Episode
Kecil Perjuangan K. H. Bashori Alwi Untuk Pesantren Ilmu Al quran (PIQ)
Singosari Malang
Suatu
hari, Kyai Bashori muda seang tenang dalam
perjalanan menuju pesantren Salafiyah, asuhan K.H. Abdul Hamid. Meskipun
terlihat tenang, namun pikiran beliau dipenuhi gagap gempita. Pikirannya
melayang menuju sepetak tanah di Singosari. Tanah itu rencananya akan beliau
bangun pondok. Tanah itu tidak luas, hanya 300 meter persegi, namun cukup
strategis karena terletak di pusat desa.
Dan
kali ini, tujuan kedatangan beliau kesana adalah untuk memohon barokah doa
kepada beliau. Agar pesantren yang akan dibangun mendapatkan pondasi tak kasat
mata yang kuat dari beliau.
Sesampainya
di sana. Ajaibnya, Kyai Hamid telah
menunggu di bawah pohon mangga dekat ndalem beliau. Kyai Hamid yang memang
terkenal kasyaf, tiba-tiba bertanya saat Kyai Bashori telah ada di depan
beliau.
“Pinten hektar pondokke, ya Syaikh?”
(berapa hektar pondoknya, wahai syaikh?)
Saat itu kyai Bashori terhenyak. Banyak
keheranan bernada ketakjuban yang berkecamuk dalam pikiran beliau. Darimana
Kyai Hamid tahu maksud kedatangannya? Apa makna panggilan Syaikh dari beliau?
Mengapa beliau menanyakan berapa hektar? Padahal tanah yang tersedia tak sampai
sekian luasnya?
Dengan tersipu Kyai Bashori menjawab,
“namung tigangatus meter, Kyai.” Kyai Hamid lantas mengajak Kyai Bashori untuk
berdoa bersama. Kyai Hamid memimpin doa:
“Lin naf’iy Wal Qobuul Wal Jamaal Wal
Kamaal” (Untuk kemanfaatan, penerimaan, keindahan dan kesempurnaan”
Al-faatihah.....”
Lantas Kyai Hamid masuk ke dalam Ndalem
beliau. Kyai Bashori muda menduga bahwa Kyai Hamid akan kembali keluar. Kyai Bashori
lantas duduk kembali di masjid dan menunggu. Rupanya Kyai Hamid tak kunjung
keluar. Salah seorang santri pondok lantas menghampiri Kyai Bashori dan memberi
tahu bahwa seperti itulah kebiasaan Kyai Hamid. Dan biasanya hal itu sudah
cukup.
Dengan hati legah Kyai Bashori pulang
dengan hati berbuncah. Entah berapa banyak biaya yang akan dihabiskan untuk
membangun pesantren. Entah dari mana uang itu muncul. Entah berapa lama waktu
yang dibutuhkan. Entah tantangan apa yang menghadang. Semua itu seakan menjadi
batu kerikil kecil yang mudah diterjang dengan semangat dan doa yang dibekalkan
oleh Kyai Hamid.
Dan...
Setelah bertahun-tahun.. berdirilah
PESANTREN ILMU AL QURAN (PIQ) yang sekarang. Pesantren dengan fokus pengajaran
Al quran. Pesantren yang tiap tahun harus menolak banyak santri karena
kapasitas tempat yang terbatas. Pesantren yang membuat pusing para pengurus
saat Ramadhan tiba, karena melihat wajah sedih puluhan pendaftar kegiatan Ramadhan
harus pulang dengan tangan kosong karena kuota yang selalu over (tahun kemarin
kuota habis dalam jangka waktu kurang dari 1 jam).
Dan...
Kini...dalam setiap kesempatan. Kyai
Bashori tak pernah bosan menceritakan mengenai kisah beliau yang meminta doa
kepada Kyai Hamid. Saat bercerita, rona bahagia, ketakjuban, selalu terdengar
jelas dalam tiap katanya. Betapa doa yang dulu tak sanggup beliau pahami,
sekarang penafsirannya terkuak dengan skenario menakjubkan dan penuh kejutan
tak terduga.
Nyatanya,
Ribuan santri telah beliau lahirkan
dengan keilmuan yang mumpuni lantas dibawa pulang dan disebarkan di kampung
halaman masing-masing.
Nyatanya,
Kitab tajwid susunan beliau telah
diajarkan di Amerika Serikat oleh seorang alumni.
Nyatanya,
Buku manasik susunan beliau telah dipakai
di Jeddah untuk mengantarkan para haji meraih haji mabrur.
Nyatanya, sudah ada 2 Ulama Australia
yang Talaqqi Al quran dan mengambil sanad kepada beliau untuk diajarkan, di
sebarkan di Negara asal (Yang terbaru adalah Syaikh Wissam Sa’ad, seorang
penyair dan pendakwah asal Australia yang juga kepala Yayasan Pendidikan Islam
dengan murid lebih dari 2000).
Nyatanya...
Bil Qolam (Metode ajar baca Al quran
untuk pemula ala PIQ) telah dipakai diberbagai pelosok Nusantara, bahkan tembus
ke Malaysia dan (proses) Thailand.
Inikah makna doa dari Kyai Hamid? Rupanya
hektar yang dimaksud adalah ini? Dan sekarang, siapa yang tak setuju jika gelar
Syaikh disematkan kepada Kyai Bashori Alwi?
Subhaanallah,
Inilah realitanya...
Kita semua menjadi saksi akan adanya
skenario Maha Indah gubahan Sang Maha Sutradara, Allah Subhaanallahu Wata’alaa.
Kita semua menjadi saksi bahwa impian akan menjadi suatu niscaya jika ia tak
lelah diraih.
Mari kita renungkan, ternnyata dibalik
sebuah impian, selalu menyimpan kisah perjuangan berjilid-jilid, selalu
tersemat hikmah tak terkalkulasi, selalu mengandung asa yang tak lelah
dibarakan, selalu teruntai ribuan doa dalam ribuan sujud malam dan tengadahan
tangan.
Yak, seperti kata orang...
Semua butuh waktu,
Semua butuh proses,
Semua butuh perjuangan,
Semua butuh harapan,
Semua butuh doa,
Namun......
Percayalah.....
Semua akan Indah pada Waktunya.
Semoga kita semua diberikan berkah dari
Kyai Hamid dan bisa belajar dari perjuangan Kyai Bashori Alwi.
Sudi kiranya, kau berikan sejenak
waktunya untuk bertawassul pada beliau berdua.....
Al Faatihah......
(Singosari, 26 Januari 2017).
By : Santri PIQ
Komentar
Posting Komentar