PENDAHULUAN
A.
Latar
Belakang
Jiwa
manusia ( ”al-nafs” dalam bahasa agamanya ) sejak zaman yunani telah menjadi
topik pembahasan para filosof, namun psikologi sebagai ilmu yang berdiri
sendiri baru dimulai pada tahun 1879 ketika Wilhelm Wundt mendirikan
laboratorium psikologi pertama kali di kota Leipzig, Jerman.
Sejarah
perkembangan psikologi dapat dibagi menjadi dua periode yaitu sebelum dan
sesudah menjadi ilmu yang berdiri sendiri.Sebelum tahun
1879, jiwa dipelajari oleh para ahli ilmu filsafat dan ilmu fasal ( Phisiologi
), sehingga psikologi dianggap sebagai bagian dari ilmu tersebut. Para ahli
ilmu filsafat kuno seperti Plato ( 427-347 SM ), Aristoteles ( 384-322 SM ) dan
Socrates ( 469-399 SM ), telah memikirkan hakikat jiwa dan gejala-gejalanya.
Filsafat
sebagai induk ilmu pengetahuan adalah ilmu yang mencari hakikat sesuatu dengan
menciptakan pertanyaan dan jawaban secara terus-menerus sehingga mencapai
pengertian yang hakiki tentang sesuatu. Pada waktu itu belum ada pembuktian
secara empiris, melainkan berbagai teori dikemukakan berdasarkan argumentasi
belaka. Psikologi pada waktu itu benar-benar merupakan bagian dari ilmu
filsafat dalam artian yang semurni-murninya.
Psikologi
telah dipelajari juga oleh para ilmuwan muslim pada abad pertengahan seperti
Imam Al-Ghazali ( wafat 505 H ), Imam Fachrudin Ar- Raazi ( wafat 606 H ), Al-
Junaidi Baghdadi ( wafat 298 H ), Al- ’Asyari ( wafat 324 H ). Pembahasan ilmu
psikologis pada waktu itu merupakan bagian dari ilmu ushuluiddin dan ilmu
tasawuf.Masa sesudah psikologi menjadi ilmu yang mandiri merupakan masa dimana
gejala kejiwaan dipelajari secara tersendiri dengan metode ilmiah , terlepas
dari filsafat dan ilmu faal. Gejala kejiwaan dipelajari secara lebih sistematis
dan objektif. Selain metode eksperimen digunakan pula metode introspeksi oleh
Wilhelm Wundt. Gelar keserjanaannya adalah di bidang kedokteran dan hukum. Ia
dikenal sebagai sosiolog dan filosuf dan orang yang pertama yang mengaku
dirinya sebagai psikolog. Ia dianggap sebagai bapak psikolog, penyusun teori
psikologi dan keragaman pemikiran-pemikiran baru. Psikologi mulai bercabang ke berbagai
aliran, termasuk psikoterapi yang akan kami bahas lebih mendalam dalam bab
pembahasan.
B.
Rumusan
Masalah
Berdasarkan latar belakang diatas, maka rumusan masalah yang dapat
kami sampaikan adalah sebagai berikut:
1.
Apakah
pengertian psikoterapi?
2.
Bagaimanakah
bentuk-bentuk dan tehnik dalam psikoterapi?
3.
Bagaimanakah
psikoterapi dalam islam?
C.
Tujuan
Berdasarkan rumusan masalah diatas, maka tujuan yang dapat kami
simpulkan adalah sebagai berikut:
1.
Mengetahui
pengertian psikoterapi
2.
Mengetahui
bentuk-bentuk dan tehnik dalam psikoterapi
3.
Mengetahui
psikoterapi dalam islam
PEMBAHASAN
A.
Pengertian Psikoterapi
Psikoterapi (psychotherapy) adalah pengobatan
alam pikiran, atau lebih tepatnya, pengobatan dan perawatan gangguan psikis
melalui metode psikologis. Istilah ini mencakup berbagai teknik yang bertujuan
untuk membantu individu dalam mengatasi gangguan emosionalnya dengan cara memodifikasi
perilaku, pikiran dan emosinya, sehingga individu tersebut mampu mengembangkan
dirinya dalam mengatasi masalah psikisnya.
Menurut Carl Jung, psikoterapi telah melampaui
asal-usul medisnya dan tidak lagi merupakan suatu metode perawatan orang sakit.
Psikoterapi kini juga digunakan untuk orang sehat atau pada mereka yang
mempunyai hak atas kesehatan psikis yang penderitaannya menyiksa kita semua.
