Postingan

Menampilkan postingan dari Februari, 2017

SEJARAH PENDIDIKAN ISLAM DI INDONESIA

Gambar
A. Sejarah Pendidikan Islam di Indonesia Masuknya Islam ke Indonesia membawa tradisi pendidikan yang erat kaitannya dengan dakwah. Pada awalnya, pendidikan dilakukan secara sederhana di surau, masjid, atau rumah para ulama. Materi pembelajaran berfokus pada dasar-dasar agama, seperti membaca Al-Qur’an, tata cara ibadah, serta pembinaan akhlak. Seiring perkembangan zaman, lahirlah lembaga pendidikan tradisional yaitu pesantren. Pesantren berfungsi sebagai pusat keilmuan Islam sekaligus benteng moral masyarakat. Para santri dididik dengan kitab kuning (turats), mencakup ilmu fiqih, akidah, tasawuf, dan ilmu alat seperti nahwu dan sharaf. Al-Zarnuji dalam Ta‘lim al-Muta‘allim menekankan pentingnya sanad dalam pendidikan: العِلْمُ دِينٌ يُدَانُ بِهِ، فَيَنْبَغِي لِطَالِبِ العِلْمِ أَنْ يَنْظُرَ عَمَّنْ يَأْخُذُ دِينَهُ “Ilmu adalah bagian dari agama yang dengannya manusia beragama. Maka seorang penuntut ilmu harus memperhatikan dari siapa ia mengambil ilmunya.” Tradisi pesantren membuktika...

Perjuangan K. H. Bashori Alwi

Gambar
Episode Kecil Perjuangan K. H. Bashori Alwi Untuk Pesantren Ilmu Al quran (PIQ) Singosari Malang Suatu hari, Kyai Bashori muda seang tenang dalam perjalanan menuju pesantren Salafiyah, asuhan K.H. Abdul Hamid. Meskipun terlihat tenang, namun pikiran beliau dipenuhi gagap gempita. Pikirannya melayang menuju sepetak tanah di Singosari. Tanah itu rencananya akan beliau bangun pondok. Tanah itu tidak luas, hanya 300 meter persegi, namun cukup strategis karena terletak di pusat desa. Dan kali ini, tujuan kedatangan beliau kesana adalah untuk memohon barokah doa kepada beliau. Agar pesantren yang akan dibangun mendapatkan pondasi tak kasat mata yang kuat dari beliau. Sesampainya di sana.   Ajaibnya, Kyai Hamid telah menunggu di bawah pohon mangga dekat ndalem beliau. Kyai Hamid yang memang terkenal kasyaf, tiba-tiba bertanya saat Kyai Bashori telah ada di depan beliau. “Pinten hektar pondokke, ya Syaikh?” (berapa hektar pondoknya, wahai syaikh?) Saat itu kyai Ba...

Puisi "MOM"

MOM Mom Malaikat yang tak bersayap Tangan yang tulus memegang erat pertama Makhluk yang memendam berjuta rasa Tak ada kesedihan di matanya sedikitpun Jika aku bersamanya Mom Aku benci, benci sekali jika engkau selalu mengerti Mengerti tentang sesuatu yang ku pendam Padahal aku ingin belajar menjadi sepertimu Yang tak pernah membuka keluh kesahnya Di depan anak-anakmu Mom Engkau selalu tersenyum manakala aku tersenyum Engkau merasa aku membunuhmu jika aku sakit di depanmu Engkau mengeluarkan kata-kata yang mengandung umpan Umpanmu adalah kekuatan Iya itu lah kekuatan untuk anak-anakmu Mom Sanggupkah aku bernafas jika engkau hilang di depan mataku Saat tetaplah genggam tangan lemah ini Karena aku tau tanganmu bukanlah tangan biasa Tangan lembut dengan berjuta kekuatan