirorang-orang
لم:tidak
فى:dalam
الذين:
agama(urusan)
ولم:dan
tidak
يحرجوكم:mereka
mengisir kalian
من:dari
دياركم:kampung
halaman kalian
ان:untuk
تبروهم:kalian
berbuat baik kepada mereka
وتقسطوا:dan
kalian berlaku adil
اليهم:kepada
mereka
ان:sesungguhnya
الله:Allah
يحب:Dia
mencintai
المقسطين:
yang berbuat adilorang-orang
Penjelasan
Artinya
dengan tegas bahwa Allah tudak melarang kamu, hai pemeluk agama Islam, pengikut
Mukhammad s.a.w. akan berbaik, berbuat baik, bergaul cara baik, berlaku adil,
dan jujur dengan golongan lain, baik mereka itu Yahudi atau Nasrani ataupun
musyrik, selama mereka tidak memerangi kamu, tidak memusuhi kamu atau mengusir
kamu dari kampung halaman kamu. Dengan begini hendaknya disisihkan diantara perbedaan
kepercayaan dengan pergaulan sehari-hari.
“Sesungguhnya
Allah menyukai orang-orang yang Berlaku adil”. Didalam ayat
ini tersebut muqshithiin yang kita artikan berlaku adil. Sebenarnya arti
dari qishthi lebih luas dari ‘Adil. Karena adil adalah khusus
ketika menghukum saja, jangan dzalim menjatuhkan keputusan, sehingga yang tidak
bersalah disalahkan juga. Qisth adalah lebih luas, mencakup pergaulan hidup.
Tegasnya jika kita berbuat baik dengan tetangga sesama Islam, maka dengan
tetangga yang bukan Islam hendaklah kita berbaik juga. Jika kita kepada
tetangga sesama Islam mengantarkan makanan yang enak, maka kita hendaklah kita qishth,
yaitu antari pula makanan kepada tetangga yang berlain agama. Jika mereka
didalam kesedihan, tunjukkanlah bahwa kepada mereka bahwa kitapun ikit
bersedih. Nabi s.a.w. pernah ‘iyadah, yaitu melawat kepada suatu
keluarga Yahudi yang anak lelakinya pernah bekerja jadi pembantu dirumah
Rasulullah, sedang anak itu sakit keras. Ketika anak itu dalam keadaan sekarat
dibujuk Rasulullah agar mengakui Islam sebagai agamanya. Ditengoknya mata
ayahnya mohon kerelaan. Lalu ayahnya berkata: “turutilah kehendak Abdul Qasim
itu anakku! Ucapkanlah dua kalimat syahadat!”. Maka anak itu mengucapkan dua
kalimat syahadat, sehingga meninggal dalam Islam. Disini Rasulullah telah
memperlihatkan sikap beliau yang penuh kasih sayang, sehingga ziarah beliau
sangat besar pengaruhnya kepada keluarga Yahudi itu.
Ahli-ahli
tafsir menyatakan bahwa ayat ini adalah”muhkamah”, artinya berlaku buat
selama-lamanya, tidak dimansukhkan. Dalam segala zaman hendaklah kita berbaik
dan bersikap adil dan jujur kepada orang yang tidak memusuhi kita dan tidak
bertindak mengusir dari kampung halaman kita. Kita diwajibkan menunjukkan budi
Islam kita yang tinggi.
Al
– Mumtahana ayat 9
إِنَّمَا يَنۡهَىٰكُمُ ٱللَّهُ
عَنِ ٱلَّذِينَ قَٰتَلُوكُمۡ فِي ٱلدِّينِ وَأَخۡرَجُوكُم مِّن دِيَٰرِكُمۡ
وَظَٰهَرُواْ عَلَىٰٓ إِخۡرَاجِكُمۡ أَن تَوَلَّوۡهُمۡۚ وَمَن يَتَوَلَّهُمۡ
فَأُوْلَٰٓئِكَ هُمُ ٱلظَّٰلِمُونَ ٩
9. Sesungguhnya Allah
hanya melarang kamu menjadikan sebagai kawanmu orang-orang yang memerangimu
karena agama dan mengusir kamu dari negerimu, dan membantu (orang lain) untuk
mengusirmu. dan Barangsiapa menjadikan mereka sebagai kawan, Maka mereka Itulah
orang-orang yang zalim.