Menurut pendapat Jung ini, bangunan psikoterapi selain digunakan untuk fungsi kuratif
(penyembuhan), juga berfungsi preventif (pencegahan), dan konstruktif
(pemeliharan dan pengembangan jiwa yang sehat).
Psikoterapi sangat
berguna untuk:
1.
Membantu penderita dalam memahami dirinya, mengetahui
sumber-sumber psikopatologi dan kesulitan penyesuaian diri, memberi perspektif
masa depan yang lebih cerah.
2.
Membantu penderita mendiagnosis bentuk-bentuk
psikopatologi, dan
3.
Membantu penderita menentukan langkah-langkah praktis
dan pelaksanaan pengobatannya.
B.
Bentuk-bentuk dan Tehnik dalam Psikoterapi
Muhammad Abd al-‘Aziz
al-Khalidi membagi obat (syifa’) ke dalam dua bagian: Pertama,
obat hissi, yaitu obat yang dapat menyembukan penyakit fisik, seperti
berobat dengan madu, air buah-buahan yang disebutkan dalam al-Quran. Sunnahnya
digunakan untuk menyembuhkan kelainan jasmani. Kedua, obat ma’nawi,
obat yang sunnahnya menyembuhkan penyakit ruh dan kalbu manusia, seperti
doa-doa dan isi kandungan dalam al-Quran.
Kepribadian merupakan produk fitrah nafsani (jasmani-ruhani).
Aspek ruhani menjadi esensi kepribadian manusia, sedang aspek jasmani menjadi
alat aktualisasi. Oleh karena itu maka kelainan kepribadian disembuhkan dengan
pengobatan ma’nawi. Demikian juga kelainan jasmani sering kali
disebabkan oleh kelainan ruhani maka cara pengobatannya pun harus dengan sunnah
pengobatan ma’nawi.
Al-Razi, dokter sekaligus filosof muslim mengatakan
bahwa, tugas seorang dokter disamping mengetahui kesehatan jasmani dituntut
juga mengetahui kesehatan jiwa. Hal itu menurutnya dilakukan untuk menjaga
keseimbangan jiwa dalam melakukan aktivitas-aktivitasnya, agar tidak terjadi
keadaan yang minus atau berlebihan. Hal ini menunjukkan urgensinya suatu
pengetahuan tentang psikis. Pengetahuan psikis tidak sekedar berfungsi untuk
memahami kepribadian manusia, tetapi juga untuk pengobatan penyakit jasmaniah
dan ruhaniah. Banyak diantara kelainan jasmani diakibatkan oleh kelainan jiwa
manusia. Penyakit jiwa seperti stress, dengki, iri hati, dan lainnya sering
kali menjadi penyebab utama penyakit jasmani.
Muhammad Mahmud, seorang psikolog muslim ternama,
membagi psikoterapi Islam dalam dua kategori; Pertama, bersifat duniawi,
berupa pendekatan dan teknik-teknik pengobatan psikis setelah memahami
psikopatologi dalam kehidupan nyata. Kedua, bersifat ukhrawi,
berupa bimbingan mengenai nilai-nilai moral, spiritual dan agama.
Sampai saat ini, sebagaimana dikemukakan Atkinson,
terdapat enam teknik psikoterapi yang digunakan oleh para psikiater atau
psikolog, antara lain:
1.
Teknik Terapi Psikoanalisa
Bahwa di dalam tiap-tiap individu terdapat kekuatan
yang saling berlawanan yang menyebabkan konflik internal tidak terhindarkan.
Konflik ini mempunyai pengaruh kuat pada perkembangan kepribadian individu,
sehingga menimbulkan stres dalam kehidupan. Teknik ini menekankan fungsi
pemecahan masalah dari ego yang berlawanan dengan impuls seksual dan
agresif dari id. Model ini banyak dikembangkan dalam Psiko-analisis
Freud. Menurutnya, paling tidak terdapat lima macam teknik penyembuhan penyakit
mental, yaitu dengan mempelajari otobiografi, hipnotis, chatarsis, asosiasi
bebas, dan analisa mimpi. Teknik freud ini selanjutnya disempurnakan oleh Jung
dengan teknik terapi Psikodinamik.
2.
Teknik Terapi
Perilaku
Teknik ini menggunakan prinsip belajar untuk
memodifikasi perilaku individu, antara lain desensitisasi, sistematik,
flooding, penguatan sistematis, pemodelan, pengulangan perilaku yang pantas
dan regulasi diri perilaku.
