SEJARAH PENDIDIKAN ISLAM DI INDONESIA

Gambar
A. Sejarah Pendidikan Islam di Indonesia Masuknya Islam ke Indonesia membawa tradisi pendidikan yang erat kaitannya dengan dakwah. Pada awalnya, pendidikan dilakukan secara sederhana di surau, masjid, atau rumah para ulama. Materi pembelajaran berfokus pada dasar-dasar agama, seperti membaca Al-Qur’an, tata cara ibadah, serta pembinaan akhlak. Seiring perkembangan zaman, lahirlah lembaga pendidikan tradisional yaitu pesantren. Pesantren berfungsi sebagai pusat keilmuan Islam sekaligus benteng moral masyarakat. Para santri dididik dengan kitab kuning (turats), mencakup ilmu fiqih, akidah, tasawuf, dan ilmu alat seperti nahwu dan sharaf. Al-Zarnuji dalam Ta‘lim al-Muta‘allim menekankan pentingnya sanad dalam pendidikan: العِلْمُ دِينٌ يُدَانُ بِهِ، فَيَنْبَغِي لِطَالِبِ العِلْمِ أَنْ يَنْظُرَ عَمَّنْ يَأْخُذُ دِينَهُ “Ilmu adalah bagian dari agama yang dengannya manusia beragama. Maka seorang penuntut ilmu harus memperhatikan dari siapa ia mengambil ilmunya.” Tradisi pesantren membuktika...

Perjuangan K. H. Bashori Alwi



Episode Kecil Perjuangan K. H. Bashori Alwi Untuk Pesantren Ilmu Al quran (PIQ) Singosari Malang

Suatu hari, Kyai Bashori muda seang tenang dalam perjalanan menuju pesantren Salafiyah, asuhan K.H. Abdul Hamid. Meskipun terlihat tenang, namun pikiran beliau dipenuhi gagap gempita. Pikirannya melayang menuju sepetak tanah di Singosari. Tanah itu rencananya akan beliau bangun pondok. Tanah itu tidak luas, hanya 300 meter persegi, namun cukup strategis karena terletak di pusat desa.
Dan kali ini, tujuan kedatangan beliau kesana adalah untuk memohon barokah doa kepada beliau. Agar pesantren yang akan dibangun mendapatkan pondasi tak kasat mata yang kuat dari beliau.
Sesampainya di sana.  Ajaibnya, Kyai Hamid telah menunggu di bawah pohon mangga dekat ndalem beliau. Kyai Hamid yang memang terkenal kasyaf, tiba-tiba bertanya saat Kyai Bashori telah ada di depan beliau.
“Pinten hektar pondokke, ya Syaikh?”
(berapa hektar pondoknya, wahai syaikh?)

Saat itu kyai Bashori terhenyak. Banyak keheranan bernada ketakjuban yang berkecamuk dalam pikiran beliau. Darimana Kyai Hamid tahu maksud kedatangannya? Apa makna panggilan Syaikh dari beliau? Mengapa beliau menanyakan berapa hektar? Padahal tanah yang tersedia tak sampai sekian luasnya?

Dengan tersipu Kyai Bashori menjawab, “namung tigangatus meter, Kyai.” Kyai Hamid lantas mengajak Kyai Bashori untuk berdoa bersama. Kyai Hamid memimpin doa:
“Lin naf’iy Wal Qobuul Wal Jamaal Wal Kamaal” (Untuk kemanfaatan, penerimaan, keindahan dan kesempurnaan” Al-faatihah.....”

Lantas Kyai Hamid masuk ke dalam Ndalem beliau. Kyai Bashori muda menduga bahwa  Kyai Hamid akan kembali keluar. Kyai Bashori lantas duduk kembali di masjid dan menunggu. Rupanya Kyai Hamid tak kunjung keluar. Salah seorang santri pondok lantas menghampiri Kyai Bashori dan memberi tahu bahwa seperti itulah kebiasaan Kyai Hamid. Dan biasanya hal itu sudah cukup.