انما:sesungguhnya
ينهىكم
الله:Allah melarang kalian
عن:terhadap
الذين:
yangorang-orang
قاتلوكم:mereka
memerangi kalian
فى:dalam
الذين:
agama(urusan)
واخرجوكم:dan
mereka mengusir kalian
من:dari
دياركم:kampung
halaman kalian
وظاهروا:dan
mereka membantu
على:atas
اخراجڪم:pengusiran
kalian
أن:untuk
تولوهم:kalian
menjadikan sebagai teman setia
ومن:dan
siapa yang
يتولهم:dia
menjadikan sebagai teman setia
فاولىٮك:maka
mereka itu
هم:mereka
adalah
الظلمون:orangorang
yang dzalim
Penjelasan
“Sesungguhnya
Allah hanya melarang kamu menjadikan sebagai kawanmu orang-orang yang
memerangimu karena agama dan mengusir kamu dari negerimu, dan membantu (orang
lain) untuk mengusirmu” Artinya kalau mereka yang berlain agama dan
keyakinan dengan kita sudah terang memusuhi kita dan memerangi kita, sudah
sampai mengusir kita dari negri kita sendiri: ”dan mereka bantu atas
pengusiran itu” artinya, meskipun mereka tidak ikut keluar pergi memerangi
Islam, tetapi mereka memberikan bantuan.
“Barangsiapa
menjadikan mereka sebagai kawan, Maka mereka Itulah orang-orang yang zalim”. Orang
yang membuat hubungan baik dengan musuh yang nyata jelas memusuhi Islam,
memerangi dan bahkan sampai nengusir atau membantu pengusiran, jelaslah dia itu
orang yang aniaya. Sebab dia telah merusak strategi, atau siasat perlawanan
Islam terhadap musuh. Tandanya orang yang membuat hubungan ini tidak teguh
imannya, tidak ada gairahnya dala mempertahankan agama. Sama juga halnya dengan
orang yang mengaku dirinya Islam tetapi ia berkata;”bagi saya segala agama itu
adalah sama saja, karena sama-sama tujuannya.” Orang yang berkata begini
nyatalah bahwa tidak ada agama yang mengisi hatinya. Kalau dia mengatakan
dirinya Islam, maka perkataannya itu tidak sesuai dengan kenyataannya. Karena
bagi orang Islam sejati, agama yang sebenarnya adalah Islam.
Al-kafirun
Ayat 1-5
قُلۡ
يَٰٓأَيُّهَا ٱلۡكَٰفِرُونَ ١ لَآ
أَعۡبُدُ مَا تَعۡبُدُونَ ٢ وَلَآ
أَنتُمۡ عَٰبِدُونَ مَآ أَعۡبُدُ ٣ وَلَآ أَنَا۠ عَابِدٞ مَّا عَبَدتُّمۡ ٤ وَلَآ
أَنتُمۡ عَٰبِدُونَ مَآ أَعۡبُدُ ٥
1.
Katakanlah: "Hai orang-orang kafir
2. Aku tidak akan menyembah apa yang
kamu sembah
3. Dan kamu bukan penyembah Tuhan
yang aku sembah
4. Dan aku tidak pernah menjadi
penyembah apa yang kamu sembah
5. dan kamu tidak pernah (pula)
menjadi penyembah Tuhan yang aku sembah
قل:katakan(muhammad)
يايها:wahai
الكفرون:orang-orang
kafir
لا:Tidak
اعبد:aku
akn menyembah
ما:apa(berhala)yang
تعبدونۙ:kalian
sembah
ولا:dan
bukanlah
انتم:kalian
عبدون:para
penyambah
ما:yang(Allah)apa
اعبد:aku
sembah
ولا:dan
bukanlah
انا:aku
عا
بد:penyambah
ما:apa
yang
عبدتم:kalian
sembah
ولا:(pula)dan
tidak
انتم:kalian
ما:apa
yang
اعبدۗ:haku
semba
لكم:bagi
kalian
دينكم:agama
kalian
ولي:dan
bagiku
دين:
(islam)agamaku
SURAT
AL-KAFIRUN(ORANG - KAFIR)
Surat
Al-kafirun terdiri dari 6 ayat, termasuk golongan surat Makkiyah,
diturunkan
Dinamai
“Al-kaafiruun”(orang-orang kafir) diambil dari perkataan “Al-kaafiruun”yang
terdapat dalam ayat pertama surat ini.
Dalam
suatu riwayat dikemukakan bahwa kaum Quraisyy berusaha mempengaruhi nabi s.a.w.
dengan menawarkan hara kekayaan agar beliau menjadi seorangyang paling kaya
dikota Mekkah dan akan dikawinkan kepada yang beliau kehendaki. Usaha ini
disampaikan dengan berkata: “inilah yang kami sediakan bagimu ya Mukhammad.
Dengan syarat agar engkau jangan memaki-maki tuhan kami dan menjelekkannya atau
sembahlah tuhan-tuhan kami selama setahun”. Nabi s.a.w. menjawab: ”aku akan
menunggu wahyu dari Tuhanku” ayat ini(S. 109: 1-6) turun berkenaan dengan
peristiwa itu sebagai perintah untuk menolak tawaran kaum kafir. (diriwayatka
oleh at-Tabrani dan Ibnu Hatim yang bersumber dari Ibnu Abbas).
Dalam
riwayat lain dikemukakan bahwa kaum kafir quraisy berkata kepada nabi s.a.w.: ”sekiranya
engkau tidak keberatan mengikuti kami(menyembah berhala) selam setahun, kami
akan mengikuti agamamu selam setahun pula”. (diriwayatkan oleh Abdurrazaq yang
bersumber dari Wahb dan Ibnul Munzhir dari Juraij).