3.
Teknik Terapi
Kognitif Perilaku
Teknik modifikasi perilaku individu dan mengubah
keyakinan maladatif. Terapis membantu individu mengganti interpretasi yang
irasional terhadap suatu peristiwa dengan interpretasi yang lebih realistik.
4.
Tenik Terapi
Humanistik
Teknik dengan pendekatan fenomenologi kepribadian yang
membantu individu menyadari diri sesunguhnya dan memecahkan masalah mereka
dengan intervensi terapis yang minimal (client-centered-therapy).
Gangguan psikologis diduga timbul jika proses pertumbuhan potensi dan
aktualisasi diri terhalang oleh situasi atau orang lain.
5.
Teknik Terapi
Eklektik atau Integratif
Yaitu memilih teknik terapi yang paling tepat untuk
klien tertentu. Terapis mengkhususkan diri dalam masalah spesifik, seperti
alkoholisme, disfungsi seksual, dan depresi.
6.
Teknik Terapi Kelompok dan Keluarga
Terapi kelompok adalah teknik yang memberikan
kesempatan bagi individu untuk menggali sikap dan perilakunya dalam interaksi
dengan orang lain yang memiliki masalah serupa. Sedang terapi keluarga adalah
bentuk terapi khusus yang membantu pasangan suami-istri, atau hubungan arang
tua-anak, untuk mempelajari cara yang lebih efektif, untuk berhubungan satu
sama lain dan untuk menangani berbagai masalahnya.
Berbagai teknik terapi di atas, tidak satupun
menyebutkan teknik terapi ukhrawi. Freud bahkan dalam The Future of
an Ilusion mengaggap bahwa orang yang memeluk suatu agama berarti ia telah
menderita delusi, ilusi dan obsessional neurosis yang berasal dari
ketidakmampuan manusia dalam menghadapi kekuatan alam di luar dirinya dan juga
kekuatan insting dari dalam dirinya sendiri. Agama merupakan kumpulan neurosis
yang disebabkan oleh kondisi serupa dengan kondisi yang menimbulkan neurosis
pada anak-anak.
Teori freud ini kemudian dibantah oleh Carl Jung putra
mahkotanya sendiri. Jung terpaksa mengadakan penelitian pada mitologi, agama,
alkemi dan astrologi. Penelitiannya ini dapat membantu archetipe-archetipe
yang sulit diperoleh dari sumber-sumber kontemporer. Selanjutnya Allport juga
membantah teori Freud. Para psikolog kontemporer tidak menemukan
patologi-patologi yang terjadi pada pemeluk agama yang salih. Pemeluk agama
yang salih justru mampu mengintegrasikan jiwanya dan tidak pernah mengalami
hambatan-hambatan hidup secara serius. Dengan demikian, teori Freud yang hanya
mengutamakan psikoterapi duniawi tidak dapat dipertahankan lagi dan
dipandang perlu untuk penambahan psikoterapi lain yang dikaitkan dengan
kehidupan agama, yakni psikoterapi ukhrawi yang berasaskan agama.
(yaitu Rabb) Yang telah menciptakan aku, maka Dialah
yang menunjuki aku, dan Rabbku, Yang Dia memberi makan dan minum kepadaku, dan
apabila aku sakit, Dialah Yang menyembuhkan aku (QS. As-Syu’ara : 78 – 80)
C. Psikoterapi dalam
Islam
Psikoterapi dalam Islam dapat menyembuhkan semua aspek
psikopatologi, baik yang bersifat duniawi maupun ukhrawi. Psikoterapi hati itu
ada lima macam:
1.
Membaca Al-Quran Sambil Mencoba Memahami Artinya
Al-Quran dianggap sebagai terapi yang pertama dan
utama, sebab didalamnya memuat resep-resep mujarab yang dapat menyembuhkan
penyalkit jiwa manusia. Tingkat kemujarabannya sangat tergantung seberapa jauh
tingkat sugesti keimanan pasien.
Al-Qurthubi dalam tafsirnya menyebutkan bahwa ada dua
pendapat dalam memahami term syifa’ dalam ayat tersebut. Pertama, terapi
bagi jiwa yang dapat menghilangkan kebodohan dan keraguan, membuka jiwa yang
tertutup, serta dapat menyembuhkan jjwa yang sakit; kedua, terapi yang dapat
menyembuhkan penyakit fisik, baik dalam bentuk azimat maupun tangkal. Sementara
Al-Thabathaba’I mengemukakan bahwa syifa’ dalam Al-Qur’an memiliki makna
“terapi ruhaniah” yang dapat menyembuhkan penyakit batin. Al-Thabathaba’I jiga
mengemukakan bahwa Al-Quran juga dapat menyembuhkan penyakit jasmani, baik
melalui bacaan atau tulisan.