Dengan hati legah Kyai Bashori pulang dengan hati berbuncah. Entah berapa banyak biaya yang akan dihabiskan untuk membangun pesantren. Entah dari mana uang itu muncul. Entah berapa lama waktu yang dibutuhkan. Entah tantangan apa yang menghadang. Semua itu seakan menjadi batu kerikil kecil yang mudah diterjang dengan semangat dan doa yang dibekalkan oleh Kyai Hamid.

Dan...

Setelah bertahun-tahun.. berdirilah PESANTREN ILMU AL QURAN (PIQ) yang sekarang. Pesantren dengan fokus pengajaran Al quran. Pesantren yang tiap tahun harus menolak banyak santri karena kapasitas tempat yang terbatas. Pesantren yang membuat pusing para pengurus saat Ramadhan tiba, karena melihat wajah sedih puluhan pendaftar kegiatan Ramadhan harus pulang dengan tangan kosong karena kuota yang selalu over (tahun kemarin kuota habis dalam jangka waktu kurang dari 1 jam).

Dan...

Kini...dalam setiap kesempatan. Kyai Bashori tak pernah bosan menceritakan mengenai kisah beliau yang meminta doa kepada Kyai Hamid. Saat bercerita, rona bahagia, ketakjuban, selalu terdengar jelas dalam tiap katanya. Betapa doa yang dulu tak sanggup beliau pahami, sekarang penafsirannya terkuak dengan skenario menakjubkan dan penuh kejutan tak terduga.

Nyatanya,
Ribuan santri telah beliau lahirkan dengan keilmuan yang mumpuni lantas dibawa pulang dan disebarkan di kampung halaman masing-masing.

Nyatanya,
Kitab tajwid susunan beliau telah diajarkan di Amerika Serikat oleh seorang alumni.

Nyatanya,
Buku manasik susunan beliau telah dipakai di Jeddah untuk mengantarkan para haji meraih haji mabrur.

Nyatanya, sudah ada 2 Ulama Australia yang Talaqqi Al quran dan mengambil sanad kepada beliau untuk diajarkan, di sebarkan di Negara asal (Yang terbaru adalah Syaikh Wissam Sa’ad, seorang penyair dan pendakwah asal Australia yang juga kepala Yayasan Pendidikan Islam dengan murid lebih dari 2000).

Nyatanya...
Bil Qolam (Metode ajar baca Al quran untuk pemula ala PIQ) telah dipakai diberbagai pelosok Nusantara, bahkan tembus ke Malaysia dan (proses) Thailand.

Inikah makna doa dari Kyai Hamid? Rupanya hektar yang dimaksud adalah ini? Dan sekarang, siapa yang tak setuju jika gelar Syaikh disematkan kepada Kyai Bashori Alwi?

Subhaanallah,
Inilah realitanya...
Kita semua menjadi saksi akan adanya skenario Maha Indah gubahan Sang Maha Sutradara, Allah Subhaanallahu Wata’alaa. Kita semua menjadi saksi bahwa impian akan menjadi suatu niscaya jika ia tak lelah diraih.

Mari kita renungkan, ternnyata dibalik sebuah impian, selalu menyimpan kisah perjuangan berjilid-jilid, selalu tersemat hikmah tak terkalkulasi, selalu mengandung asa yang tak lelah dibarakan, selalu teruntai ribuan doa dalam ribuan sujud malam dan tengadahan tangan.

Yak, seperti kata orang...
Semua butuh waktu,
Semua butuh proses,
Semua butuh perjuangan,
Semua butuh harapan,
Semua butuh doa,
Namun......
Percayalah.....
Semua akan Indah pada Waktunya.
Semoga kita semua diberikan berkah dari Kyai Hamid dan bisa belajar dari perjuangan Kyai Bashori Alwi.

Sudi kiranya, kau berikan sejenak waktunya untuk bertawassul pada beliau berdua.....
Al Faatihah......

(Singosari, 26 Januari 2017). 

By : Santri PIQ

    

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Contoh makalah Malcolm Baldrige National Quality Award

RENCANA PELAKSANAAN PEMBELAJARAN TPA

Contoh makalah Daulah Abbasiyah