Dalam
riwayat lain dikemukakan bahwa al-Walid, al-Mughirah, al-‘Ashi bin Wa’il,
al-Aswad bin al- Mutholib dan Umayah bin Khalaf bertemu dengan rasulullah
s.a.w. dan berkata: ”hai Mukhammad! mari kia bersama menyembah apa yang engkau
sembah dan kita bersekutu dalam segala hal dan engkaulah yang memimpin kami”.
(diriwaytkan oleh Ibnu Abi Hatim yang bersumber dari Sa’id bin Mina).
Pokok-pokok
isinya:
Pernyataan
bahwa Tuhan yang disembah oleh orang-orang kafir dan Nabi Muhammad saw tidak
akan menyembah apa yang disembah oleh orang-orang kafir.
(1-2)Dalam
ayat-ayat ini Allah memerintahkan nabiNya agar menyatakan kepada orang-orang
kafir, bahwa”Tuhan” yang kamu sembah bukanlah “Tuhan” yang saya sembah, karena
kamu menyembah Tuhan yang disembah Nabi Muhammad saw, dan pengikut pengikutnya
bukanlah apa yan “Tuhan” yang memerlukan pembantu dan mempunyai anak atau ia
menjelma dalam sesuatu bentuk atau dalam sesuatu rupa atau bentuk-bentuk
lain-lain yang kau dakwakan. Sedang saya menyembah “Tuhan” yang tidak ada
tandinganNya dan tidak ad sekutu bagiNya; tidak mempunyai anak, tidak empunyai
teman wanita dan tidak menjelma dalam sesuatu tubuh. Akal tidak sanggup menerka
bagaimana Dia, tidak ditentukan oleh tempat dan terikat oleh masa, tidak
memerlukan perantaraan dan tidak pula memerlukan penghubung.
(3)
Dalam ayat ini Allah menambahkan lagi pernyataan yang dsuru sampaikan kepada
orang-orang kafir dengan menyatakan, “Kamu tidak menyembah Tuhanku yang aku
panggil kamu untuk menyembahNya, karena berlainan sifat-sifatNya dari
sifat-sifat “Tuhan” yang kamu sembah dan tidak mungkin dipertemukan antara dua
macam sifat tersebut.
(4-5)
Kemudian sesudah Allah menyatakan tentang tidak mgkn ada persamaan sifat antara
Tuhan yang disembah oleh Nabi saw, dengan yang disembah oleh mereka. Maksud
keterangan diatas menjelaskan jelaslah adanya perbedaan apa yang disembah dan
cara ibadah masing- masing.
(6)
Kemudian dalam ayat ini Allah mengancam orang-orang kafir dengan firmanNya
yaitu :
ولنآاعمالناولڪم
اعمالڪم
“Bagi
kami amalan kami, bagi kamu amalan kamu”385
Surat
Al-kafiruun mengisyaratkan habisnya semua harapan orang-orang kafir dalam usha mereka
meninggalkan dakwahnya.
Kesimpulan
Mubahalah
ialah sumpah yang berat, yang didalam bersumpah itu dihadirkan anak dan istri
dan kedua belah pihak yang bersangkutan, lalu diadakan persumpahan didalam
mempertahankan keyakinan masing-masing. Menilai kebenaran pendirian kedua belah
pihak. Kalau ternyata kedua belah pihak berkeras kepala, tidak ada yang mau
bertolak angsur, biarlah Allah ta’ala menurunkan kutuk laknat-Nyakepada barang
siapa yang masih bertahan pada pendirian yang salah.inilah ajakan Rosulullah
s.a.w.
Tuhan
yang disembah oleh orang-orang kafir dan Nabi Muhammad saw tidak akan menyembah
apa yang disembah oleh orang-orang kafir. Dalam ayat-ayat di atas ini Allah
memerintahkan nabiNya agar menyatakan kepada orang-orang kafir, bahwa”Tuhan”
yang kamu sembah bukanlah “Tuhan” yang saya sembah, karena kamu menyembah Tuhan
yang disembah Nabi Muhammad saw, dan pengikut pengikutnya bukanlah apa yan
“Tuhan” yang memerlukan pembantu dan mempunyai anak atau ia menjelma dalam
sesuatu bentuk atau dalam sesuatu rupa atau bentuk-bentuk lain-lain yang kau
dakwakan.
Daftar
pustaka
Prof. DR. Hamka. Tafsir
al-Azhar juzu’ I, II dan XXVIII. Jakarta. 1983. Pustaka Panjimas
Shihab, Qurisy. Tafsir
Al- Mishbah. Jakarta. 2003. Lentera Hati.
K. H. Q. Shaleh.
Asbabun Nuzul. Bandung. 1999. CV Deponegoro.
Komentar
Posting Komentar