Menurut al-Faidh al-Kasyani dalam Tafsirnya
mengemukakan bahwa lafal-lafal al-Quran dapat menyembuhkan penyakit badan,
sedangkan makna-maknanya dapat menyembuhkan penyakit jiwa. Menurut Ibnu Qayyim
al-Jauziyah, bacaan al-Quran mampu mengobati penyakit jiwa dan badan manusia.
Obat yang mujarab yang dapat mengobati kedua penyakit ini adalah hidayah
al-Quran.
Kemukjizatan lafal al-Quran bukan hanya perkalimat,
tetapi perkata, bahkan perhuruf. Hal itu dianalogikan dengan sabda Nabi bahwa
pahala membaca al-Quran bukan perkalimat atau perkata, tetapi per huruf.
Apabila al-Quran dihadapkan pada orang yang sehat mentalnya, maka ia bernilai konstruktif.
Artinya, ia dapat memperkuat dan mengembangkan integritas dan penyesuaian
kepribadian dirinya. Karena itu, berobat dengan menggunakan al-Quran, baik
secara lahiriah maupun batiniah, tidak hanya ketika dalam kondisi sakit, namun
sangat dianjurkan dalam kondisi sehat.
2.
Melakukan Shalat Malam
Shalat tahajjud memiliki banyak hikmah. Diantaranya
adalah:
·
Setelah melakukan ibadah tambahan (nafilah),
baik dengan shalat maupun membaca al-Quran, maka dirinya mendapatkan kedudukan
terpuji dihadapan Allah SWT.
·
Memiliki kepribadian sebagaimana kepribadian
orang-orang salih yang selalu dekat (taqqarub) kepada Allah SWT,
terhapus dosanya dan terhindar dari perbuatan munkar
·
Jiwanya selalu hidup sehingga mudah mendapatkan ilmu
dan ketenteraman, bahkan Allah SWT menjajikan kenikmatan surga baginya
·
Doanya diterima, dosanya mendapatkan ampunan dari
Allah SWT, dan diberi rizki yang halal dan lapang tanpa susah payah mencarinya
·
Sebagai ungkapan rasa syukur terhadap apa yang telah
diberikan oleh Allah SWT sebagai rasa syukur, nabi SAW sendiri selalu melakukan
tahajjud walaupun tumit kakinya bengkak.
Setelah shalat sunat
di malam hari, amalan yang perlu dilakukan adalah berdo’a, berdzikir dan
membaca wirid, sebab berdoa di malam hari mudah dikabulkan oleh Allah SWT.
Sabda Nabi SAW : “Sesuatu yang lebih mendekatkan Tuhan kepada hamba-Nya di
tengah malam adalah apabila engkau mampu melakukan zikir kepada Allah maka
lakukanlah.”
Shalat juga merupakan
terapi psikis yang bersifat kuratif, preventif, dan konstruktif sekaligus. Pertama,
shalat membina seseorang untuk melatih konsentrasi yang integral dan
komprehensif.hal itu tergambar dalam niat dan khusyu’. Kedua, shalat
dapat menjaga kesehatan potensi-potensi psikis manusia, seperti potensi kalbu
untuk merasa (emosi), potensi akal untuk berpikir (kognisi), dan potensi
syahwat (appetite) dan ghadab (defense) untuk berkarsa (konasi). Denga shalat,
seseorang dapat menjaga dua dari lima prinsip kehidupan. Lima prinsip kehidupan
itu adalah memelihara agama, memelihara jiwa, memelihara akal, memelihara
keturunan, dan memelihara kehormatan dan harta benda. Dengan shalat ia mampu
menjaga agamanya, sebab shalat merupakan tiang agama. Demikian juga ia dapat
menjaga akalnya agar terhindar dari segala zat yang membahayakan. Ketiga, shalat
mengandung doa yang dapat membebaskan manusia dan penyakit batin.
Dosa adalah penyakit
(psikopatologi), sedang obat (psikoterapi)-nya adalah taubat. Shalat adalah
manifestasi dari taubat seseorang, karena dalam shalat seseorang kembali (taba)
pada Pencipta-nya.salah satu indikator taubat adalah mengakui kesalahan dan
dosa-dosa yang diperbuat. Dengan pengakuan akan dosa dan permohonan untuk
penghapusan dosa dalam doa iftitah, menghantarkan seseorang untuk
kembali pada fitrah aslinya yang terbebas dari segala penyakit batin. Bahkan
dalam hadis lain, shalat lima waktu dapat membersihkan fisik dan psikis
seseorang seperti orang yang membersihkan tubuhnya lima kali dalam sehari
semalam.
3.
Bergaul dengan Orang yang Baik atau Salih
Orang yang salih adalah orang yang mampu
mengintegrasikan dirinya dan mampu mengaktualisasikan potensinya semaksimal
mungkin dalam berbagai dimensi kehidupan. Dalam tradisi kaum sufi, seseorang
yang shalih dan dapat menyembuhkan penyakit ruhani manusia disebut dengan al-thabib
al-ilahi atau mursyid. Menurut al-Syarqawi, adalah al-thabib al-murabbi
(dokter pendidik). Dokter seperti ini lazimnya memberikan resep penyembuhan
kepada pasiennya melalui dua cara, yaitu:
·
Negative (al-salabi), dengan cara membersihkan diri
dari segala sifat-sifat dan akhlak yang tercela.
·
Positif (al-ijabi), dengan mengisi diri dari
sifat-sifat atau akhlak yang terpuji.
Menurut Sa’id Hawwa, menyatakan bahwa zikir, wirid,
dan amalan-amalan tertentu belum cukup untuk mengobati penyakit jiwa, melainkan
diperlukan ilmu yang disertai dengan mujahadah. Baik mursyid maupun al-thabib
al-ilahi, keduanya memiliki-pinjam istilah Abraham Maslow-pengalaman puncak (peak
experience), sebab selain mereka melaksanakan kewajiban-kewajiban pokok
juga melakukan perluasan diri (extension of the self) dengan
ibadah-ibadah khusus.
4.
Puasa
Puasa disini adalah menahan diri dari segala perbuatan
yang dapat merusak citra fitri manusia. Pembagian puasa ada 2:
·
Puasa fisik, yaitu menahan lapar,haus, dan berhubungan
seks.(bukan miliknya atau bukan pada tempatnya)
·
Puasa psikis, yaitu menahan hawa nafsu dari segala
perbuatan maksiat.
Puasa juga mampu menumbuhkan efekemosional yang
positif, seperti menyadari akan kemaha kuasaan Allah SWT, menumbuhkan
solidaritas dan kepedulian terhadap orang lain, serta menghidupkan nilai-nilai
positif dalam dirinya untuk aktualisasi diri sebaik mungkin. Hikmah lapar menurut
Al-Ghazali:
·
Menjernihkan Qalbu dan mempertajam pandangan
·
Melembutkan Qalbu sehingga mampu merasakan kenikmatan
batin
·
Menjauhkan prilaku yang hina dan sombong
·
Mengingatkan jiwa manusia akan cobaan dan azab Allah
·
Memperlemah syahwat dan tertahannya nafsu amarah yang
buruk
·
Mengurangi jam tidur dan memperkuat kondisi terjaga
dimalam hari untuk ibadah
·
Mempermudah seseorang untuk selalu tekun beribadah
·
Menyehatkan badan dan jiwa serta menolak penyakit
·
Menumbuhkan sikap mendahulukan suka membantu orang
lain dan mudah bersedekah.
5.
Zikir Malam Hari yang Lama
Zikir dalam arti sempit memiliki makna menyebut
asma-asma Allah dalam berbagai kesempatan. Sedangkan dalam arti luas mengingat
segala keagungan dan kasih saying Allah SWT yang telah diberikan,serta dengan
menaati perintahnya dan menjauhi larangannya.
Dua makna yang terkandung dalam lafal zikir menurut
At-Thabathabai:
·
Kegiatan psikologis yang memungkinkan seseorang
memelihara makna sesuatu yang diyakini berdasarkan pengetahuannya atau ia
berusaha hadir padanya (istikdhar)
·
Hadirnya sesuatu pada hati dan ucapan seseorang.
Zikir dapat mengembalikan kesadaran seseorang yang
hilang, sebab aktivitas zikir mendorong seseorang untuk mengingat, menyebut
kembali hal-hal yang tersembunyi dalam hatinya. Zikir juga mampu mengingatkan
seseorang bahwa yang membuat dan menyembuhkan penyakit hanyalah Allah SWT
semata, sehingga zikir mampu memberi sugesti penyembuhannya.
Melakukan zikir sama halnya nilainya dengan terapi
rileksasi, yaitu satu bentuk terapi dengan menekankan upaya mengantarkan pasien
bagaimana cara ia harus beristirahat dan bersantai-santai melalui pengurangan
ketegangan atau tekanan psikologis. Kunci utama keadaan jiwa mereka itu adalah
karena melakukan zikir.firman Allah SWT:
(yaitu) orang-orang yang beriman dan hati mereka
manjadi tenteram dengan mengingat Allah. Ingatlah, Hanya dengan mengingati
Allah-lah hati menjadi tenteram.(QS. Al-Ra’d:28)
Cara berzikir:
·
Zikir Jabar, zikir yang dikeraskan baik melalui suara
maupun gerakan. Fungsinya adalah untuk menormalisasikan kembali fungsi system
jaringan syaraf,sel-sel, dan semua organ tubuh.
·
Zikir Sirr, zikir yang diucapkan dalam hati.
Kesimpulan kelima terapi diatas adalah terapi dengan
doa dan munajat. Doa adalah permohonan kepada Allah SWT agar segala gangguan
dan penyakit jiwa yang dideritanya hilang. Allah yang memberikan penyakit dan
Dia pula yang memberikan kesembuhan. Doa dan munajah banyak didapat dalam
setiap ibadah, baik dalam shalat, puasa, haji, maupun dalam aktivitas
sehari-hari. Agar doa dapat diterima maka diperlukan syarat-syarat khusus,
diantaranya dengan membaca istigfar terlebih dahulu. Istigfar tidak hanya
berarti memohon ampunan kepada Allah, tetapi lebih esensial lagi yaitu memiliki
makna taubat.
Yang unik dalam psikoterapi islam adalah keberadaannya
sangat subyektif dan teosentris. Dalam melakukan terapi, masing-masing individu
memiliki tingkat kualitas yang berbeda seiring pengetahuan, pengalaman, dan
pengamalan yang dimiliki. Tentunya hal itu mempengaruhi tingkat kemujaraban
terapi yang diberikan. Perbedaan itu dapat dipahami sebab dalam islam
mempercayai adanya anugrah dan kekuatan agung diluar kekuatan manusia, yaitu
Tuhan.
PENUTUP
A.
Simpulan
Dalam
psikoterapi yang dirawat dan disembuhkan adalah manusia sebagai totalitas,
dikarenakan akibat ganguan emosional itu mengenai manusia seutuhnya. Demikian
pula manusia yang dikenai agama adalah manusia sebagai totalitas.
Tujuan
psikoterapi adalah mengolah kepribadian klien agar mampu menyesuaikan dan
merealisasikan dirinya sesuai dengan kodrat kemanusiaan. Realisasi ini dapat
diumpamakan seperti proses kelopak bunga yang merekah secara alamiah untuk
merealisasikan tumbuhnya kembang.
Para
ahli membantu proses merekahnya kelopaknya, sehingga bunga tampak indah. Dalam
psikoterapi, para ahli membantu proses realisasi dari proses fitrah kliennya
menuju kepada kehidupan yang bermakna, berarti, dan berguna. Makna hidup yang
tertinggi adalah pengabdian kepada Tuhan Yang Maha Pencipta diri dan alam
semesta
B.
Saran
Berdasarkan simpulan diatas, maka saran yang
dapat kami sampaikan adalah “setiap manusia memiliki masalah, utamanya dalam
masalah batin, dan yang dapat diselesaikan dengan cara sederhana yaitu, mendekatkan
diri kepada Allah”
DAFTAR PUSTAKA
Ahmad
Fauzi, H. Drs.1997. Psikologi Umum, Cet. 1.CV. Bandung: Pustaka Setia
Tim Penyusun FIP-IKIP YOGYAKARTA.1995.
Psikologi Umum Untuk Fakultas Tarbiyah
Komponen MKDK. Yogyakarta: Unit Percetakan dan
Penerbitan ( UPP ) IKIP Yogyakarta.
Abdul Aziz Ahyadi, Drs. H. 2005. Psikologi
Agama Kepribadian Muslim Pancasila. Cet. V. Bandung: Sinar Baru Algesindo
Djamaludin Ancok, Dr. Dan Fuad Nashori Suroso.
1995. Psikologi Islami. Yogyakarta: Pustaka Pelajar
Baharuddin,
Dr. 2004. Paradigma Psikologi Islam. Yogyakarta: Pustaka Pelajar
Komentar
Posting Komentar